24 October 2021, 22:40 WIB

Airlangga: Industri Butuh SDM Cakap Teknologi


M Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

MENTERI Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menuturkan, sektor industri harus melakukan penyesuaian dalam menjalankan bisnis, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Karenanya, diperlukan sumber daya yang cakap dan mampu mengadopsi perkembangan teknologi agar industri tak tertinggal oleh pasar. "Oleh karena itu, perkembangan sektor pendidikan sebagai penyedia Sumber Daya Manusia (SDM) atau tenaga kerja harus bisa menyesuaikan dinamika perubahan yang semakin cepat di sektor industri ini," kata Airlangga dikutip dari siaran pers, Minggu (24/10).

Dia menambahkan, akselerasi dalam meningkatkan kualitas SDM memerlukan koordinasi dan sinergi menggunakan konsep pentahelix yang di dalamnya terdapat unsur pemerintah, komunitas, akademisi, pengusaha dan media bersatu membangun kebersamaan dalam pembangunan. Dalam hal ini, pemerintah berupaya tidak hanya melakukan perbaikan di sistem vokasi tetapi juga mempermudah akses masyarakat terhadap pelatihan dengan menyelenggarakan Program Kartu Prakerja.

Melalui program tersebut, pemerintah mendorong agar masyarakat bisa meningkatkan kompetensinya melalui jenis-jenis pelatihan yang tersedia dan memilih pelatihan yang diinginkan. Program Kartu Prakerja telah diberikan kepada 11,4 juta masyarakat dengan total insentif lebih dari Rp22 triliun sejak pertama kali dibuka tahun 2020 lalu. "Kartu Prakerja dirancang tidak hanya untuk skilling bagi angkatan kerja tetapi juga upskilling dan reskilling bagi angkatan kerja lama yang aktif bekerja. Program ini juga diharapkan dapat meredam lonjakan pengangguran dan berperan dalam meningkatkan keterampilan masyarakat yang menjadi wirausaha," jelas Airlangga.

Dari sisi perlindungan terhadap para pekerja, saat ini Pemerintah memiliki program jaminan kehilangan pekerjaan yang memberikan bantuan tunai, bimbingan dan konseling karir serta pelatihan bagi korban PHK. Ini diharapkan dapat membantu para pekerja yang terkena PHK agar dapat bekerja kembali.

Sementara itu, akademisi diharapkan melakukan reformasi pendidikan dalam bentuk sinkronisasi dari sisi demand dan supply dalam pelatihan vokasi untuk tenaga kerja sehingga lembaga vokasi dapat fleksibel menyesuaikan dengan dinamika pekerjaan baru.
"Saya juga berharap para akademisi senantiasa mengembangkan diri mencari pengalaman di luar akademis serta membangun jaringan. Karena jaringan kerja sama sangat bermanfaat di lingkungan global yang semakin tanpa batas atau borderless era," pungkasnya. (OL-8)

BERITA TERKAIT