03 November 2021, 20:25 WIB

Komitmen Deforestasi dan Perubahan Iklim Perlu Terus Dikawal


Mediaindonesia.com |

PEMERINTAH Indonesia berkomitmen mengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% secara mandiri, atau 41% dengan bantuan internasional, pada tahun 2030. 

Sektor kehutanan dan pengunaan lahan lainnya (FOLU) diyakini akan berkontribusi hingga 60% dari total target penurunan emisi yang ingin direngkuh Indonesia.

Deputi I Kantor Staf Presiden, Febry Calvin Tetelepta dalam Pembukaan Webinar yang bertajuk “Deforestasi Dan Komitmen Perubahan Iklim Indonesia Menuju COP-26  yang diselenggarakan oleh Jokowi Centre mengatakan bahwa, laju deforestasi Indonesia turun signifikan, bahkan terendah dalam 20 tahun terakhir. Hal itu juga diikuti dengan persentase kejadian kebakaran hutan turun 82% pada 2020. 

Dalam sambutan pembukanya, Febry menjelaskan keberhasilan pengelolaan iklim di Indonesia dapat dicapai karena Indonesia menempatkan aksi iklim dalam konteks pembangunan berkelanjutan dimana aspek lingkungan tetap diperhatikan dalam mengejar pertumbuhan ekonomi.

Namun demikina,  deforestasi netto baik di dalam maupun di luar kawasan hutan Indonesia masih terjadi. Komitmen baik Indonesia dalam mengatasi perubahan iklim perlu ditingkatkan lagi. Pasalnya pada periode tahun 2019 – 2020 deforestasi terjadi sebanyak 115,46 ribu ha (KLHK, 2021). 

"Bila dibiarkan tanpa intervensi dan pengawasan ketat, misi melakukan penyerapan karbon netto di sektor kehutanan dan pengunaan lahan
(FOLU) akan jauh panggang dari api," ujar Febry. 

Senanda dengan itu, Sesditjen Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan, Hanif Faiso Nurofiq mengutarakan bahwa upaya pemeritnah dalam menurunkan carbon dilakukan dalam 2 skenario. Pertama,  sektor kehutanan diharapkan dapat berkontribusi sebesar 17.20% dengan usaha sendiri dan  kedua, sebesar 24.10% dengan bantuan internasional. Upaya yang dilakukan salah satunya dengan cara mengurangi emisi dari deforestasi dan lahan gambut. 

Di sisi lain, deforestasi yang menunjukan tren penurunan ternyata masih dipertanyakan publik. Program food estate yang dilancarkan pemerintah membawa dampak ekologis. "Program itu sukses melancarkan deforestasi di tanah Papua, ujar Maryo Econusa.

Namun dibalik program pemerintah yang tengah bergulir, nyatanya tumpang tindah hak penggunaan lahan yang dekat dengan kawasan hutan masih saja belum dapat dituntaskan.

Fenomena ini jadi ancaman karena masyarakat sekitar kawasan mengantungkan kehidupannya dengan keadaan hutan yang lestari. 

Seperti juga  yang terjadi di hutan Teringkang , Desa Gunam, Kalimantan barat , banyak sumberdaya yang ada di dalam hutan yang akan hilang bila hutan tidak dijaga. "Sehingga sumberdaya penting yang dimiliki masyarakat dan sangat pantas untuk diperjuangakan dan dipertahankan” tegas Tirza, analis Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS).

Partipasi Masyarakat 

Partisipasi masyarakat juga menjadi kunci dalam perencanaan perlindungan area hutan yang mengelaborasi pandangan masyarakat dalam menentukan kawasan – kawasan penting di dalam hutan. "Termasuk petani sawit yang turut membantu penyelamatan hutan Indonesia, papar
Tirza.

Hariadi Kartodiharjo dalam paparannya mengatakan persoalan tata kelola kehutanan sangat rumit dan sangat dekat sekali dengan korupsi institusional. Tumpang tindih status kawasan masih jadi masalah dalam tatakelola kehutanan. 

“Ini bukan persoalan perorangan tetapi sistem yang bekerja terjadi secara sistematis sehingga disebut dengan korupsi institusional”, jelas
Guru Besar Fakultas Kehutan IPB University tersebut. 

Ia juga menekankan bahwa upaya pemerintah untuk mewujudkan keadilan pemanfaatan SDA/Hutan masih terbentur dengan persoalan instusi, sehingga peran masyarakat sipil perlu terus diperkuat dalam mengimbangi
dan mengontrol pelaksanaan good governace yang baik di sektor kehutanan.

Dalam sesi terakhir, Sekjen Jokowi Centre, Imanta Ginting mengungkapkan bahwa komitmen pemerintah dalam pengarustutaman perubahan iklim sangat jelas dan terukur.

Dalam CEOs Forum di Glasgow,  Presiden menyampaikan bahwa Indonesia telah mengadopsi Strategi Jangka Panjang Rendah Karbon dan Ketahanan Iklim 2050, serta road map yang detail untuk mencapai target net zero emission pada 2060.

"Langkah konret teresebut membuat Indonesia dipandang serius oleh negara – negara lain dalam pengarustamaan perubahan iklim. Untuk itu integrasi peran antara pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan akademisi menjadi kunci dalam mengejar target tersebut," tegas Imanta

BERITA TERKAIT