24 November 2021, 14:24 WIB

Konsolidasi Mendekati Tuntas, Saham ISAT Diprediksi Menuju Level Baru


Antara | Ekonomi

KONSOLIDASI Indosat Ooredoo (ISAT) dengan PT Hutchison 3 Indonesia (H3I) yang telah mendapat persetujuan dari pemerintah dinilai akan membuat kinerja fundamental lebih kuat karena perusahaan mampu berkompetisi pada industri telekomunikasi dalam jangka panjang.

Aksi korporasi ini juga diperkirakan bisa membawa potensi besar, baik dari sisi keuangan maupun pergerakan harga sahamnya di pasar modal seiring dengan komitmen perusahaan hasil merger memberikan jaringan, jangkauan, kapasitas dan kecepatan layanan internet serta inovasi yang lebih baik.

"Dari prospek kinerja fundamental emiten ISAT semestinya positif secara jangka panjang jika ditinjau dari kenaikan kinerja fundamental kuartal III-2021,” kata Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji di Jakarta, Rabu (24/11).

Menurut Nafan Aji, isu konsolidasi menjadi katalis yang dapat menjaga harga saham tetap menarik, di mana pergerakan harga saham ISAT selama 2021, jika ditinjau secara major trend, maka masih dalam fase bullish consolidation.

Ia menjelaskan, saham ISAT berpotensi berada di zona positif di atas Rp7.000 per saham bahkan mencapai titik ekuilibrium baru di level Rp8.000 per saham.

"Potensi itu ada, namun mencapai Rp8.000 per saham perlu terlebih dahulu menembus ATH (all time high/harga tertinggi sepanjang masa) dari HH (higher high) pada level Rp7.675 per saham,” kata Nafan Aji.

Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma mengatakan, konsolidasi ISAT dan Tri merupakan momentum pertumbuhan perusahaan dan akan membawa ke level yang baru karena akan menjadi operator nomor dua terbesar di Indonesia melewati XL Axiata.

"Menilik konsensus TP (target price) saham ISAT di atas level Rp7.567 per lembar,” kata Suria Dharma.

Sementara itu, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas yang mengatakan bahwa pencapaian kinerja keuangan ISAT pada kuartal III 2021 bisa tetap menarik perhatian investor.

Dengan demikian, peluang untuk kembali ke atas level Rp7.000 per lembar tetap terbuka, namun tetap memperhatikan saham-saham sejenisnya yang apakah tetap dalam tren kenaikan atau terjadi pembalikan menurun.

"Saham ISAT untuk mencapai Rp8.000 per lembar bisa saja, yang ditopang ketika industri di sektor ini tidak masalah dan dalam tren kenaikan. Tetapi secara normal pastinya membutuhkan waktu yang agak lama," katanya.

Menurut catatan, ISAT membukukan kinerja yang mengkilap hingga kuartal ketiga 2021 dengan pendapatan Rp23,06 triliun atau tumbuh 11,96%  dibandingkan dengan pendapatan periode sama tahun 2020 yang sebesar Rp20,59 triliun.

Kompetisi sehat
Konsolidasi operator merupakan strategi percepatan transformasi digital dan juga guna menarik banyak investor untuk berinvestasi terutama setelah merger ISAT dengan Tri.

Pengamat telekomunikasi Kamilov Sagala mengatakan, penggabungan usaha di sektor telekomunikasi menjadi salah satu bentuk konkret untuk membangkitkan industri untuk mencapai tujuan menggerakkan ekonomi digital nasional secara luas.

“Industri telko merupakan sektor pada modal, sehingga harus lebih mengarah ke pengembangan ekosistem, agar terjadi efisiensi,” kata Kamilov.

Direktur Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi (LPPMI) ini mengatakan, saat ini Indonesia berada pada era digital, tecermin dari aktivitas masyarakat yang sudah terkoneksi dengan internet, seperti layanan, perbankan, perdagangan online, hiburan hingga pendidikan.

Untuk lebih menyempurnakan era digital tersebut, tetap yang menjadi fokus adalah memperluas jaringan telekomunikasi hingga ke wilayah atau daerah terdepan, terpencil dan tertinggal (3T) dengan mengoptimalisasi dana universal service obligation (USO). (E-3)

BERITA TERKAIT