30 November 2021, 10:50 WIB

Airlangga : Pemakaian Teknologi Hijau di Proyek Strategis Kunci Transisi Energi


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

DALAM mewujudkan transisi energi, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menekankan pentingnya pemakaian teknologi hijau di berbagai sektor usaha guna menekan emisi karbon. 

Teknologi hijau merupakan teknik untuk menghasilkan energi dan/atau produk yang tidak mencemari lingkungan hidup sekitar. Indonesia berkomitmen untuk mencapai net zero emission atau karbon netral di 2060 atau bisa lebih cepat.

"Dalam transisi kuncinya adalah bekerja maksimal dengan teknologi hijau sehingga produk yang dihasilkan ramah lingkungan. Teknologi hijau (harus) jadi bagian yang diterapkan di proyek-proyek strategis," ungkapnya dalam 2nd International Convention on Indonesian Upstream Oil and Gas 2021 (IOG 2021), di Nusa Dua Convention Center, Bali, Selasa (30/11).

Baca juga: APRIL Group Catatkan Kemajuan Realisasi Komitmen Berkelanjutan 2030

Dia menuturkan, beberapa kebijakan yang sudah dilakukan pemerintah dalam pemakaian teknologi hijau misalnya, pengembangan penerapan kebijakan mandatory biodiesel 30% (B30) hingga B100. Kemudian, pemakaian bioavtur serta penggunaan teknologi ramah lingkungan sektor transportasi dan industri.

Hal penting lain, lanjut Menko Perekonomian adalah komitmen pemerintah dan stakeholder dalam transisi energi ialah mengarah pada peningkatan penggunaan energi baru terbarukan (EBT). 

Namun, dia menegaskan, penggunaan minyak dan gas bumi juga masid dibutuhkan dalam menopang energi primer.

"Tetapi, tetap membutuhkan minyak dan gas bumi sebagai sumber energi dan bahan baku utama. Gas sebagai sumber daya energi yang emisi rendah tentu memberikan peran untuk menggantikan energi fosil," jelasnya. 

Persiapan matang dalam transisi energi perlu dilakukan agar Indonesia bisa mendukung petumbuhan ekonomi dengan ketersediaan energi dengan harga terjangkau, tambahnya. 

Misalnya, pada tahun lalu Kementerian ESDM disebut telah memberikan dukungan untuk harga gas kepada industri lebih kompetitif.

"Sehingga banyak sektor hilir yang mampu bersaing dan ekspor produk. Kebijakan tersebut perlu diapresiasi sehingga gilir dari kegiatan hulu migas terus berkembang," pungkasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT