18 November 2021, 17:20 WIB

ESDM: Porsi Pembangkit EBT Ditargetkan 50% pada 2035


 Insi Nantika Jelita | Ekonomi

KEMENTERIAN Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyiapkan peta jalan atau roadmap dalam mencapai target net zero emission atau nol emisi karbon pada 2060. Penyediaan tenaga listrik pun dibagi atas dua fase.

Fase pertama dari 2021 hingga 2030, di mana kontribusi pembangkit berbahan gas dan batu bara masih mendominasi. Fase berikutnya dari 2031 sampai 2060, yakni peran pembangkit energi baru terbarukan (EBT) akan dominan untuk mendukung transisi energi bersih

"Diperkirakan pada 2035 bauran pembangkit EBT mencapai hingga 50% yang didominasi oleh PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) baik berupa rooftop atau floating solar PV System dan lainnya," kata Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Percepatan Tata Kelola Mineral dan Batubara Irwandy Arif dalam konferensi pers virtual Asosiasi Pemasok Batu Bara dan Energi Indonesia (Aspebindo), Kamis (18/11).

Setelah 2030, pemerintah menargetkan mempensiunkan pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) secara bertahap. Tujuannya untuk mengejar bauran EBT yang didukung oleh penggunaan Battery Energy Storage System (BESS), dan kemudian pemanfaatan hidrogen untuk listrik.

"Serta membangun listrik tenaga nulkir hingga mencapai 35 MegaWatt (MW). Usaha ini tentunya harus bersungguh sungguh dan tantangannya sangat besar," ucap Irwandy.

Baca juga: Pertamina Kilang Siapkan 5 Inisiatif Menuju Transisi Energi

Irwandy juga menyinggung soal rogram co-firing biomassa pada pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang dinilai dapat menurunkan emisi karbon atau gas rumah kaca. Dia berujar, PLN telah melakukan uji co-firing dengan berbagai sumber biomassa, antara lain serbuk gergaji, serpihan kayu, cangkang inti sawit dan lainnya.

"Co-firing biomassa akan dilakukan di 52 lokasi PLTU milik PLN dengan total kapasitas 18GW. Hngga Juli 2021, pengujian telah dilakukan di 42 PLTU," jelasnya.

Dalam paparan Irwandy terlihat, pada 2040 nanti pemerintah akan menargetkan bauran pembangkit EBT dengan porsi 66% yang juga didominasi oleh PLTS, hidro dan bioenergi. Nantinya, penjualan motor konvensional akan diturunkan, lalu pemasangan lampu LED 70% dan bisa menurunkan emisi 796 juta ton CO2.

Lalu di 2050, porsi bauran EBT pun akan ditingkatkan menjadi 93%. Setahun sebelumnya, yakni di 2049, pemerintah akan memulai Commercial Operation Date (COD) Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir atau PLTN. Di 2050, penjualan mobil konvensional atau dengan sistem pembakaran juga mulai diturunkan.

Puncaknya di 2060, bauran EBT dicanangkan akan 100% di Indonesia, dengan memasifkan pemanfaatan hidrogen. Seluruh kendaraan motor akan berbasis listrik dan penurunan emisi hingga 1.526 juta ton CO2. (A-2)

BERITA TERKAIT