08 November 2021, 21:20 WIB

Alasan Australia Tetap Jual Batu Bara dan Buka PLTU


Atikah Ishmah Winahyu | Ekonomi

AUSTRALIA akan menjual batu bara dalam beberapa dekade ke depan setelah menolak pakta untuk menghapus bahan bakar fosil yang berpolusi guna menghentikan bencana perubahan iklim.

Lebih dari 40 negara berjanji untuk menghilangkan penggunaan batu bara dalam beberapa dekade selama KTT iklim PBB COP26 di Glasgow. Ini bertujuan membatasi pemanasan bumi sejak Revolusi Industri menjadi antara 1,5 dan 2,0 derajat celsius.

Australia, bersama dengan beberapa pengguna batu bara utama lain seperti Tiongkok dan Amerika Serikat, tidak mengikuti perjanjian itu. "Kami telah mengatakan dengan sangat jelas bahwa kami tidak menutup tambang batu bara dan kami tidak menutup pembangkit listrik tenaga batu bara," kata Menteri Sumber Daya Australia Keith Pitt kepada penyiar nasional ABC pada Senin (8/11).

Membela keputusan Australia, Pitt mengatakan Australia memiliki beberapa batu bara kualitas tertinggi di dunia. "Itulah alasan kami akan terus memiliki pasar selama beberapa dekade ke depan. Jika mereka membeli ya kami menjual," tambahnya.

Dia menuturkan, permintaan batu bara diperkirakan akan meningkat hingga 2030. "Jika kami tidak memenangkan pasar itu, orang lain yang akan memenangkannya," ujar Pitt.

"Saya lebih suka itu menjadi produk berkualitas tinggi Australia, memberikan pekerjaan bagi Australia, dan membangun ekonomi Australia daripada datang dari Indonesia atau Rusia atau tempat lain," imbuhnya.

Australia merupakan salah satu produsen batu bara dan gas alam terbesar di dunia. Akan tetapi Negeri Kanguru itu juga dilanda kekeringan, banjir, dan kebakaran hutan yang dipicu oleh iklim yang semakin ekstrem dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Perdana Menteri Australia Scott Morrison bulan lalu mengumumkan target emisi bersih 2050, tetapi rencana itu dikritik karena kurang detail dan sangat bergantung pada terobosan teknologi yang belum diketahui. Dewan Mineral Australia, yang mewakili penambang besar seperti BHP dan Rio Tinto, mengatakan target 2050 dapat dicapai melalui investasi yang signifikan dalam teknologi.

Pitt mengatakan sekitar 300.000 pekerjaan orang Australia bergantung pada sektor batu bara. Dewan Mineral Australia mengatakan industri batu bara secara langsung mempekerjakan 50.000 pekerja sambil mendukung 120.000 pekerjaan lain.

Kelompok pertambangan besar seperti BHP mengatakan mereka keluar dari bahan bakar fosil yang paling berpolusi itu. Dalam divestasi terakhirnya, BHP mengumumkan pada Senin bahwa mereka telah menjual 80% sahamnya di tambang batu bara metalurgi, negara bagian Queensland bagian timur, kepada Stanmore Resources setidaknya senilai US$1,2 miliar.

Baca juga: Perusahaan Prancis dan Tiongkok Mulai Bangun Pabrik Litium Argentina

"Ketika dunia mengalami dekarbonisasi, BHP mempertajam fokusnya untuk memproduksi batu bara metalurgi berkualitas tinggi yang dicari oleh pembuat baja global untuk membantu meningkatkan efisiensi dan menurunkan emisi," kata kepala pertambangan Australia, Edgar Basto, dalam suatu pernyataan. (France24/OL-14)

BERITA TERKAIT