21 October 2021, 19:37 WIB

Lolos dari Gugatan My Indo Airlines, Garuda Fokus Restrukturisasi


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

PENGADILAN Negeri (PN) Jakarta Pusat menolak pengajuan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) oleh My Indo Airlines (MYIA), selaku kreditur, kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada Kamis (21/10) ini.

Direktur Utama Garuda Irfan Setiaputra menyambut baik keputusan tersebut. Pengajuan permohonan PKPU itu terkait dengan kewajiban usaha perseroan kepada MYIA, yang belum dapat terselesaikan. Dalam hal ini, Garuda menunggak pembayaran dalam kerja sama layanan penerbangan kargo yang dijalankan kedua pihak.

"Selanjutnya, Garuda tetap berfokus pada upaya restrukturisasi kewajiban usaha dan operasinya," ujar Irfan dalam keterangan kepada wartawan, Kamis (21/10).

Baca juga: Bos Garuda Buka Suara soal Isu Digantikan dengan Pelita Air

Perseroan juga memastikan operasi penerbangan untuk angkutan penumpang dan kargo berjalan normal di tengah masalah finansial. Diketahui, Garuda memiliki utang segunung hingga Rp70 triliun.

Adapun gugatan My Indo Airlines masuk ke PN Jakarta Pusat pada 9 Juli 2021, karena Garuda dinilai menunggak pembayaran sejumlah kewajiban. Beberapa kali sidang sudah digelar hingga pembacaan putusan PKPU.

Baca juga: Jokowi tidak Mau BUMN Sakit Terus-Menerus Disuntik Modal

Dilansir laman resmi MYIA, dari hasil kerja sama dengan Garuda pada Januari 2019, resmi diluncurkan layanan cargo freighter. Layanan tersebut dioperasikan dengan armada B737-300F berkapasitas 15 ton angkutan kargo. Sementara itu, Garuda tengah dirundung masalah finansial, karena pembatasan perjalanan dalam dan luar negeri selama pandemi covid-19. 

Akibatnya, terjadi penurunan jumlah penumpang yang berdampak pada finansial perseroan. Pada semester I 2021, Garuda mencatat kerugian US$898,65 juta atau sekitar Rp12,8 triliun. Jika dibandingkan tahun lalu, kerugian Garuda meningkat 26% dari sebelumnya di angka US$712,72 juta.(OL-11)

 

BERITA TERKAIT