26 November 2021, 22:25 WIB

Tapering Off AS Belum Pengaruhi Pergerakan Suku Bunga BI


Fetry Wuryasti |

THE Fed memutuskan untuk mulai melakukan pengurangan pembelian obligasi (tapering off) di bulan November ini. Rencana tapering tersebut sudah dikomunikasikan dengan baik sebelumnya oleh The Fed sehingga kebijakan tapering ini sudah diantisipasi oleh pasar dan tidak menimbulkan gejolak.

Positifnya juga, The Fed dengan jelas menyampaikan bahwa belum ada rencana kenaikan suku bunga, setidaknya hingga proses tapering berakhir.

"Komunikasi ini memberikan kejelasan bagi pasar bahwa suku bunga akan tetap pada level akomodatif. Kondisi pasar obligasi global dan domestik relatif stabil pasca pengumuman tapering The Fed, di mana imbal hasil US Treasury 10-tahun stabil pada kisaran 1,5%-1,6% dan obligasi pemerintah Indonesia 10-tahun stabil di kisaran 6%," kata Senior Portfolio Manager, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Syuhada Arief, Jumat (26/11).

Langkah The Fed yang mulai melakukan tapering, tidak akan berpengaruh pada kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Sebab pergerakan suku bunga Bank Indonesia akan lebih dipengaruhi oleh perkembangan dinamika domestik.

"Dalam pandangan kami Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menjaga suku bunga pada level akomodatif. Berbeda dengan negara lain yang inflasinya melonjak, di Indonesia tekanan inflasi masih rendah, pada level 1,66% yoy per Oktober, sehingga belum ada tekanan bagi Bank Indonesia untuk menaikkan suku bunga," kata Syuhada.

Selain itu tingkat defisit transaksi berjalan Indonesia saat ini pada level yang rendah didukung oleh harga komoditas dan neraca perdagangan yang suportif, sehingga memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk tetap akomodatif. Risiko terhadap pandangan ini adalah perubahan pada kebijakan The Fed. Kemungkinan  The Fed akan tetap gradual dalam melakukan perubahan kebijakan.

Selain itu walaupun The Fed melakukan tapering, imbal hasil US Treasury tidak akan bergerak naik terlalu liar. Ini terjadi akibat akan adanya keseimbangan supply dan demand imbal hasil obligasi global. Berdasarkan data Bloomberg, secara total terdapat US$13,29 triliun obligasi global (baik itu obligasi pemerintah maupun korporasi) yang memiliki imbal hasil negatif.

"Hal tersebut berarti hampir seperlima dari keseluruhan obligasi global memiliki imbal hasil negatif," kata Syuhada.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia turun menjadi 3,51% di kuartal III 2021 dari sebelumnya 7,07% di kuartal II 2021, karena kondisi PPKM yang menekan aktivitas ekonomi.

"Kami memandang potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih positif di kuartal IV 2021 dan 2022. Pelonggaran PPKM menjadi katalis pemulihan ekonomi Indonesia didukung oleh mobilitas masyarakat yang meningkat," kata Syuhada.

Berbeda dengan beberapa negara lain yang pertumbuhan ekonominya mulai mengalami normalisasi di 2022, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan meningkat di 2022. Konsensus di Bloomberg mengindikasikan pertumbuhan ekonomi 2022 diproyeksikan mencapai 5,2%, naik dari 3,6% di 2021.

"Akselerasi vaksinasi akan menjadi faktor penting untuk pemulihan ekonomi Indonesia yang berkesinambungan," kata Syuhada. (E-3)

BERITA TERKAIT