05 December 2021, 19:22 WIB

Perubahan Kebijakan The Fed dan Omicron Tentukan Fluktuasi Pasar Saham


M. Ilham Ramadhan Avisena |

POTENSI perubahan kebijakan bank sentral global yang di pimpin oleh The Fed menjelang pertemuan di tengah bulan menjadi salah satu katalis penting yang membuat pasar saham lebih berfluktuasi beberapa pekan ke depan.

"Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang konsolidasi melemah di awal pekan sebelum menguat diakhir pekan dengan support di level 6,484 sampai 6,400 dan resistance di level 6,647 sampai 6,700," ujar Direktur PT Ekuator Swarna Investama Hans Kwee melalui keterangan tertulis, Minggu (5/12).

Baca juga: Tingkatkan Produksi Padi dengan Meratakan Produktivitas Jawa-luar Jawa

Dia bilang, pembuat kebijakan Fed tampaknya akan mempercepat penghentian program pembelian obligasi. Itu seiring respon mereka menanggapi pengetatan pasar tenaga kerja dan bergerak untuk membuka pintu bagi kenaikan suku bunga lebih awal dari yang diproyeksikan.

Chairman the Fed, Jerome Powell juga mengatakan minggu ini bahwa bank sentral akan mempertimbangkan penghentian lebih cepat dari program pembelian obligasi, mendorong spekulasi bahwa kenaikan suku bunga juga akan diajukan. Powell menegaskan kembali dalam kesaksian di depan Kongres Amerika, bahwa dia bersama pembuat kebijakan akan mempertimbangkan tindakan yang lebih cepat pada pertemuan 14-15 Desember.

Hans juga menilai, kepastian varian Omicron covid-19 dinilai juga sangat mempengaruhi pasar keuangan. Bila penyebaran varian Omicron cepat tetapi tidak menimbulkan sakit parah, maka pasar saham akan segera bangkit kembali.

"Investor terus mencermati perkembangan varian baru covid-19 yaitu Omicron, setelah kasus pertama di Amerika Serikat dikonfirmasi pada Rabu," kata Hans.

Pemerintahan Biden bereaksi terhadap berita bahwa kasus Omicron telah dilaporkan di California dengan meminta bisnis untuk melanjutkan persyaratan vaksinasi, meski mandat pemerintah itu dihentikan di pengadilan sambil menunggu peninjauan ulang. Faktor tersebut mempengaruhi pergerakan pasar keuangan global dan bila penyebarannya menjadi cepat membuka potensi koreksi pasar saham di jangka pendek.

"Bila covid 19 Varian Omicron lebih menular, orang sakit lebih parah dari varian delta dan menimbulkan rawat inap yang lebih banyak berpotensi menimbulkan koreksi pasar keuangan yang lebih kuat dan dalam. Tetapi bila sakitnya tidak parah maka pasar saham hanya koreksi terbatas," terang Hans.

Pasalnya, gejolak pasar keuangan saat ini disebabkan oleh munculnya varian baru virus covid 19 Omicron. Tetapi hal ini menawarkan investor kesempatan untuk mengambil posisi menghadapi kemungkinan tekanan turun. Omicron bisa menjadi katalis untuk menajamkan kurva imbal hasil, rotasi dari growth asset ke value, sebagai menerima manfaat dari aksi jual di covid dan penguncian, serta reli ketika pembukaan kembali.

"Aksi jual di segmen ini baru-baru ini, sebagai peluang untuk membeli saat harga turun dalam cyclicals asset, komoditas, dan sektor yang diuntungkan pembukaan kembali, serta obligasi ketika imbal hasil yang lebih tinggi," pungkas Hans. (OL-6)
 

BERITA TERKAIT