09 November 2021, 21:32 WIB

Tutup 97 Rute Penerbangan, Garuda : Tidak Menguntungkan 


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

DIREKTUR Utama PT Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengakui, pihaknya telah banyak menutup rute-rute penerbangan komersial, baik internasional maupun domestik. 

Rute Garuda pun turun dari 237 menjadi 140 rute atau ada 97 rute yang ditutup. Menurutnya, penutupan tersebut karena tidak membawa untung bagi perusahaan pelat merah itu. 

"Yang bikin masalah itu ada excitement atau gaya-gayaan ke tempat yang tidak jelas. Amsterdam, London, Nagoya (Jepang) kita tutup. Pak Erick Thohir (Menteri BUMN) bolak balik sampaikan ke direksi, tutup kalau tidak menguntungkan," ujarnya saat Rapat Kerja dengan Komisi VI DPR di Kompleks Senayan, Selasa (9/11). 

Namun, tidak dijelaskan detail berapa kerugian yang dicatat Garuda akibat pembukaan rute tersebut. 

Pihaknya masih membuka rute internasional ke Tiongkok, Australia untuk penerbangan kargo karena dinilai menguntungkan perusahaan. 

"Itu pun terbangnya seminggu sekali. Jeddah kita masih tutup. Saya monitor satu satu rute, kargo kita menanjak. Tapi, rute dan frekuensi kami kurangi. Ke Yogyakarta cuma bisa berangkat pagi, karena jumlah pesawat kita berkurang," urai Irfan. 

Baca juga : Gerindra Usulkan Pembentukan Panja Penyelamatan Garuda Indonesia

Begitu pun dengan rute domestik, Garuda juga menegaskan terpaksa menutup penerbangan ke Tarakan, Kalimantan Utara, karena sepi penumpang. 

"Garuda harus untung. Tapi, ada banyak tekanan buka rute, kami minta dukungan, kalau bilang tutup, ya harus tutup, seperti ke Tarakan, maaf," tuturnya. 

Sementara itu, Wakil Menteri BUMN II, Kartika Wirjoatmodjo menyatakan, dari 142 unit pesawat yang dimiliki Garuda, saat ini yang beroperasi hanya 50-60 unit. Pesawat tersebut dioperasikan di rute-rute potensial seperti ke bandara Ngurah Rai di Denpasar, Bali. 

"Kami sudah mendapatkan banyak komplain selama sebulan terakhir flight Garuda makin langka, karena pesawatnya di-grounded," ucapnya. 

Sebagian pesawat Garuda pun telah dikembalikan kepada lessor seperti pesawat Boeing 737. Adapun Garuda saat ini lebih banyak mengoperasikan pesawat berbadan lebar atau widebody. 

Jumlah pesawat, lanjut Wamen BUMN juga akan menurun drastis, dari 202 pesawat di 2019, menurun menjadi 134 pesawat di tahun depan karena sebagian sudah dikandangkan oleh lessor. (OL-7)

BERITA TERKAIT