27 November 2021, 09:35 WIB

Permintaan Jamu Meningkat di tengah Kendala Bahan Baku


Mediaindonesia.com |

SUMBER daya alam di Indonesia merupakan megabiodiversity. Mulai 2020 terjadi peningkatan penjualan luar biasa terhadap pola konsumsi masyarakat terhadap penggunaan jamu di Indonesia. Hal tersebut karena pada masa pandemi menjadi momentum emas bagi masyarakat dalam menggunakan obat tradisional sebagai salah satu upaya meningkatkan daya tahan tubuh.

Edward Basillianus mewakili GP Jamu Indonesia dan juga CEO PT Natura Nuswantara Nirmala menyampaikan saat ini produk jamu di Indonesia meningkat sangat tajam meskipun penyediaan bahan baku alam oleh industri setiap tahun mengalami fluktuasi. "Berdasarkan hasil survei dalam membeli bahan baku bergantung tren permintaan jamu, harga di pasaran, dan stok yang dimiliki," ujarnya dalam menyampaikan presentasi berjudul Jamu Modern Fitofarmaka, Kini dan Masa Depan di pameran Indobeauty Expo dan K-Beauty Indonesia Expo pada 24-26 November 2021 di JIExpo Kemayoran Indonesia.

GP Jamu menaungi gabungan para pengusaha jamu dan obat tradisional Indonesia. Selama masa pandemi, GP Jamu berperan aktif salah satunya berkontribusi dalam kegiatan webinar sharing dan edukasi seputar topik jamu modern. Ini merupakan upaya meningkatkan kualitas produk obat berbahan dasar dari alam menjadi produk yang unggul, aman, bermutu, dan berkhasiat.

Menurut Edward, panggilan akrabnya, peran strategis obat tradisional di antaranya meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, mudah diperoleh, dan minim menimbulkan efek samping. Selain itu, penggunaan jamu bukti kearifan lokal warisan budaya bangsa Indonesia. 

Karena itu, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di masyarakat dalam industri jamu rumah tangga meningkat. Oleh karena itu, perlu ada upaya pengelolaan yang baik dalam penyediaan bahan baku jamu di Indonesia. Sebagai contoh, lanjut Edward, di Amerika Serikat penjualan nomor 1 sangat tajam terbesar yaitu bahan baku dari daun kelor. "Di Indonesia daun kelor belum dimanfaatkan maksimal oleh industri jamu rumah tangga," ujarnya. 

Menurut Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 2020, kondisi pandemi berpotensi membuka peluang bagi upaya pengembangan ekonomi masyarakat berbasis pengembangan komoditas obat tradisional. Di Jawa Tengah rata-rata penjualan UMKM jamu meningkat sebesar 300%-400% per hari dengan variasi jenis jamu yang lebih banyak. Industri obat tradisional di Indonesia bersifat padat karya dan didominasi oleh pelaku UMKM yaitu sebesar 87,2%. Industri ini juga dianggap memiliki backward linkage (keterkaitan ke belakang) yang kuat dengan sektor pertanian. 

Untuk memajukan industri obat tradisional, Edward menyampaikan strategi berupa kemandirian bahan baku, kerja sama dengan akademisi-pemerintah-bisnis untuk meningkatkan kapasitas dan kompetensi riset yang unggul, serta kemampuan dan kapasitas produksi yang memadai. GP Jamu Indonesia sangat mendukung peran pengusaha jamu dan obat tradisional di Indonesia serta sangat terbuka menjalin kerja sama dengan pihak terkait dalam mengembangkan produk jamu modern. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT