26 October 2021, 18:07 WIB

Melangkah ke Bursa, Perolehan Dana IPO Mitratel Bisa Kalahkan Bukalapak


Mediaindonesia.com | Ekonomi

 PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk atau Mitratel, perusahaan menara telekomunikasi terbesar di Indonesia, mengumumkan akan melangsungkan penawaran umum perdana (Initial Public Offering/IPO) dengan menawarkan sebanyak-banyaknya 29,85% saham kepada publik. 

Anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) ini menunjuk PT BRI Danareksa Sekuritas, HSBC, JP Morgan, PT Mandiri Sekuritas, dan Morgan Stanley sebagai joint bookrunners dan joint global coordinators

BRI Danareksa Sekuritas bersama Mandiri Sekuritas juga bertindak sebagai joint lead managing underwriters dan domestic underwriters.

Adapun roadshow dan penawaran awal (bookbuilding) saham Mitratel dijadwalkan pada 26 Oktober - 4 November 2021. Pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) diharapkan terbit pada 12 November 2021. Setelah diperolehnya pernyataan efektif dari OJK, penawaran
umum akan dilaksanakan pada 16-18 November 2021 dan pencatatan saham (listing) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 22 November 2021.

"Saham yang ditawarkan seluruhnya saham baru yang terdiri dari sebanyak-banyaknya 25.540.000.000, mewakili 29,85% dari modal Mitratel setelah IPO," kata Direktur PT BRI Danareksa Sekuritas Boumediene Sihombing, dalam konferensi pers, Selasa (26/10).

Direktur Penilaian Perusahaan BEI I Gede Nyoman Yetna mengatakan perolehan dana dari IPO   Mitratel berpotensi mengalahkan perolehan dana dari Bukalapak.

"Perkiraan dana yang akan diperoleh Mitratel berkisar Rp19,79 triliun hingga Rp24,90 triliun. Dengan mempertimbangkan angka-angka tersebut, dan apabila proses Penawaran Umum saham Mitratel berjalan sesuai rencana perusahaan, maka nilai fund raising Mitratel berpotensi melebihi Bukalapak," kata Nyoman, Selasa (26/10).

Pada tahun 2021, nilai fund raising saham yang terbesar adalah penerbitan saham oleh PT Bukalapak Tbk dengan nilai fund raising sebesar Rp21,90 triliun. Sedangkan nilai fund raising tertinggi yang berasal dari right issue, dilakukan oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk sebesar Rp95,9 triliun.

Sampai saat ini, indikator pasar modal Indonesia masih dinilai positif bila ditinjau dari jumlah Perusahaan Tercatat yang melakukan fund raising di pasar modal.

Pertumbuhan jumlah investor maupun IHSG juga mengalami perkembangan yang relatif baik dibandingkan tahun lalu. Stabilitas ekonomi yang tetap terjaga, pemulihan ekonomi yang terus berlanjut, sentimen positif pada perkembangan ekonomi global maupun domestik, serta dukungan regulator-regulator terkait, menimbulkan kepercayaan dan optimisme bagi para pelaku pasar modal.

Hal-hal tersebut menjadi pertimbangan penting bagi pasar dalam merespon seluruh aktifitas yang ada di pasar modal termasuk fund raising.

Direktur PT BRI Danareksa Sekuritas Boumediene Sihombing menjelaskan  rentang harga yang ditawarkan antara Rp 775 - 975 per lembar saham. Dengan harga itu, setara dengan 11-13 kali enterprise value (EV)/Ebitda tahun 2022 proyeksi perusahaan. 

Setelah IPO akan berlaku ketentuan locked up selama 8 bulan, bagi PT Telkom Indonesia Tbk sebagai pemegang saham utama, dan 12 bulan bagi emiten Mitratel.

Sesuai rencana, Perseroan akan menggunakan 40% dana hasil IPO untuk belanja modal (capital expenditure) organik. Lalu sekitar 50% untuk belanja modal anorganik, dan 10% untuk modal kerja serta kebutuhan Perseroan lainnya.

Direktur Keuangan Mitratel Hendra Purnama mengatakan fokus perusahaan akan pada pertumbuhan organik, menambahkan  tower, meningkat colocation atau penempatan mesin komputer atau i. Lalu pada rencana pertumbuhan anorganik, perusahaan akan mengakuisisi dari 6.000 tower.

Konsolidasi memang diharapkan terjadi di industri sektor tower, agar efisien bag pada para pemainnya. Akuisisi untuk pertumbuhan anorganik, perusahaan tidak membatasi hanya bersumber dari tower Telkomsel atau Telkom, tetapi bisa dari pihak manapun.

"Kami juga bergerak menuju infrastruktur digital dan meningkat efisiensi baik secara vendor manajemen maupun pengembangan IT," kata Hendra.

Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko mengatakan perusahaan telah mengelola lebih dari 28.000 menara di di Indonesia. Ke depannya, Mitratel berencana untuk ekspansi jangka panjang ke pasar Asia Tenggara dan Asia Pasifik.

"Kami akan terus menyediakan layanan infrastructure solution dengan kualitas prima dan harga yang kompetitif, demi memberikan value yang tinggi bagi para investor,” kata Theodorus.

Terpisah, Menteri BUMN Erick Thohir mengapresiasi setinggi-tingginya kepada Telkom karena telah sukses membawa salah satu anak usahanya, yaitu Mitratel, menjadi perusahaan menara telekomunikasi terbuka.

“IPO Mitratel diharapkan mampu memberikan dampak positif yang berkelanjutan bagi Mitratel, TelkomGroup, BUMN dan juga negara. Semoga Mitratel dapat membangun market leadership di industri tower provider yang merupakan infrastruktur telekomunikasi nasional oleh BUMN dan anak usaha demi memperkuat ketahanan digital nasional," kata Erick. (RO/E-1)

BERITA TERKAIT