29 November 2021, 10:16 WIB

Industri Manufaktur pada Kondisi “New Normal”


mediaindonesia.com |

MENANGGAPI persiapan industri dalam menghadapi kondisi 'new normal' seperti saat ini, Industri manufaktur sedang mencoba beradaptasi untuk tetap produktif sekaligus tetap menjaga kondisi kesehatan karyawan. Hal ini diungkapkan oleh Industrial IoT Evangelist of Factory Automations Systems Group, Mitsubishi Electric Corporation Hajime Sugiyama.

Dari sekian upaya untuk melindungi diri dan sesama pekerja adalah dengan mewajibkan penggunaan pelindung wajah dan masker, jaga jarak, hingga menerapkan penggunaan Alat Perlindung Diri (APD).

Penggunaan APD menurut Sugiyama, tentu relevan bila dilihat dari sudut pandang standard kebersihan dan lingkungan higienis, khususnya pada industri makanan, minuman, obat-obatan atau bahkan elektronik dan semikonduktor yang sensitif. Akan tetapi untuk lingkungan yang panas dan lembab justru dapat meningkatkan risiko kelelahan.

Ide penggunaan partisi di antara pekerja juga mungkin bukan menjadi solusi yang tepat karena berpotensi menciptakan keterbatasan ruang gerak, yang menghambat akses ke perangkat pengendali mesin, termasuk saat harus melakukan tindakan cepat ke perangkat emergency (E-STOP) dalam situasi darurat.

"Banyak industri manufaktur yang menerapkan jaga jarak antar pekerja melalui pembagian jadwal kerja secara bergiliran. Sehingga akan ada sedikit orang yang bekerja di saat yang bersamaan untuk mencegah penyebaran virus di dalam pabrik. Tetapi hal ini akan menghadirkan serangkaian tantangan baru lagi," ujar Sugiyama. 

Teknologi Robot Pintar

Saat menerapkan pembagian jadwal kerja secara bergiliran, maka pabrik akan mengalami penurunan produktivitas. Sementara  untuk membangun solusi otomatisasi yang luas membutuhkan banyak waktu, anggaran, perencanaan, dan hal itu menurut Sugiyama sulit untuk dilakukan.

"Salah satu solusi yang tepat dan memungkinkan adalah memperbanyak penggunaan robot kolaboratif berbasis industri seperti MELFA ASSISTA yang dengan cepat digunakan, aman dalam berinteraksi dengan manusia, dan sangat fleksibel sehingga dapat dengan cepat dan mudah dilatih untuk melakukan berbagai tugas," paparnya.

Selain tidak perlu harus memiliki keahlian robotika khusus untuk mengoperasikannya, penggunaan robot kolaboratif dapat menghemat biaya operasional. Co-Bot dilengkapi perangkat lunak AI dengan solusi seperti e-F@ctory Alliance Realtime Robotics sehingga dapat diarahkan secara dinamis di sekitar rintangan seperti manusia, robot lain, dan lainnya.

Penggunaan perangkat otomatisasi dengan teknologi yang cerdas juga dapat melakukan pembelajaran sendiri dan mampu melakukan diagnosa secara keseluruhan, sehingga perawatan mesin yang seimbang dapat dilakukan dengan cepat.

Sugiyama menjelaskan, "Kemajuan teknologi yang canggih pada suatu produk tidak terbatas hanya pada 'fungsi eksternal' dari perangkat itu saja, Namun juga diperlukan fungsi untuk mengatur bagaimana menjaga ketahanan produk tersebut dalam melakukan operasionalnya Itulah mengapa perawatan mesin dan kinerja produk harus diperhatikan."

Selain itu, kemajuan teknologi tidak hanya mengenai kondisi fisik dari produk tersebut, tetapi juga harus didukung oleh adanya teknologi canggih yang memungkinkan produk tersebut dapat diakses oleh bagian maintenance melalui jarak jauh (Remote Access).

"Pendekatan solusi praktis adalah hal yang sangat penting. Terkadang jawaban dari solusi tersebut hanya dengan menggunakan layar partisi, dan ada pula jawaban lain yang mungkin benar adalah dengan penggunaan Co-Bot, namun hal utama yang harus diperhatikan adalah fleksibilitas, skalabilitas dan hasil yang ingin dicapai" ringkasnya. (S-4)

 

 

BERITA TERKAIT