01 December 2021, 13:15 WIB

Komit untuk Terus Berkembang dan Bertumbuh Bersama Masyarakat


Mediaindonesia.com | Ekonomi

PELAKSANAAN pembangunan, upaya menyejahterakan masyarakat, dan usaha mencapai tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Diperlukan kolaborasi berbagai pihak, termasuk kalangan swasta. Dalam hal ini, Unilever Indonesia Foundation (UIF) siap  mengambil peran.

Corporate Affairs & Sustainability Director Unilever Indonesia, Nurdiana Darus, menjelaskan, Unilever senantiasa menjalankan ide-ide pembangunan berkelanjutan dan tumbuh bersama dengan masyarakat. Hal itu berawal dari konsep visioner mantan Chairman dan CEO Unilever Indonesia (periode 1998-2003), Nihal Kaviratne.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Pemberdayaan Ekonomi Pesantren

“Sebagai pemimpin perusahaan, ia sangat memperhatikan upaya untuk membangun budaya perusahaan melalui transformasi organisasi, tata kelola perusahaan, dan tanggung jawab sosial perusahaan," Nurdiana dalam diskusi bersama media.

Pada saat itu, lanjutnya, program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan oleh Unilever Indonesia masih tidak merata dan belum terintegrasi, sehingga hasilnya jauh dari optimal dan tidak berkelanjutan. Kemudian, pada 2000, UIF pun didirikan untuk melakukan berbagai program dan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) secara terpadu.
 
“Selama 21 tahun, UIF telah memberikan begitu banyak manfaat positif bagi masyarakat Indonesia, lintas generasi dan lintas provinsi. Program yang dijalankan tidak lagi hanya sebatas CSR dan sekadar kegiatan amal yang temporer yang kariatif. Namun seluruh program yang dijalankan oleh UIF, merupakan program dan kegiatan berkelanjutan yang menyatu dengan strategi bisnis perusahaan,” papar Nurdiana.

Seiring dengan komitmen perusahaan untuk membangun bisnis yang berkelajutan dan bertanggung jawab semakin kuat, peran UIF tak dapat dipungkiri menjadi sangat krusial bagi perusahaan untuk mengimplementasikan berbagai kegiatan yang bertujuan memberikan kebaikan dan manfaat positif tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga lingkungan. Untuk itu, UIF memiliki sasaran besar pada perubahan nyata dan positif yang berkelanjutan untuk planet dan masyarakat.

Di bidang lingkungan, program yang dijalankan UIF antara lain terkait pemberdayaan program bank sampah. Hingga saat ini, UIF terus aktif memberikan edukasi dan membina lebih dari 3.589 bank sampah di 37 kabupaten/kota dan 12 provinsi Indonesia. Hingga kini, pengumpulan sampah plastik dari jaringan bank sampah Unilever Indonesia telah mencapai lebih dari 13.200 ton.
 
Di bidang pertanian, UIF terus berupaya untuk melindungi dan membantu peningkatan taraf hidup para petani yang menjadi mitra Unilever Indonesia dalam menghasilkan bahan baku pertanian yang berkualitas dan sesuai standar.

“Petani kecil memegang peran penting dalam rantai suplai produk pertanian, khususnya produk kecap kami,  yang membutuhkan kedelai hitam sebagai bahan dasar utama. Oleh karenanya, UIF mengembangkan berbagai program untuk meningkatkan produktivitas budi daya kedelai hitam yang sekaligus memenuhi standar lingkungan, sosial dan ekonomi,” jelas Nurdiana.

UIF memberikan pelatihan kepada para petani kedelai hitam melalui Program Pengembangan Petani Kedelai Hitam yang diawali sejak 2001. Dalam program pendampingan tersebut UIF fokus memberikan bantuan teknis, akses ke permodalan, pengembangan benih, pemberdayaan perempuan, pengembangan koperasi, dan jaminan pasar.

Di bidang kesehatan, melalui Program Sekolah Sehat, UIF berupaya menumbuhkan perilaku menjaga kebersihan dan kesehatan anak-anak sedari dini, pemberdayaan kepada UKS ,serta menciptakan perubahan perilaku dengan cara memberikan edukasi dan penguatan mengenai pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di sekolah maupun di rumah kepada satuan pendidikan.
 
Program ini bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Kementerian Kesehatan, Institusi professional dan mitra NGO lokal. Program Sekolah Sehat yang terintegrasi ini telah menjangkau lebih dari 10 juta anak di lebih dari 40,000 sekolah dan pesantren di berbagai wilayah Indonesia. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT