30 November 2021, 19:45 WIB

Inflasi Zona Euro Melonjak ke Rekor Tertinggi


Mediaindonesia.com |

MEONJAKNYA harga energi membawa inflasi zona euro ke rekor tertinggi pada November. Ini menantang perlawanan Bank Sentral Eropa untuk pengetatan kebijakan moneter lebih awal dari yang direncanakan.

Pada Selasa (30/11), Eurostat mencatat harga barang naik 4,9% bulan ini atau naik dari 4,1% bulan sebelumnya. Ini angka tertinggi sejak badan statistik resmi tersebut mulai mengumpulkan data lebih dari 20 tahun lalu. Angka tersebut lebih dari dua kali lipat target ECB sebesar 2%.

Inflasi telah melonjak di seluruh dunia karena permintaan dan ekonomi telah bangkit kembali dari penguncian virus korona dan munculnya varian Omicron menciptakan ketidakpastian baru. Biaya hidup yang lebih tinggi sedang dialami di seluruh zona euro memberi tekanan pada ECB untuk mengurangi stimulus dan mempertimbangkan untuk menaikkan suku bunga lebih awal dari yang direncanakan.

Namun lembaga yang berbasis di Frankfurt sejauh ini berkeras bahwa percepatan inflasi di zona 19 negara bersifat sementara dan waspada untuk bertindak terlalu cepat yang berpotensi menghambat pemulihan pandemi. Pertemuan kebijakan berikutnya pada 16 Desember.

Permintaan yang tinggi setelah pelonggaran pembatasan virus korona telah mendorong kenaikan harga energi dan menyebabkan kekurangan bahan utama dan tenaga kerja di seluruh dunia. "Jika kita memperketat kebijakan moneter sekarang, itu tidak akan menambah satu kapal kontainer atau sopir truk," kata kepala ECB Christine Lagarde dalam wawancara dengan surat kabar Sueddeutsche Jerman yang diterbitkan Senin.

Kesengsaraan dan kekurangan rantai pasokan saat ini akan berkurang seiring waktu, katanya, dengan ECB memperkirakan bahwa inflasi mulai turun kembali tahun depan. 

Baca juga: Harga Emas Menguat usai Pernyataan CEO Moderna terkait Omicron

Seorang anggota dewan eksekutif ECB, Isabel Schnabel, telah memperkirakan sebelumnya pada November bahwa inflasi akan mencapai level tertinggi bulan ini sejak euro diperkenalkan pada 1999. Laju kenaikan harga kemudian akan melambat selama tahun mendatang. (AFP/OL-14)

BERITA TERKAIT