31 October 2021, 17:28 WIB

Hilirisasi Inovasi, AII Aktif Jembatani Inovator dan Dunia Usaha 


mediaindonesia.com | Ekonomi

RISET dan inovasi menjadi kekuatan utama untuk memajukan negara. Idealnya, para akademisi dan lembaga penelitian bergerak di bidang riset, menghasilkan penemuan-penemuan inovatif untuk mengatasi berbagai masalah, juga mempermudah hidup masyarakat.

Hasil inovasi itu kemudian ditangkap oleh dunia usaha, diproduksi menjadi produk dan layanan yang membawa manfaat untuk semua. Itulah alur ideal yang semestinya terjadi agar hasil-hasil penelitian benar-benar bisa diaplikasikan di masyarakat.

Namun, selama ini, ada kesenjangan antara innovator dengan dunia usaha. “Inovator harus melewati apa yang disebut ‘lembah kematian’ untuk menuju dunia usaha," jelas Ketua Umum Asosiasi Inventor Indonesia (AII),  Prof. (R) Ir. Didiek Hadjar Goenadi, MSc, Ph.D, INV., pada temu media di Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia, Bogor, Sabtu (30/10).

"Jika berhasil melewati ‘lembah kematian itu, inovasi yang dihasilkan akan diserap dunia usaha sehingga bisa dihilirisasi dan dipakai masyarakat banyak," kata Didiek.

"Sebaliknya, jika innovator gagal melewati ‘lembah kematian’ itu, inovasinya sebatas di atas kertas, masuk laci, tanpa bisa dikembangkan lebih lanjut. Bahkan perolehan paten pun tidak bisa menjamin inovasi tersebut bisa dihilirisasi,” papar Didiek.

‘Lembah kematian’ yang dimaksud ialah berbagai tantangan yang menghadang. Baik itu dari sisi pembiayaan untuk pengembangan lebih lanjut, kebijakan pemerintah yang kurang mendukung, ketidaksesuaian antara inovasi dengan kebutuhan masyarakat masa kini, maupun tantangan lainnya.

“Harus ada pihak yang menjembatani sehingga tantangan-tantangan itu bisa diatasi sehingga sebuah inovasi bisa melewati ‘lembah kematian’ menuju hilirisasi di sisi industri,” imbuh Didiek.

Hal itulah yang menjadi salah satu tujuan berdirinya AII, yakni menjadi ‘jembatan’ agar inovator  berhasil melewati ‘lembah kematian’. Berdiri pada 18 Juli 2008, AII berupaya mencapai tujuan tersebut melalui sejumlah kegiatan.

Antara lain, membina para calon inventor, mengevaluasi paten yang siap untuk dihilirisasi, serta mempertemukan antara inovator dan investor atau kalangan industri.

Untuk membahas lebih dalam mengenai ‘lembah kematian’ itu, AII akan menggelar webinar nasional bertajuk Death Valley pada 10 November 2021 dengan menampilkan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dr. laksana Tri handoko, M.Sc sebagai keynote speaker.

Pengembangan kelapa kopyor 

Pada kesempatan itu, ditampilkan hasil penelitian yang sukses dihilirisasi, yakni produksi kelapa kopyor dari bibit yang dikembangkan dengan teknologi kultur embrio di Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia.

Kelapa kopyor adalah kelapa yang mengalami mutasi genetik. Sehingga daging buahnya lebih tebal, lembut, dan lepas dari batok kelapanya.  Rasanya yang segar gurih menjadikannya cocok sebagai bahan pembuat minuman segar. 

“Dulu, orangtua kita mendapatkan kelapa kopyor secara untung-untungan, karena dalam satu pohon kelapa belum ada kelapa kopyornya. Tapi sekarang, dengan teknologi kultur embrio, kami menghasilkan bibit kelapa kopyor yang 99% buahnya dijamin kopyor,” terang Direktur Pusat Penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia, Dr. Ir. Priyono, DIRS.

Bibit yang dihasilkan berjenis genjah. Pohonnya pendek, sehingga saat panen, pemanen tidak perlu memanjat. Pohonnya bisa dipanen setelah berusia 4 tahun dan bisa ditanam dengan kerapatan 204-234 pohon per hektare. Potensi produksinya mencapai 100-150 butir kelapa kopyor per pohon per tahun.  

Sejauh ini bibit maupun kelapa kopyor yang dihasilkan kebun milik Pusat penelitian Bioteknologi dan Bioindustri Indonesia sudah dipasarkan ke penjuru Nusantara. Harga bibit berkisar Rp.1 juta per bibit. Adapun kelapa kopyor dihargai Rp40.000 per butir.

Selain dijual dalam bentuk kelapa utuh, ada pula yang dalam bentuk kelapa kopyor beku dalam kemasan yang sudah dibekukan. Daging kelapa kopyor beku bisa bertahan dalam freezer hingga satu tahun tanpa mengubah rasa dan kesegarannya saat dikonsumsi. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT