25 November 2021, 12:04 WIB

ESDM : 53 Smelter yang akan Beroperasi Bisa Tarik Investasi Rp303 T


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

Indonesia dinilai akan menjadi daya tarik investasi pertambangan. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyebut, bakal ada 53 proyek fasilitas pemurnian (smelter) di 2023 yang beroperasi.

"Nanti diperkirakan akan menarik investasi sebesar US$21,28 miliar (sekitar Rp303 triliun). Kita harapkan progresnya akan diakselerasi pada 2022, karena 2023 adalah batas waktu untuk izin ekspor konsentrat. Smelter ini harus jadi," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (25/11).

Arifin merinci, 53 proyek smelter itu terdiri dari 19 unit smelter yang eksisting, 13 di antaranya adalah smelter nikel. Kemudian, direncanakan pembangunan 17 smelter lainnya, sehingga total smelter nikel nantinya menjadi 30 unit, dengan nilai investasi US$8 miliar. Lalu, pada 2023 bertambah menjadi 53 smelter yang beroperasi.

"Demikian juga dengan komoditas lainnya, antara lain bauksit, besi, tembaga, mangan, timbal, dan seng. Pengoperasian smelter ini memang sudah menjadi aturan pemerintah bagaimana kita sungguh-sungguh merealisasikan program hilirisasi," jelas Menteri ESDM.

Arifin juga menyebutkan kebutuhan listrik untuk 53 smelter tersebut mencapai 5,6 GW dan berada di seluruh wilayah Indonesia. Diperlukan infrastruktur yang baik untuk mendukung kebutuhan listrik tersebut.

"Kebutuhan listrik untuk 53 smelter ini mencapai 5.600 MW atau 5,6 GW dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Ini tentu saja menjadi tantangan kita terutama mendukung industri-industri ini dengan energi hijau," ucapnya.

Dia kemudian menjelaskan, alasan Indonesia menjadi daya tarik investasi pertambangan ialah, berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), cadangan nikel di Indonesia disebut menjadi nomor satu dunia, yang mana 23% cadangan nikel dunia ada di perut bumi pertiwi.

Untuk produksi nikel juga dikatakan Indonesia nomor 1. Kemudian ada bauksit yang menempati nomor 6 pada jumlah cadangan dan produksi dunia," rincinya. Selain itu, cadangan tembaga Indonesia menempati posisi 7 dan produksinya ada di posisi 12 dunia.

Komoditi emas berada di posisi 5 pada potensi dan 6 pada produksi. Produksi timah Indonesia mencapai 17% dari cadangan dunia atau berada pada posisi kedua, begitu pula dengan produksinya.

Di samping komoditas-komoditas tersebut, Arifin juga mengungkapkan masih ada logam tanah jarang dan Lithium yang potensinya sangat besar, namun sayangnya belum dapat diproduksi karena Indonesia belum memiliki teknologi untuk memisahkan dan memurnikan. (OL-12)

BERITA TERKAIT