08 December 2021, 14:42 WIB

Mendag: Pengusaha Waralaba mesti Adaptasi Kondisi Normal Baru


Fetry Wuryasti | Ekonomi

MENTERI Perdagangan (Mendag) Muhammad Lutfi menyampaikan, para pelaku usaha waralaba harus mampu beradaptasi dengan kondisi normal baru ketika masyarakat lebih banyak beraktivitas di dalam rumah.

Adaptasi ini perlu dilakukan dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang berdampak pada dunia usaha, termasuk sektor waralaba.

“Pemerintah terus mendorong pengembangan bisnis waralaba di dalam negeri karena potensi pasar Indonesia yang besar dan menjanjikan. Pada 2020, bisnis waralaba di Indonesia masih tetap dapat berkontribusi dalam penyerapan lebih dari 628 ribu tenaga kerja dan mencatat omzet sebesar Rp54,4 miliar,” ungkap Mendag Lutfi, melalui keterangan yang diterima, Rabu (8/12), pada pembukaan Indonesia Franchise Forum-Bizfest 2021.

Menurut Lutfi, Indonesia tidak lagi menjadi pasar bagi waralaba asing. Pasalnya, waralaba lokal sudah menjadi tuan rumah dan menguasai pasar dalam negeri, bahkan mulai merambah pasar regional.

"Kemendag cukup optimistis, dengan kolaborasi pemerintah, dunia usaha dan asosiasi, waralaba Indonesia dapat menguasai dan menembus dan bersaing di pasar global,” tegas Mendag.

Bizfest 2021 merupakan salah satu bagian dari Gerakan Nasional Ayo Berbisnis dan diselenggarakan secara hibrida oleh Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), dan Asosiasi Lisensi Indonesia (Asensi) serta didukung sepenuhnya oleh Kementerian Perdagangan.

Sementara itu, Ketua AFI Anang Sukandar menyampaikan dalam sambutannya, Bizfest 2021 diharapkan dapat mendorong peningkatan konsumsi domestik untuk menarik investasi guna terus memutar roda perekonomian nasional.

"Dengan ini, pertumbuhan ekonomi diproyeksikan positif lagi di titik 5,5%—6%. AFI mendukung dan mengapresiasi dan berharap kegiatan ini dapat membantu peluang bisnis menjadi waralaba dan unggulan yang dapat menjadi produk berlisensi,” jelas Anang. 

Baca jugaLega, Permendag 23 Dijalankan Tanpa Revisi Pasal 11

Sementara itu, Ketua WALI Tri Raharjo mengemukakan, berangkat dari banyaknya gerai usaha yang tutup di awal pandemi Covid-19, berbagai asosiasi turut mendorong kegiatan ini dan mencanangkan gerakan nasional Ayo Berbisnis untuk mencapai dua hal.

Pertama, transaksi di gerai waralaba kembali pulih. Kedua, tumbuh wirausaha-wirausaha baru melalui waralaba, lisensi, dan peluang usaha.

“Berdasarkan data yang dihimpun pada kuartal IV-2021, 25% pelaku usaha sudah pulih 100%. Angin segar itu cukup menggembirakan bagi kita semua. Artinya, bisnis telah berangsur pulih secara umum,” ujar Tri.

Tri juga mengungkapkan lima strategi bisnis untuk menghadapi 2022. Pertama, pelaku usaha harus mampu beradaptasi secara cepat dan tepat terhadap era normal baru agar tetap relevan dengan kebutuhan konsumen.

Kedua, inovasi merupakan hal yang penting. Ketiga, merujuk marketing in crisis, membuat strategi yang tepat saat krisis. Misalnya, menggenjot penjualan saat pelonggaran untuk bersiap saat pembatasan. Keempat, membangun jaringan, kerja tim, dan kolaborasi. Kelima, mengelola keuangan dan skenario pemasaran mengantisipasi pembatasan.

Adapun Ketua Asosiasi Lisensi Indonesia (Asensi) Susanty Widjaya menjelaskan, berdasarkan data yang dihimpun pada kuartal III 2021, terjadi pemulihan ekonomi di titik 3 persen serta industri lisensi dan franchise naik 25%—30%.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Oke Nurwan, menegaskan, PPKM belum akan berhenti selama pandemi Covid-19 belum dideklarasikan berakhir. Pembukaan kegiatan perekonomian dan aktivitas sosial lainnya disesuaikan kinerja penanganan pandemi Covid-19.

Dengan memberi lisensi, Oke menambahkan, pemilik usaha dapat mengembangkan usaha tanpa modal besar karena berasal dari masyarakat yang membeli lisensinya.

"Yang boleh dilisensikan adalah peluang usaha yang sudah menguntungkan selama lima tahun. Hal itu diawasi pemerintah melalui Kemendag,” tegas Oke.

Perwakilan KADIN Indonesia Yongky Susilo, dalam paparan business outlook 2022 sebagai prediksi untuk menghadapi 5—10 tahun ke depan. Menurutnya, situasi sudah mendekati normal. Masyarakat telah kembali  memenuhi jalanan, restoran, dan pusat perbelanjaan. Bisnis pun banyak berubah selama dua tahun terakhir. Mengantisipasi 2022, lepas dari varian Omicron, adalah the year of cooking.

"Tahun depan adalah saatnya berbisnis, berwirausaha, dan berbelanja. Berbelanja, dalam skala makro, dapat memutar roda perekonomian nasional,” jelas Yongky. (A-2)

BERITA TERKAIT