25 November 2021, 07:25 WIB

Presiden Tegaskan Kebutuhan Jagung Bisa Dipenuhi Petani Lokal


mediaindonesia.com | Ekonomi

PRESIDEN Joko Widodo (Jokowi) didampingi Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengikuti kegiatan tanam jagung pada hamparan seluas 1.000 hektare di kelurahan Tolokota, kecamatan Kelara, kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. 

Di sela penanaman jagung tersebut, Presiden menyampaikan optimistismenya dengan semakin banyaknya petani lokal yang menanam jagung, kebutuhan jagung nasional bisa terpenuhi.

“Hari ini saya bersama Menko Perekonomian, Menteri Pertanian, Gubernur Sulawesi Selatan, Bupati Jeneponto, dan para petani bersama-sama melakukan tanam jagung di areal seluas 1.000 hektare. Kebutuhan jagung nasional saat ini masih kurang, sehingga kami harapkan dengan semakin banyak petani taman jagung, produksi nasional bisa tercukup,” ungkap Jokowi, saat ditemui di area penanaman jagung, Jeneponto, Sulawesi Selatan, Selasa (23/11) lalu. 

Baca Juga: Mentan SYL: Perlu Komitmen Bersama dalam Pengendalian AMR

Jokowi berharap gerakan penanaman jagung ini juga bisa berdampak pada peningkatan produktivitas sehingga stok jagung nasional terjamin. Selanjutnya, diharapkan juga harga jagung dapat menguntungkan petani dan peternak ayam mandiri.

“Kami harapkan setiap hektare bisa menghasilkan 6 sampai 7 ton. Dari seluruh Sulawesi Selatan, kami harapkan produksi jagung bisa mencapai 1,8 juta ton. Harga jagung saat ini sangat bagus, tadi kami bertanya kepada petani yakni Rp4.000 per kilogram. Kami akan terus menjaga keseimbangan harga jagung dengan harga pakan, agar petani dan peternak sama-sama untung,” tegas Jokowi.

Tanam tiga kali
Pada kesempatan yang sama, Mentan SYL optimistis dapat meningkatkan produksi jagung nasional. Saat ini Kementerian Pertanian (Kementan) telah melaksanakan program peningkatan indeks pertanaman sehingga tanam bisa dilakukan hingga tiga kali per tahunnya.

“Upaya konkret yang kami lakukan untuk tercapainya peningkatan indeks pertanaman ini yakni penambahan alat mesin pertanian untuk percepatan olah tanah dan tanam, penggunaan bibit unggul, penyediaan sumur bor dan terjaminnya aliran air irigasi dari bendungan Karalloe, bahkan penyediaan fasilitas dana kredit usaha rakyat (KUR) bagi para petani,” ungkapnya.

Perlu diketahui, saat ini indeks pertanaman jagung kabupaten Jeneponto sebesar 200 atau dua kali tanam setahun. Kementan pun terus mendorong sehingga pertanaman bisa menjadi 3 kali setahun.

Jeneponto memiliki luas lahan jagung eksisting sebesar 70.052 hektare dengan produktivitas 6 sampai 7 ton per hektare sehingga diperoleh produksi jagung 280.000 ton.

“Karena itu, apa yang kami lakukan hari ini tidak sampai di sini saja, kegiatan tanam terus akan kami dorong, kami lakukan percepatan hingga terjadi peningkatan indeks pertanaman tiga kali setahun dan produktivitas naik. Dan nanti kita targetkan, kita harus bisa mengekspor (jagung),” sambung SYL.

Jika ditingkatkan indeks pertanamannya menjadi 3 kali setahun dan luas lahan jagung bisa ditingkatkan menjadi 100 ribu hektare, produksi yang diperoleh sebesar 400 ribu ton. 

“Dengan demikian, adanya peningkatan indeks pertanam­an ini, memberikan tambahan produksi jagung sebesar 120 ribu ton dan tambahan income (pendapatan) hingga Rp540 miliar,” pungkas SYL. (RO/S3-25)

BERITA TERKAIT