01 November 2021, 19:01 WIB

PMI Manufaktur Indonesia 57,2, Tertinggi dalam Sejarah 


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

PURCHASING Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia mencapai rekor tertinggi di angka 57,2 di Oktober 2021. Posisi itu meningkat dibanding September yang tercatat sebesar 52,2. 

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu menuturkan, posisi PMI manufaktur Indonesia itu mencerminkan kondisi usaha yang terus membaik di seluruh sektor manufaktur. 

"Penurunan kasus Covid-19 yang berakibat pada pelonggaran pembatasan aktivitas disinyalir telah menyebabkan peningkatan aktivitas sektor manufaktur bulan Oktober," ujarnya melalui siaran pers, Senin (1/11). 

Per 31 Oktober 2021, kasus harian rata-rata sudah kembali ke tiga digit di angka 523 kasus harian dengan total 12.318 kasus aktif. Angka rata-rata vaksinasi harian juga sangat menggembirakan yaitu mencapai 2 juta suntikan per hari. 

Saat ini, sudah 73.806.588 orang yang mendapatkan vaksinasi lengkap atau setara dengan 35,44% dari total target 208.265.720 orang untuk mendapatkan kekebalan kelompok. Peningkatan situasi penanganan pandemi ini merupakan hasil kerja keras semua pihak dalam penanganan pandemi. 

Adapun program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) menunjukkan kenerja yang cukup baik dengan tercatat mencapai Rp433,91 triliun, atau sebesar 58,3% dari alokasi Rp744,77 triliun hingga 22 Oktober 2021. 

Anggaran PEN digunakan untuk klaster kesehatan sebesar Rp214,96 triliun, klaster perlindungan sosial Rp186,64 triliun, klaster UMKM dan korporasi sebesar Rp162,4 triliun, klaster insentif usaha sebesar Rp62,83 triliun, serta klaster program prioritas sebesar Rp117,94 triliun. 

Febrio bilang, output dan permintaan baru mencatatkan rekor di bulan Oktober seiring dengan membaiknya situasi covid-19. Namun demikian, permintaan ekspor baru masih mengalami kontraksi karena adanya gangguan pandemi dan hambatan pengiriman (shipping) yang terus mempengaruhi permintaan ekspor. 

Baca juga : Indonesia Dorong Pemulihan Ekonomi Global Lewat Reformasi Perpajakan Internasional 

Permintaan yang menguat membuat perusahaan manufaktur memperluas kapasitas operasi dengan meningkatkan jumlah tenaga kerja untuk pertama kali dalam empat bulan. Namun demikian, akumulasi penumpukan pekerjaan masih sedikit meningkat karena kenaikan tenaga kerja belum dapat menutupi tingginya kenaikan permintaan. 

Baik kuantitas maupun stok pembelian mencatatkan kenaikan yang mencetak rekor. Sementara itu, stok barang jadi menurun karena tingginya permintaan belum dapat diikuti dengan kenaikan input. 

Kurangnya pasokan menyebabkan terjadinya inflasi input dalam delapan tahun terakhir, dengan banyak perusahaan menyebutkan kenaikan biaya bahan baku. Kenaikan inflasi input ini membuat perusahaan meneruskan sebagian beban biaya kepada klien sehingga biaya output juga tercatat meningkat, meski lebih lambat dibandingkan September. 

Secara umum, imbuh Febrio, sentimen bisnis secara keseluruhan membaik didorong harapan atas terus memulihnya situasi covid-19. "Untuk itu, pemerintah harus terus mempertahankan kerja kerasnya terkait penanganan covid-19 dan vaksinasi agar kasus terus terkendali, terutama dengan adanya libur Natal di depan," tuturnya. 

"Kerja sama masyarakat untuk tetap menjalankan protokol kesehatan juga harus terus didorong untuk mendukung pemulihan sektor manufaktur lebih lanjut," sambung Febrio. 

Sebelumnya, dalam laporan IHS Market yang dirilis pada Senin (1/11) menyebutkan, penurunan kasus covid-19 dan pelonggaran Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mendorong pemulihan di sektor manufaktur Indonesia. 

Kondisi manufaktur Indonesia yang berada di level ekspansif disebut megalami pertumbuhan tertinggi sejak survei dilakukan pada April 2011. Namun IHS Markit menyoroti kontraksi yang terjadi pada permintaan luar negeri meski berada dalam kategori yang ringan. (OL-7)

BERITA TERKAIT