20 November 2021, 21:10 WIB

Ekspor Dorong Pertumbuhan


Mediaindonesia.com | Ekonomi

DALAM  18 bulan terakhir ekspor Indonesia mencatatkan tren positif. Kinerja apik itu juga terlihat dari surplus neraca dagang yang terjadi selama Januari-Oktober 2021 sebesar US$30,81 miliar.

Kegiatan ekspor dinilai masih akan menjadi kontributor terbesar pada pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan IV 2021, maupun sepanjang tahun. 

Demikian dikatakan Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia IGP Wira Kusuma dalam diskusi bertema Perkembangan Ekonomi Indonesia, Sabtu (20/11).

"Ekspor inilah yang akan membantu ke depan. Bagaimana dengan domestiknya, kita ekspektasikan akan juga mengikuti perkembangan ekspor, sehingga klop lah nanti," ujarnya.

Wira mengatakan, capaian eskpor nasional tersebut turut mendongkrak Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan nasional. Bahkan dorongan kinerja ekspor Indonesia berhasil mendorong nominal PDB atas dasar harga konstan di atas level prapandemi covid-19.

Merujuk data Badan Pusat Statistik (BPS), PDB atas dasar harga konstan Indonesia mencapai Rp2.815,9 triliun pada triwulan III 2021, lebih tinggi dari posisi triwulan IV 2020 yang hanya Rp2.769,9 triliun. "Boleh dibilang perbaikan ekonomi sudah melewati prapandemi secara level, itu didorong net ekspor yang lebih tinggi," kata Wira.

Dia bilang, naiknya harga sejumlah komoditas dan membaiknya perekonomian dari negara utama mitra dagang menjadi faktor paling berpengaruh pada kinerja ekspor nasional. Berkat ekspor komoditas pula ekonomi Indonesia berhasil mencatatkan pertumbuhan positif di triwulan III 2021 sebesar 3,5%.

Kendati angka pertumbuhan itu melambat dari triwulan II 2021 yang tercatat tumbuh 7,07%, Wira bilang, ekonomi Indonesia berada di dalam jalur pemulihan yang tepat. Pasalnya negara seperti Malaysia dan Thailand masih mengalami pertumbuhan negatif akibat dampak penyebaran varian delta covid-19.

Namun Wira tak menampik ekonomi yang didorong pada ekspor komoditas itu rentan dan tak stabil. Menurutnya, kesadaran itu juga ditangkap oleh pemerintah. Dia bilang, upaya hilirisasi industri pertambangan menjadi salah satu upaya agar Indonesia tak melulu bergantung pada ekspor komoditas semata.

Melalui hilirisasi, Indonesia bisa memiliki perekonomian yang lebih kuat dan berdaya tahan. "Selama ini kita menikmati ekspor dari SDA. Namun pemerintah dalam hal ini mengerti tidak bisa terus mengandalkan ekspor komiditas. Makanya kita melakukan hiliriasi, nikel misalnya, diakukan hilirisasi," imbuh Wira.

"Smelter di Gresik itu adalah usaha yang positif dari pemerintah agar bisa advance dari sisi ekspor dan tidak mengandalkan raw material," tambahnya.

Di kesempatan yang sama, Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence Sunarsip menilai, Indonesia sejatinya sedang berupaya menghindari fenomena Dutch Disease seperti satu dekade lalu. Ketergantungan ekspor komoditas tengah dialihkan kepada ekspor produk bernilai tambah yang pada akhirnya akan menciptakan industri baru.

Hal itu menurutnya patut diapresiasi, namun dia menekankan agar Indonesia bisa konsisten atas jalan yang sedang diupayakan tersebut. "Jadi konsistensi dalam melaksanakan UU minerba yang salah satunya adalah produsen komoditas harus punya smelternya. Memang ini butuh waktu, yang penting konsistensi itu dijaga. Jangan hari ini semangat smelter, hilirisasi, lalu kemudian hilang," kata Sunarsip. (Mir/E-1)

BERITA TERKAIT