05 December 2021, 15:13 WIB

Tingkatkan Produksi Padi dengan Meratakan Produktivitas Jawa-luar Jawa


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi


SALAH satu upaya untuk meningkatkan produktivitas beras di Indonesia adalah dengan menutup kesenjangan produktivitas di Jawa dan luar Jawa melalui program intensifikasi, salah satunya adalah optimalisasi lahan.

Demikian disampaikan peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Indra Setiawan melalui siaran pers, Minggu (5/12). "Produksi beras memang mengalami peningkatan. Tetapi, sekitar 53% produksi beras nasional berada di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Masih terdapat kesenjangan yang besar antara produksi di Jawa dan Luar Jawa yang produksinya rata-rata di bawah satu juta ton," ujarnya.

Produktivitas beras di luar Jawa memang lebih kecil yaitu 4,58 ton per hektar, dibandingkan dengan di Jawa yang mencapai 5,64 ton per hektar. Padahal 50% lahan pertanian padi berada di luar Jawa.

Selain itu, terdapat tren penurunan luas lahan pertanian dari tahun ke tahun. BPS memperkirakan penurunan luas lahan sebanyak 141,95 ribu hektare atau turun sebesar 1,14%.Penurunan ini terjadi seiring konversi lahan akibat aktivitas pembangunan. Hal ini semakin memperlihatkan urgensi peningkatan produktivitas melalui optimalisasi lahan.

Intensifikasi lahan juga merupakan salah satu praktik pertanian yang berkelanjutan yang dapat memastikan bahwa produksi tanaman pangan tidak mengancam serta merusak lingkungan.

Peningkatan produktivitas padi melalui intensifikasi juga diperlukan untuk menjawab kebutuhan pangan penduduk Indonesia yang jumlahnya semakin meningkat. Intensifikasi juga merupakaan jawaban atas tantangan keterbatasan lahan.

Rendahnya produktivitas padi nasional, salah satunya, berdampak pada harga beras di Indonesia yang masih lebih mahal dari harga internasional. Menurut PIHPS, harga rata-rata beras Indonesia pada 2020 di pedagang besar sebesar Rp10.473/kg. Sementara Bank Dunia mencatat harga beras di tingkat internasional sebesar Rp6.886/kg.

Hal ini salah satunya karena biaya produksi beras di Indonesia lebih tinggi dari negara lain, seperti Vietnam yang biaya produksinya 3 kali lebih rendah. Biaya produksi tentunya bisa ditekan dengan penggunaan teknologi pertanian yang efisien.

"Intensifikasi yang mendorong penggunaan teknologi pertanian tentu akan menjadi kesempatan untuk menurunkan biaya produksi. Penggunaan teknologi pertanian akan meningkatkan efisiensi baik sebelum maupun setelah panen," ungkap Indra.

Untuk meratakan produktivitas, penelitian CIPS merekomendasikan perbaikan akses irigasi, penggunaan pupuk kimia yang berimbang, dan penggunaan teknologi pertanian modern untuk memaksimalkan potensi lahan. Penggunaan bibit unggul juga perlu didorong dan intensifikasi lahan juga hendaknya dilakukan di wilayah yang tingkat produktivitasnya lebih rendah daripada wilayah lain di Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) belum lama ini memperkirakan produksi beras pada 2021 sebesar 55,27 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), atau naik 1,14% dari tahun 2020. Peningkatan produksi ini harus diikuti dengan metode produksi yang efisien untuk menurunkan kehilangan padi pascapanen. (E-3)

BERITA TERKAIT