22 November 2021, 16:32 WIB

Airlangga Targetkan Ekonomi Kuartal IV Tumbuh 6%, UI: Mentok 4,1%


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

ASSOCIATE Professor dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Telisa Aulia Falianty memprediksikan ekonomi Indonesia di triwulan IV 2021 akan tumbuh di kisaran 3,9% hingga 4,1%. Angka itu lebih rendah dari yang ditargetkan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto yakni 5% hingga 6%.

Namun Telisa bilang itu merupakan hitungan yang positif lantaran sejumlah indikator ekonomi nasional membaik di 2021. "Proyeksi pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2021 di kisaran 3,9% hingga 4,1%, sedangkan di 2022 kita proyeksikan akan tumbuh 4% hingga 5%, karena masih ada downside risk-nya," ujarnya dalam webinar bertajuk Economic Outlook 2022, Senin (22/11).

Kinerja ekonomi selama 2021, kata Telisa, terbilang jauh lebih baik ketimbang kinerja 2020. Hal itu dapat dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang tercatat 3,51%, tingkat inflasi di level 1,6%, dan menurunnya tingkat pengangguran.

Belum lagi Bank Indonesia tetap mempertahankan kebijakan suku bunga acuan rendah di level 3,5% yang juga diikuti dengan pertumbuhan kredit sebesar 2%. Telisa bilang, sejumlah indikator perekonomian itu melengkapi capaian gemilang sisi perdagangan nasional.

Baca juga: Pemerintah Pacu Ekonomi Tumbuh 6% di Triwulan IV 2021

Kinerja ekspor yang cukup baik selama pandemi telah membuat neraca dagang mengalami surplus. Pada Oktober 2021, neraca dagang Indonesia tercatat surplus US$5,73 miliar. Sedangkan dalam periode Januari-Oktober, neraca dagang mencatatkan surplus US$30,81 miliar.

Surplus neraca dagang itu turut diikuti dengan surplus Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) triwulan III 2021 yang tercatat US$10,7 miliar, setara Rp152,6 triliun (kurs Rp14.269). Surplus NPI, kata Telisa, ditopang oleh transaksi berjalan yang juga mengalami surplus US$4,5 miliar, setara 1,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

"Jadi ini jarang terjadi. Sepanjang 2021 sampai triwulan III ini ada beberapa kinerja ekonomi di luar kebiasaan, ini patut kita apresiasi walaupun ada sentimen negatif yang harus kita antisipasi. Devisa kita juga masih cukup tinggi, itu artinya ekonomi fundamental kita cukup terjaga," kata Telisa.

Namun hal yang menurutnya patut untuk dikhawatirkan pada penghujung tahun 2021 ialah fenomena inflasi atau stagflasi di tingkat global. Hal itu kemungkinan terjadi di sisa tahun dan berlanjut di 2022. Telisa bilang, potensi kenaikan inflasi global mesti diwaspadai Indonesia. (OL-4)

BERITA TERKAIT