26 November 2021, 12:08 WIB

AP II Bantah Tudingan Jual Aset Bandara Kualanamu ke Asing


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

PT Angkasa Pura II (Persero) atau AP II membantah menjual aset Bandara Internasional Kualanamu di Deli Serdang, Sumatra Utara, ke pihak asing.

Direktur Transformasi dan Portofolio Strategis AP II Armand Hermawan menuturkan pihaknya mengajak perusahaan patungan India dan Prancis, GMR Airports Consortium untuk mengelola dan mengembangkan bandara tersebut.

Kedua pihak sepakat membentuk Joint Venture Company (JVCo) yakni PT Angkasa Pura Aviasi untuk mengelola dan mengembangkan Bandara Internasional Kualanamu. 

Baca juga: KSP Dorong Percepatan Pengembangan Bandara Siboru di Fakfak

AP II sebagai pemegang saham mayoritas dengan menguasai 51% saham di PT Angkasa Pura Aviasi, sementara GMR Airports Consortium memegang 49% saham.

"Tidak ada penjualan aset atau penjualan saham Bandara Internasional Kualanamu. Kepemilikan bandara tersebut beserta asetnya 100% tetap milik AP II. JVCo hanya akan menyewa aset kepada AP II untuk dikelola selama 25 tahun," kata Armand dalam keterangan resmi, Jumat (26/11).

Setelah periode kerja sama berakhir, lanjutnya, JVCo tidak berhak lagi mengelola Bandara Internasional Kualanamu dan semua aset hasil pengembangan akan dikembalikan kepada AP II. 

Armand menyebut kemitraan dapat dianggap seperti perjanjian sewa menyewa dengan para tenant di terminal bandara.

Terkait expansion the traffic atau ekspansi trafik di Kualanamu, Armand mengungkapkan bandara itu akan dijadikan hub penerbangan internasional khususnya di wilayah barat yang akan mendatangkan banyak penerbangan dari luar negeri ke dalam negeri dan sebaliknya.

Adapun GMR Airports Consortium, yang sebagian sahamnya juga dimiliki Aeroports de Paris Group (ADP) asal Prancis termasuk jaringan operator bandara dengan total jumlah penumpang terbanyak di dunia.

“Pada 2020, jumlah pergerakan penumpang pesawat di Bandara Internasional Kualanamu sekitar 3 juta penumpang per tahun. Melalui kemitraan strategis ini, JVco menargetkan jumlah pergerakan penumpang menjadi sekitar 54 juta penumpang per tahun di akhir kerja sama kemitraan,” harapnya.

Soal kabar penjualan aset Kualanamu dihembuskan oleh Mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu. Dalam cuitannya di Twitter, dia mengatakan jika sudah pelepasan saham berarti sudah penjulan aset.

"Bagi yang paham korporasi, jika sudah menyangkut pelepasan saham itu berarti sudah penjualan asset - bukan lagi Joint Operation.Joint Operation adalah para pihak memasukkan modal untuk mengelola fasilitas dan berbagi laba sesuai kesepakatan, tidak ada perpindahan saham. Jelas?" tulisnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT