20 October 2021, 14:10 WIB

Dikabarkan Pailit, Garuda : Kami Fokus Restrukturisasi


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) menyatakan belum menerima informasi langsung dari Kementerian BUMN soal opsi pailit akibat utang segunung maskapai yang mencapai Rp70 triliun. Kementerian itu berencana menggantikan flag carrier penerbangan nasional ke Pelita Air milik Pertamina.

Manajemen Garuda menyebut, sampai dengan saat ini perseroan terus melakukan langkah-langkah strategis akselerasi pemulihan kinerja dengan restrukturisasi.

"Fokus utama perbaikan fundamental kinerja perseroan, yakni penguatan basis performa finansial maupun fokus model bisnis dalam jangka panjang, melalui program restrukturisasi menyeluruh yang saat ini tengah kami rampungkan," kata manajemen Garuda di laporan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Rabu (20/10).

Upaya tersebut, katanya, diintensifkan melalui berbagai upaya langkah penunjang perbaikan kinerja khususnya dari aspek operasional penerbangan.

Maskapai nasional itu menyampaikan, diskusi yang dilakukan antara pemerintah melalui Kementerian BUMN sebagai pemegang saham pengendali dengan Garuda adalah berkaitan dengan rencana restrukturisasi yang akan dilaksanakan selaras dengan proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang tengah berjalan.

Baca juga : Pesawat Boleh Full Capacity, Penumpang Wajib Tes PCR Meski Telah Divaksin Penuh

"Proses restrukturisasi keuangan, yang didalamnya meliputi restrukturisasi utang yang dalam pelaksanaannya dibantu oleh beberapa konsultan pendamping, sampai dengan saat ini prosesnya masih terus berlanjut dan merupakan fokus utama perseroan," jelas Garuda.

Disamping itu, negosiasi dan komunikasi dengan para kreditur, diakui Garuda dilakukan secara berkesinambungan guna mencapai penyelesaian terbaik dan restrukturisasi yang optimal dalam memperbaiki kinerja perseroan yang terlilit utang.

Sebelumnya, Garuda mengungkapkan, agenda pembacaan putusan oleh hakim atas kasus PKPU di Pengadilan Niaga Jakarta diundur. Gugatan itu diajukan maskapai penerbangan khusus kargo My Indo Airlines (MYIA). Awalnya, hasil sidang putusan PKPU diumumkan pada Kamis (14/10). Namun, ditunda hingga Kamis (21/10).

Pengajuan permohonan PKPU tersebut sehubungan dengan adanya kewajiban usaha Garuda kepada MYIA yang belum dapat terselesaikan atau menunggak pembayaran dalam kaitan kerja sama layanan penerbangan kargo yang dijalankan oleh kedua belah pihak.

Garuda mengalami kerugian sebesar US$2,5 miliar atau Rp36,2 triliun pada tahun lalu akibat pandemi. Dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia pada Sabtu (17/7), perusahaan itu membukukan pendapatan sebesar US$1,49 miliar, berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2020. Angka tersebut merosot tajam dibanding sebelum terdampak pandemi atau pada 2019 yang mencetak pendapatan US$4,57 miliar. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT