22 October 2021, 11:25 WIB

KADIN Pimpin Kolaborasi Swasta Indonesia di COP26 Glasgow


RO/Micom | Ekonomi

Jakarta - Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) akan menjadi bagian dari delegasi Indonesia pada Conference of Parties (COP) 26 di Glasgow, United Kingdom (UK) yang akan digelar tanggal 31 Oktober hingga 12 November 2021 mendatang. 
COP diketahui merupakan forum tingkat tinggi tahunan bagi 197 negara untuk membicarakan perubahan iklim serta langkah negara-negara di dunia untuk menanggulanginya. Keikutsertaan KADIN dalam kegiatan tersebut menjadi tonggak komitmen KADIN untuk mengajak seluruh sektor swasta mendukung terlaksananya komitmen Net Zero Emission Indonesia. Sektor energi, dimana ketenagalistrikan menjadi salah satu bagiannya, menyumbang 34% dari total emisi nasional sehingga dekarbonisasi sektor energi merupakan bagian penting dalam usaha menuju net zero emission. 
Muhammad Yusrizki yang menjabat sebagai Ketua Komite Tetap KADIN untuk Energi Baru dan Terbarukan (EBT) mengemukakan, di dalam sektor ketenagalistrikan, PLN memainkan peranan yang penting sebagai penggerak utama sektor ini di Indonesia. Rancangan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021 – 2030 memberikan sinyal positif bagi industri EBT dimana penambahan kapasitas pembangkitan dari EBT mencapai porsi 51% dari total tambahan kapasitas hingga 10 tahun ke depan. 
Menanggapi komitmen dari PLN, KADIN sebagai perwakilan sektor swasta nasional turut mendukung komitmen nasional dan mengambil peran aktif untuk menggerakkan sektor swasta. “Peran serta pihak swasta dalam rangka dekarbonisasi tidak dapat ditinggalkan, berkaca dari postur ekonomi nasional yang sangat banyak melibatkan pihak swasta,” ungkap Yusrizki melalui keterangan tertulisnya, Jumat (22/10/21).
Sementara itu, menyambung gelaran Road to COP26, KADIN melalui Komite Tetap Energi Baru dan Terbarukan, Kamis (21/10) telah meluncurkan ‘KADIN Net Zero Hub’ yang akan menjadi titik awal gerakan net zero bagi sektor swasta.
Peluncuran di kegiatan bertajuk “Road to COP26: Indonesian Pathway to Net Zero Emission-Energy Transition” yang diselenggarakan di Ritz Carlton, Pacific Place,Jakarta, ini turut mengundang pemangku kepentingan sektor ketenagalistrikan nasional, diantaranya Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) dan PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN). 
Yusrizki mengemukakan, “Road to COP26: Indonesian Pathway to Net Zero Emission – Energy Transition” yang digagas KADIN bertujuan mengkolaborasikan sektor swasta dalam agenda dekarbonisasi ketenagalistrikan Indonesia. 
Dimulai dengan acara Road to COP26 tersebut, KADIN ucapnya, akan mendorong perusahaan-perusahaan di Indonesia, para champions dari berbagai sektor, untuk melakukan deklarasi target net zero mereka. 
Sejumlah perusahaan dicontohkannya telah memulai target net zero, seperti Indika Energy, APRIL Group danGoJek, unicorn asal Indonesia, yang memiliki target Three Zeroes dimana salah satunya adalah zero emission. “Hanya dengan kolaborasi dan dukungan-dukungan dari pihak swasta Indonesia dapat memenuhi komitmen internasional sebagaimana tertuang dalam NDC dan Updated NDC Indonesia kepada UNFCCC,” lanjut Yusrizki.

KAMAR Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) akan menjadi bagian dari delegasi Indonesia pada Conference of Parties (COP) 26 di Glasgow, United Kingdom (UK) yang akan digelar tanggal 31 Oktober hingga 12 November 2021 mendatang. 

COP diketahui merupakan forum tingkat tinggi tahunan bagi 197 negara untuk membicarakan perubahan iklim serta langkah negara-negara di dunia untuk menanggulanginya. 

Keikutsertaan KADIN dalam kegiatan tersebut menjadi tonggak komitmen KADIN untuk mengajak seluruh sektor swasta mendukung terlaksananya komitmen Net Zero Emission Indonesia. Sektor energi, dimana ketenagalistrikan menjadi salah satu bagiannya, menyumbang 34% dari total emisi nasional sehingga dekarbonisasi sektor energi merupakan bagian penting dalam usaha menuju net zero emission.
 
Muhammad Yusrizki yang menjabat sebagai Ketua Komite Tetap KADIN untuk Energi Baru dan Terbarukan (EBT) mengemukakan, di dalam sektor ketenagalistrikan, PLN memainkan peranan yang penting sebagai penggerak utama sektor ini di Indonesia. Rancangan Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2021–2030 memberikan sinyal positif bagi industri EBT dimana penambahan kapasitas pembangkitan dari EBT mencapai porsi 51% dari total tambahan kapasitas hingga 10 tahun ke depan. 

Menanggapi komitmen dari PLN, KADIN sebagai perwakilan sektor swasta nasional turut mendukung komitmen nasional dan mengambil peran aktif untuk menggerakkan sektor swasta. “Peran serta pihak swasta dalam rangka dekarbonisasi tidak dapat ditinggalkan, berkaca dari postur ekonomi nasional yang sangat banyak melibatkan pihak swasta,” ungkap Yusrizki melalui keterangan tertulisnya, Jumat (22/10).

Sementara itu, menyambung gelaran Road to COP26, KADIN melalui Komite Tetap Energi Baru dan Terbarukan, Kamis (21/10) telah meluncurkan ‘KADIN Net Zero Hub’ yang akan menjadi titik awal gerakan net zero bagi sektor swasta.
Peluncuran di kegiatan bertajuk “Road to COP26: Indonesian Pathway to Net Zero Emission-Energy Transition” yang diselenggarakan di Ritz Carlton, Pacific Place,Jakarta, ini turut mengundang pemangku kepentingan sektor ketenagalistrikan nasional, diantaranya Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI) dan PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) (PLN). 
Yusrizki mengemukakan, “Road to COP26: Indonesian Pathway to Net Zero Emission – Energy Transition” yang digagas KADIN bertujuan mengkolaborasikan sektor swasta dalam agenda dekarbonisasi ketenagalistrikan Indonesia. 

Dimulai dengan acara Road to COP26 tersebut, KADIN ucapnya, akan mendorong perusahaan-perusahaan di Indonesia, para champions dari berbagai sektor, untuk melakukan deklarasi target net zero mereka. 
Sejumlah perusahaan dicontohkannya telah memulai target net zero, seperti Indika Energy, APRIL Group danGoJek, unicorn asal Indonesia, yang memiliki target Three Zeroes dimana salah satunya adalah zero emission. 

“Hanya dengan kolaborasi dan dukungan-dukungan dari pihak swasta Indonesia dapat memenuhi komitmen internasional sebagaimana tertuang dalam NDC dan Updated NDC Indonesia kepada UNFCCC,” lanjut Yusrizki. (J-1) 

BERITA TERKAIT