23 November 2021, 19:02 WIB

Indonesia Ajak Swedia Berinvestasi dan Berbagi Teknologi Kendaraan Listrik


Fetry Wuryasti | Ekonomi

DEPUTI Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Ayodhia Kalake mengatakan bidang perhubungan perlu ditangani dengan serius. Dalam era digitalisasi, transportasi mendukung mobilitas yang lancar sangat diperlukan. 

Urgensinya, dan tuntutan akan hal tersebut semakin meningkatkan signifikan. Indonesia merupakan negara berpopulasi ke-4 terbesar di dunia, dengan lebih dari 270 juta penduduk, dan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, yang mobilitas masyarakatnya memerlukan moda transportasi yang beragam.

Indonesia dan Swedia telah menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada Mei 2017, terkait kerja sama di bidang transportasi, yang berfokus pada moda transportasi cerdas, dan ramah lingkungan, terutama untuk kota Jakarta. Kerja sama ini dapat diperluas di bidang energi berkelanjutan. 

Di bidang transportasi udara, saat ini Indonesia memiliki 251 bandara dan berencana membuka 50 bandara baru. Dari bandara yang sudah ada saat ini, 271 diantaranya merupakan bandara domestik dan sisanya internasional.

Beberapa waktu lalu, Indonesia berkesempatan mendirikan remote tower center, digital tower technology terutama untuk bandara internasional dan bandara di daerah-daerah terpencil.

Dari semua bandara yang ada di Indonesia, Bandara Soekarno Hatta menjadi yang paling besar, dengan tiga terminal, dan ada rencana perluasan hingga terminal 4. Nilai investasinya diperkirakan akan mencapai US$320 juta.

"Transaksi dan kemitraan ini akan didukung melalui Indonesia Sovereign Wealth Fund (SWF)," kata Ayodhia, dalam pekan Sweden–Indonesia Sustainability Partnership, Selasa (23/11).

Kemudian Bandara I Gusti Ngurah Rai di Bali dan Bandara Kualanamu di Medan. Bandara-bandara tersebut saat ini terbuka untuk ekspansi lebih lanjut, mengingat tingginya lalu lintas penumpang di Bali dan Medan.

Untuk di transportasi laut, Indonesia juga memiliki Pelindo, yang merupakan terminal kontainer dengan lalu lintas terpadat ke-9 di dunia. Pada saat ini kita sedang berusaha meningkatkan transparansi pengelolaan dan efektifitas dari pengelolaan pelabuhan-pelabuhan. Saat ini Pelindo sedang dalam proses untuk melakukan benchmarking untuk digital dan smartboard di Pelabuhan Tanjung Priok, yang nantinya akan direplikasi ke semua pelabuhan yang dikelola oleh Pelindo.

Tujuannya, semua pelabuhan laut Indonesia akan menjadi smartboard atau pelabuhan cerdas yang akan mendukung sistem transportasi cerdas.

Terdapat tiga pelabuhan lain lagi yang dapat diperluas lebih lanjut, pertama pelabuhan Belawan, dengan lalu lintas terpadat di Sumatera yang terletak di Selat Melaka. Kedua, Pelabuhan Kuala Tanjung dan kawasan industrinya dan Pelabuhan Teluk Lamong.

Dengan meningkatnya jumlah pelabuhan, konektivitas terdistribusi barang juga akan menjadi semakin lancar.

Baca juga: Swedia Minati Investasi Teknologi Listrik untuk Transjakarta

Di Jakarta, sebagai ibu kota, terdapat beberapa proyek pembangunan infrastruktur termasuk LRT, dan MRT yang akan menjadi tonggak bagi berkembangnya moda transportasi cerdas. LRT juga akan dikembangkan untuk mendukung konsep smart mobility dan connectivity.

Indonesia memiliki dua kereta api modern yang membawa penumpang untuk jarak pendek yaitu MRT dan LRT. MRT mencakup jarak sekitar hampir 17 km, termasuk 10 km elevated line atau layang dan 6 km di bawah tanah  dengan 7 stasiun di atas tanah dan 6 stasiun di bawah tanah.

Di bidang transportasi jalan raya, demografi kendaraan di Indonesia yang diperkirakan akan terus meningkat. Pertumbuhan populasi kendaraan roda dua meningkat sekitar 11% per tahun, dan mobil penumpang meningkat 8% per tahun, sejalan meningkatnya industri kendaraan di Indonesia dan semakin banyaknya harga mobil yang terjangkau diperkirakan pertumbuhan terus naik.

"Pertumbuhan populasi motor 11% pada 2018, dengan keterjangkauan dan iklim Indonesia yang cukup panas dan lembab, membuat kendaraan ini yang paling cepat tumbuh," kata Ayodhia. 

Untuk beralih dari kendaraan konvensional ke kendaraan yang lebih ramah lingkungan, Indonesia telah mulai mengembangkan kendaraan listrik dengan baterai dan rantai nilainya.

Terutama untuk kendaraan listrik (EV), akan ada insentif untuk pengembangannya bukan saja untuk meningkatkan perekonomian melainkan juga lingkungan. Pemerintah Indonesia sangat tertarik mengembangkan kendaraan dan industri kendaraan listrik dan baterai.

Telah diterbitkan PP No.73 Tahun 2019 untuk mempercepat pembangunan teknologi ini," kata Ayodhia.

Pertumbuhan kendaraan listrik akan sejalan dengan meningkatnya kebutuhan listrik. Indonesia sudah mulai bergerak kepada pemanfaatan energi bersih, dari sumber energi terbarukan. Jumlahnya sekitar 418 GW. Saat ini kapasitas terpasang baru 10GW atau 2,5% dari potensi yang ada. 

Indonesia unggul di sumber daya logam untuk membangun komponen baterai, termasuk nikel, kobalt, tembaga, dan bauksit.

"Pemerintah Indonesia sangat tertarik belajar dari Swedia untuk mengembangkan teknologi transportasi cerdas. Kami mengundang industri otomotif Swedia untuk mengembangkan dan berinvestasi di teknologi kendaraan listrik dan baterai di Indonesia," kata Ayodhia. (A-2)

BERITA TERKAIT