12 November 2021, 09:10 WIB

Hadapi Perubahan Iklim, Kementan Latih 3.000 Guru, Dosen dan Penyuluh Petanian


Dede Susianti |

BADAN Pemyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian terus melakukan pelatihan-pelatihan secara masif, memberikan pembekalan kepada seluruh elemen masyarakat.

Setelah sebelumnya menggelar pelatihan untuk lebih dari 2 juta petani muda, penyuluh pertanian dan lebih dari 7.000 camat di seluruh Indonesia, kini pelatihan diberikan kepada guru-guru, dosen-dosen, widyaiswara dan ribuan, penyuluh pertanian.

Training of Trainer (ToT) yang dilakukan oleh BPPSDMP, Kementan, berlangsung secara virtual selama dua hari, 11-12 November 2021.

Kepala Pusat Pelatihan Pertanian Lelu Nuryati menyebutkan peserta pelatihan jauh melampaui target. Target awal hanya 1.124 peserta yang terdiri dari 205 widyaiswara, 242 dosen, 57 guru dan 620 penyuluh pertanian, namun yang hadir atau ikut mencapai 3.000 lebih.

Ada dua kegiatan pada ToT tersebut yaitu Pengenalan Dampak Perubahan Iklim dan Teknologi Adaptasi dan Mitigasi di Sektor Pertanian dan pelatihan Sistem Agribisnis Modern Berbasis Smart Farming bagi petani milenial.

Sejumlah nara sumber dari Tim Perubahan Iklim dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian (BBSDLP) Bogor, dihadirkan.

Adapun materi yang diberikan diantaranya mengenai dampak perubahan iklim terhadap ketersediaan air, banjir opt dan jadal tanam, teknologi adaptasi serta ko benefit mitigasi.

Kemudian materi kedua soal dampak perubahan iklim terhadap tanah dan tanaman, teknologi adaptasi serta ko benefit mitigasi.

Materi lainnya ialah soal dampak perubahan iklim terhadap sub sektor peternakan dan teknnologi adaptasi dan ko benefit mitigasi.

Tujuannya kata Leli, memberikan pembekalan kepada widyaiswara, dosen, guru dan penyuluh pertanian agar dapat memahami apa yang dapat dilakukan dalam menghadapi perubahan iklim.

Dia menjelaskan pelatihan daring dengan mengikuti learning manajemen sistem atau LMS yang wajib diikuti oleh semua, karena terdata dalam sistem manajemen learning (LMS). Dalam LMS juga sudah tertera tugas mandiri yaitu pembuatan bahan ajar terkait materi pelatihan oleh peserta.

"Kami berharap semua materi tersebut dituangkan ke dalam bahan ajar yang selanjutnya digunakan dalam rangka sosialissi dan juga pelatihan di wilayah masing- masing,"ungkapnya.

Ancaman Bagi Pertanian

Kepala Badan PPSDMP Kementan Dedi Nursyamsi menjabarkan tentang kondisi perubahan iklim dan dampaknya, utamanya di sektor pertanian.

Menurutnya saat ini sudah dan sedang memasuki perubahan iklim. Hal itu disebabkan karena di bumi ini semakin panas, terjadi peningkatan suhu di permukaan bumi.

Peningkatan suhu ini akan menyebabkan es di kutub utara dan selatan mencair yang berakibat si level atau permukaan air laut meningkat.

Dampak pada sektor pertanian, lanjutnya, dari berbagai riset menunjukkan dengan meningkatnya suhu akan terjadi penurunan produktifitas. Karena fotosintesis untuk mendapatkan fotosintat itu sangat dipengaruhi oleh suhu.

"Apabila suhu terlalu tinggi maka respirasi akan dominan dibandingkan dengan metabolaisme, dibandingkan dengan anabolisme. Sehingga hasil fotosintat akan berkurang. Itulah yang menyebabkan peningkatan suhu akan menurunkan produktifitas. Terutana itu akan terjadi di negara kita, negara tropis,"ungkapnya.

Lebih jauh dia mejelaskan, bahwa lahan sawah kita yang berjumlah 7,4 juta hektare sebagian besar berada di lahan pesisir. Sehingga kalau air laut meningkat permukaannya, itu berarti lahan-lahan sawah kita akan tergenang.

Bukan hanya itu, intrusi air laut yang dapat meracuni pertunbuhan tanaman padi juga akan meningkat. Sehingga ini juga akan sama, akan menurunkan produktivitas pertanian terutama lahan- lahan sawah yang ada di pesisir.

"Sekali lagi ternyata dampak perubahan iklkm yang diindikasikan oleh perubahan suhu itu dapat mengganggu sistem produksi pertanian kita,"katanya.

Dia juga menyebutkan bahwa dampak perubahan iklim ternyata bukan hanya dicirikan oleh peningkatan suhu dan dicirikan oleh peningkatan permukaan air laut , tapi ternyata iklim ekstrem baik itu berupa elnino atau kemarau panjang, lanina atau iklim basah juga meningkat. Baik itu intensitasnya maupun kualitasnya. (OL-13)

Baca Juga: 135 Tempat Wisata di DIY Sudah Dibuka

BERITA TERKAIT