25 November 2021, 08:12 WIB

Menyusuri Jejak Pabrik Semen Tertua di Indonesia


Mediaindonesia.com | Ekonomi

 INDONESIA memiliki sejarah tersendiri dalam industri semen di Asia.

Hal ini berawal dari jaman penjajahan kolonial Belanda. Pembangunan infrastruktur untuk membuat jalan, bangunan dan lain sebagainya yang cukup masif pada awal 1900-an membuat kebutuhan akan bahan semen melonjak.

Saat itu semen didatangkan dari daratan Eropa, tepatnya dipasok oleh Inggris. Hal itu membuat harga semen menjadi mahal dan membebani berbagai macam proyek yang ada.

Mulailah pada 1910 dibangun pabrik semen dengan nama NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (NV NIPCM) di daerah Indarung, Padang, Sumatera Barat. 

Pabrik beroperasi dengan kapasitas 22,8 ribu ton per tahun. Pemilihan lokasi pabrik dikarenakan dekat dengan sumber bahan baku dan juga adanya aliran listrik dari PLTA batu bara serta dekat dengan pelabuhan Teluk Bayur.

Kepala Biro Humas Semen Padang Nur Anita Rahmawati mengatakan pabrik Semen Padang merupakan pabrik semen pertama di kawasan Asia Tenggara.

"Pabrik semen ini merupakan yang pertama di Asia Tenggara dan didirikan oleh perusahaan Belanda dengan kapasitas 700 ton per hari," ujarnya.

Pada saat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, pabrik semen yang beralih nama menjadi Pabrik Semen Indaroeng dikuasai oleh Indonesia. Namun dalam perjalanannya pernah kembali dikuasai Belanda sebelum akhirnya resmi dinasionalisasi pada 5 Juli 1958. 

Melalui PP No 135 tahun 1961, pabrik semen ini resmi menjadi Perusahaan Negara (PN) Semen Padang.  Status persero disematkan pada 1971. Dan pada 1995 pemerintah mengalihkan kepemilikan sahamnya di Semen Padang ke Semen Gresik (Persero) bersamaan dengan pembangunan pabrik Indarung V.

Pada 20 Desember 2012, Holding semen terbentuk dengan induknya PT Semen Indonesia dengan anak perusahaan PT Semen Gresik, PT Semen Padang, PT Semen Tonasa, Dynamix dan Thang Long Cement.

Saat ini pabrik pertama Semen Indonesia telah berhenti operasi. Tepatnya pada 1999. Pabrik semen tertua itu mengakhiri operasinya setelah hampir 90 tahun beroperasi. 

Penghentian operasi karena tambang sebagai sumber bahan baku telah habis. Semen Padang pun telah mengembalikan lokasi tambang menjadi area hijau dengan cara reklamasi.

"Sekarang di area eks tambang telah berdiri padang golf yang tertata dengan rapi," jelas Anita. 

Adapun eks lokasi pabrik Indarung I masih berdiri hingga kini namun tidak beroperasi. Namun dari lokasi pabrik ini telah berkembang pabrik semen lainnya hingga mencapai Indarung V.

"Lokasi pabrik lama menjadi obyek yang menarik untuk berfoto. Bahkan sering orang membuat foto pra wedding di lokasi eks pabrik. Pabrik Indarung I ini memang menjadi salah satu saksi sejarah perjalanan bangsa melewati jaman kolonial hingga seperti sekarang ini," tutupnya. (E-1)

BERITA TERKAIT