23 November 2021, 06:25 WIB

Dolar AS Menguat, Euro Melemah karena Lockdown


Muhamad Fauzi | Ekonomi

KURS Dolar mencapai level tertinggi selama 16 bulan terhadap euro pada akhir perdagangan Senin atau Selasa pagi WIB (23/11), setelah Ketua Federal Reserve Jerome Powell dinominasikan untuk masa jabatan empat tahun kedua oleh Presiden Joe Biden, sementara mata uang tunggal dirugikan oleh COVID-19 terkait penguncian.

Lael Brainard, anggota dewan Federal Reserve yang merupakan kandidat teratas lainnya untuk jabatan itu, akan menjadi wakil ketua, kata Gedung Putih.

"Dengan Powell dicalonkan kembali untuk masa jabatan kedua, itu menunjukkan prospek kebijakan moneter yang kurang dovish daripada di bawah kepemimpinan Brainard," kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington.

"Sepertinya ada ruang lingkup yang lebih besar untuk kenaikan suku bunga AS di bawah Powell dengan Powell tetap sebagai Ketua Fed, dan itu secara luas positif untuk dolar," tambah Manimbo.

Indeks dolar terhadap sekeranjang enam mata uang saingannya naik 0,42 persen hari ini menjadi 96,53, tertinggi sejak Juli 2020. Euro merosot 0,58 persen menjadi 1,1233 dolar, juga terlemah sejak Juli 2020.

Mata uang tunggal juga terseret lebih rendah karena kekhawatiran meningkatnya pembatasan baru COVID-19 di Eropa, dengan Austria memasuki penguncian penuh lainnya dan Jerman mempertimbangkan untuk mengikutinya.

"Ini semacam pukulan satu-dua untuk euro. Salah satunya adalah peningkatan kasus di seluruh blok, dan apa yang dilakukan adalah memperkuat pandangan yang jelas dovish untuk kebijakan (Bank Sentral Eropa) dan itu sangat kontras dengan The Fed, di mana tekanan meningkat bagi bank sentral AS untuk mengadopsi langkah normalisasi yang lebih cepat," kata Manimbo.

Powell dan Brainard pada Senin (22/11) mencatat dampak korosif inflasi yang tinggi terhadap ekonomi AS dan keluarga-keluaga Amerika dalam apa yang mungkin menjadi sinyal bahwa mengendalikan laju kenaikan hargaa yang cepat sekarang menjadi prioritas utama bank sentral.

The Fed akan merilis risalah pada Rabu (24/11), yang akan dievaluasi untuk setiap indikasi baru bahwa hal itu dapat mempercepat pengurangan pembelian obligasi dan menaikkan suku bunga lebih cepat dari yang diperkirakan.

Pejabat Fed Richard Clarida dan Christopher Waller pada Jumat (19/11) menyatakan langkah yang lebih cepat dari pengurangan stimulus mungkin tepat di tengah pemulihan yang cepat dan inflasi yang memanas.

Dolar juga naik 0,79 persen terhadap mata uang safe haven yen Jepang menjadi 114,93, mendekati level tertinggi 4,5 tahun di 114,97 yang dicapai pada 17 November.

Greenback juga menguat 0,55 persen terhadap dolar Kanada mencapai tertinggi tujuh minggu di 1,27 dolar Kanada.

"Mengingat kemungkinan bahwa lebih banyak penguncian virus diumumkan dalam beberapa hari dan minggu mendatang, mata uang yang sensitif terhadap risiko seperti dolar Kanada dapat diperdagangkan defensif sementara penurunan harga minyak memberikan hambatan tambahan," kata analis di Scotiabank dalam sebuah laporan pada Jumat (19/11). (Ant/OL-13)

Baca Juga:  'Vaksinasi atau Mati', Seruan Jerman untuk Negara-negara di Eropa

BERITA TERKAIT