12 November 2021, 07:00 WIB

Kinerja Asuransi Tidak Optimal Akibat Dampak Pandemi


Mediandonesia.com | Ekonomi

LEMBAGA  Riset Media Asuransi (LRMA) menemukan pandemi yang melanda Indonesia sejak awal 2020 benar-benar membuat kinerja industri Indonesia mengalami tekanan. 

Pemimpin LRMA Mucharor Djalil mengatakan pandemi vovid-19 yang mengakibatkan kontraksi ekonomi nasional memiliki multiplier effect terhadap penurunan kinerja perusahaan asuransi baik asuransi jiwa maupun asuransi umum. 

Berdasar  hasil kajian Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA), terlihat jelas dampak pandemi covid-19 yang melanda Indonesia hampir 10 bulan terakhir di tahun 2020.  LRMA melakukan kajian  atas laporan keuangan publikasi 70 perusahaan asuransi umum.

LRMA mencatat, premi bruto asuransi umum turun 3,79%, dari Rp 59,93 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 57,66 triliun per Desember 2020. Sedangkan premi neto turun 4,25 persen yoy, dari Rp 34,94 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 33,45 triliun per Desember 2020.

Namun di sisi lain, nilai klaim tetap tumbuh di masa pandemi ini. Klaim neto industri asuransi umum tumbuh 5,57%, dari Rp 19,84 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 20,94 triliun per Desember 2020.  Sementara itu utang klaim turun 18,56%, yakni dari Rp 1,32 triliun per Desember 2019 menjadi Rp1,08 triliun per Desember 2020.

“Penurunan utang klaim ini melanjutkan apa yang terjadi pada periode tahun sebelumnya, yakni utang klaim 2019 jika dibandingkan dengan utang klaim 2018 yang turun 14,35 % yoy,” kata Mucharor Djalil, pada acara webinar dan  Best Insurance Award 2021, di Jakarta, Kamis (11/11).

Secara keseluruhan, nilai aset industri asuransi umum tercatat naik 3,15%, dari Rp 134 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 138,23 triliun per Desember 2020. 

Seiring peningkatan aset, nilai investasi juga meningkat 0,90 %, dari Rp 68,73 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 69,35 triliun per Desember 2020. Sedangkan nilai ekuitas tumbuh 5,95%, dari Rp 50,47 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 53,47 triliun per Desember 2020.

Sementara untuk asuransi jiwa, Mucharor mengatakan, harus diakui pencapaian kinerja industri asuransi jiwa secara keseluruhan di sepanjang 2020 berdasarkan tabel sajian dari LRMA hasilnya masih belum lebih baik dibanding tahun sebelumnya. 

Laba (rugi) sebelum pajak berubah positif dari Rp 13,16 triliun pada 2019 menjadi Rp 14,39 triliun di 2020. Pendapatan premi tumbuh sangat tipis 1,61%, dari Rpv165,54 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 168,20 triliun per Desember 2020.

Pertumbuhan premi ini tetap diikuti klaim yang melonjak dari tahun sebelumnya.  Beban klaim dan manfaat naik 53,25% , dari Rp 136,43 triliun di 2019 menjadi Rp 209,08 di 2020. 

Sementara itu, dari sisi aset naik 2,84 persen, dari Rp 514,24 triliun per Desember 2019 menjadi Rp 528,85 triliun per Desember 2020. Ekuitas tumbuh 3,56%, dari Rp 104,55 triliun di 2019 menjadi Rp 108,27 triliun di 2019.

Untuk kinerja Reasuransi 2020, tahun 2020 menjadi tahun sangat menantang bagi perusahaan reasuransi Tanah Air. 
 
Hasil kajian LRMA  atas laporan keuangan publikasi perusahaan reasuransi periode 2019-2020 mencatat bahwa mayoritas perusahaan reasuransi mencatatkan kontraksi pendapatan premi bruto. 

LRMA mencatat bahwa dari 18 indikator keuangan industri reasuransi, sebanyak 6 indikator mencatatkan kontraksi yaitu indikator kas dan bank, hasil underwriting, jumlah beban usaha, laba sebelum pajak, laba setelah pajak, dan rasio beban (rata-rata industri). 

Padahal, tahun 2019, hanya satu indikator keuangan yang mengalami kontraksi yaitu rasio beban (rata-rata industri). Dari sisi pertumbuhan pun sejumlah indikator keuangan pada 2020 tercatat melambat dibandingkan kinerja 2019. 

Sejalan dengan itu, pertumbuhan cadangan teknis hanya 5,17 persen tahun 2020 menjadi Rp 10,46 triliun dibandingkan pada 2019 sebesar Rp 9,95 triliun. Namun, beban klaim neto naik 11,54 persen menjadi Rp 5,79 triliun pada 2020. Alhasil secara bottom line, industri reasuransi sepanjang 2020 membukukan penurunan laba setelah pajak 27,94 persen menjadi Rp 476,38 miliar dibandingkan 2019 sebesar Rp 661,07 miliar. 

Meski membukukan penurunan kinerja profitabilitas, industri reasuransi berhasil menjaga tingkat solvabilitas-nya dimana rasio Risk Based Capital (RBC) rata-rata industri pada 2020 tumbuh 9,13% menjadi 497 % dibandingkan dengan 2019 sebesar 455 %. Sementara itu, rata-rata rasio kecukupan investasi (RKI) juga naik 11,74 persen pada 2020 menjadi 289,4% dibandingkan dengan 2019 sebesar 259%. 

Berdasarkan data  hasil riset yang dilakukan oleh Lembaga Riset Media Asuransi (LRMA), maka Dewan Juri memutuskan ada 36 perusahaan yang berhak atas predikat Best Insurance 2021, yakni 15 perusahaan asuransi jiwa, 15 perusahaan asuransi umum, tiga perusahaan reasuransi, dan tiga perusahaan asuransi & reasuransi syariah. 

"Bagi yang tahun ini tidak masuk daftar Best Insurance 2021, jangan berkecil hati. Karena bagaimanapun telah mampu lolos dari persyaratan minimal, yaitu menerbitkan Laporan Keuangan Publikasi per Desember 2020 tepat waktu sebagaimana ditentukan oleh Otoritas Jasa Keuangan," kata Ketua Dewan Juri  Insurance Award 2021 Media Asuransi Tatang Nurhidayat. (RO/E-1)

 

BERITA TERKAIT