19 October 2021, 20:10 WIB

Mengembangkan Peradaban di Sisi Timur Bogor


Dede Susianti, Jurnalis Media Indonesia | Ekonomi

SEMBURAT cahaya kemerahan di langit menjadi pemandangan indah di Sabtu (16/10) sekitar pukul 06.00 WIB. Lamat-lamat matahari muncul di antara siluet perbukitan Gunung Pancar dan pegunungan lainnya menunjukkan sinarnya. Bahkan kemudian pancarannya menyorot pada dua bangunan bertingkat, modern nan megah di The Pinewood Residance. Cukup puas rasanya sekitar 25 menitan berada di area itu. 

Bergeser naik menuju The Rosewood Golf Residance, mata ini pun kembali mendapat suguhan yang sangat cantik dan udara sejuk menyegarkan. Ada karpet hijau berupa hamparan rumput lapangan golf. Kemudian ada bangunan dengan arsitektur mewah, kolam renang dengan sentuhan desain yang berbeda pada umumnya dan beratapkan langit nun biru. Pun taman yang cantik dan asri dengan kursi-kursi nyaman. 

Keduanya adalah hunian klaster baru yang akan diluncurkan Summarecon Bogor, Jawa Barat di akhir Oktober ini. Sebelumnya di 2020, Summarecon Bogor sudah meluncurkan tiga tipe yaitu The Mahogany Residance (klaster), The Mahogany Islan (kavling) dan The Agathis Golf Residance (hunian klaster). Baru  dipasarkan, ketiganya direspons baik dan total produk terjual dalam kurun 17-18 Oktober dan pada 28 November 2020, sebanyak 590 unit.

Di tangan desiner ternama Indonesia, Hadiprana, The Pinewood mengusung konsep modern tropikal. Sedangkan The Rosewood dengan sentuhan Thomas Elliott dari PAI Design (Paramita Abirama Istasadhya), konsepnya adalah hunian klaster dan kavling bangun mandiri. Secara arsitektur, bangunan-bangunan dari seluruh tipe, cukup banyak mengeksplor jendela kaca. 

Rupanya sang arsitek tidak ingin menyia-nyiakan bonus pemandangan kota dan Kabupaten Bogor yang dikelilingi tiga gunung; Gunung Gede, Gunung Pangrango yang ada di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP), dan Gunung Salak yang masuk di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS). Selain tiga gunung itu, kawasan hunian tersebut juga dikelilingi perbukitan Gunung Pancar. Jendela kaca yang besar sendiri merupakan salah satu syarat di hunian dengan panorama alam atau dalam dunia arsitektur disebut panoramic view.

Hunian baru keluarga
Hadir di lokasi yang sangat strategis, bersisian dengan Kota Bogor dan dapat dijangkau melalui akses langsung pintu tol Bogor Selatan yang terhubung dengan tol Jagorawi, serta dapat pula akses dari Kota Bogor. Menurut Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Sharif Benyamin, pihaknya akan mengembangkan kota baru di Bogor karena menilai kawasan tersebut memiliki potensi luar biasa baik dari alam maupun sisi pasar.

Dia juga menyebut Summarecon Bogor merupakan pengembangan berskala kota. Di dalamnya nanti akan saling terintegrasi antara hunian dengan fasilitas kota lainnya mulai dari tempat usaha, komersial, pendidikan, kesehatan dan bahkan hiburan. Dengan itu semua penghuni dapat melakukan beragam aktivitas.

"Memiliki luas 500 hektare, bagi kami, ideal untuk pengembangan kota mandiri seperti kami lakukan di Kelapa Gading, Serpong, Bekasi, Bandung dan Makassar," kata Sharif seraya menegaskan secara konsep, sangat berbeda karena bukan sekadar membangun tapi mengembangkan peradaban. 

"Kami membangun kota mandiri yang baru untuk first home family, agar hidup dengan environment (lingkungan) yang baru yaitu pemandangan yang indah, udara yang sehat dan segar. Juga aksesnya yang sangat baik. Dengan demikian penghuni bisa menikmati cara dan gaya hidup yang baru. Ini sesuai dengan tagline kami New City, New Environment, New Life," ungkap Sharif. 

Lahir di kala pandemi
Baru hadir pada Oktober 2020 atau lahir di kala pandemi covid-19, tentu penuh dengan tekanan berat dari sisi bisnis. Sebelumnya Adrianto P Adhi, Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk mengatakan, meskipun di saat pandemi pihaknya terus berinovasi dan tetap menjalankan kegiatan usaha. Alasannya agar perekonomian tetap terus berjalan. 

"Kami bersyukur hasil penjualan sangat memuaskan dan disambut baik masyarakat," tutur Adrianto. 

Dengan menyasar target- first home family- dan- loyal consumers-, Adrianto menyatakan optimismenya. Selain itu juga karena lokasi yang strategis. Dia menyebut ada lebih dari 1.500 calon pembeli yang mengikuti undian untuk dapat membeli produk hunian dari Summarecon Bogor. Padahal saat itu, dengan beberapa pembatasan karena pandemi covid-19, pihaknya meluncurkan sebanyak 555 unit dari 3 klaster.

Strategi pasar yang digunakan yaitu menawarkan harga pandemi dengan penawaran produk hunian yang baik, jadi kunci sukses. Kemudian dengan tata ruang yang nyaman mendukung segala aktivitas di dalam rumah. 

Hunian ini berada di 300-500 meter dari permukaan laut yang memungkinkan udara sejuk. Kemudian saleable yang hanya 38 persen (pada umumnya saleable di dataran rendah sekitar 60 persen), sehingga penghuni dapat menikmati lingkungan dan udara yang sehat. 

Dalam dunia properti saleable adalah luas bangunan yang bisa dimanfaatkan dinamakan luas bangunan bersih atau nett area atau area yang bisa dijual. Keberadaannya juga diapit oleh dua lapangan golf 63 holes dengan luas kurang lebih 210 hektare, menambah area terbuka hijau.

Persebaran ekonomi
Meski jalan masuk menuju gerbang Summrecon Bogor itu di sisi Kota Bogor, namun hunian-hunian asri nan megah itu berada di atas lahan yang tersebar di empat desa di Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Keempat desa tersebut yaitu Desa Cibanon, Desa Sukatani, Desa Nagrak dan Desa Gunung Geulis.

Khusus di Desa Cibanon yang berdiri sejak 1984, meski mayoritas warganya petani dan buruh pabrik, namun memiliki keunggulan di bidang pertanian yakni talas Bogor, singkong dan juga UMKM yang memproduksi olahan singkong, talas, sagu dan tahu. Target dari Kepala Desa Cibanon, Ujang Supriadi menjadikan wilayahnya sebagai desa megapolitan yang mampu bersaing dengan desa yang sudah maju lainnya karena ada pembangunan Summarecon.

"Kami sudah punya gerbang tol yang lumayan yang namanya ada nama desa kami, desa Cibanon. Ini kebanggaan kami dan masyarakat Cibanon. Insya Allah ke depan Cibanon akan maju lagi. Mungkin Cibanon akan meninggalkan desa lain dan PAD akan lebih bagus. Ke depan masyarakat kami bisa lebih bersaing dan bisa lebih maju dengan desa dan masyarakat di desa lain," tegas Ujang.

Pun demikian dengan Desa Sukatani menerima dampak positif dari kehadiran kota baru itu. Di situ ada sentra budi daya tanaman hidroponik yang saat ini dikenal dengan lembur hejo. Setelah mendapat perhatian dari Kementerian Pertanian, desa itu juga dijadikan desa agro wisata. 

Sementara itu, di sisi Timur Kota Bogor pun akan dilakukan pengembangan. Seiring dengan konsep green dan heritage, tentu area seputar Kebun Raya perlu dilestarikan. Terkonsentrasinya arus lalu lintas di seputar SSA (sistem satu arah) menjadi salah satu tantangan besar mewujudkan kota yang hijau dengan tingkat polusi yang rendah. Apalagi berbagai aktivitas perkantoran dan instansi vertikal berada di situ. 

Alasan itulah yang menjadi salah satu pertimbangan Pemerintah Kota Bogor akan memindahkan kantor pemerintahan ke bagian timur, tepatnya di kawasan Bogor Raya. "Konsep menyatukan seluruh layanan Pemerintah Kota Bogor di dalam satu area yang berada di wilayah timur menjadi solusi agar distribusi pergerakan warga tidak seluruhnya ke tengah kota," ungkap Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim, Senin (18/10).

Harapan lainnya, pemerataan pertumbuhan bisa juga dirasakan di bagian kota yang lain. Termasuk rencana meneruskan jalan akses Timur ke Selatan melalui pembangunan R3 fase 2 dari Katulampa sampai Wangun dan mewujudkan akses Bogor Inner Ring Road (BIRR) dari Wangun. 

Saat ini proses penghibahan lahan. Masih difinalisasi oleh DJKN Kementerian Keuangan. Selanjutnya akan dilakukan dengan studi teknis. "Lahan yang berada di Kelurahan Katulampa berdekatan dengan Sumarecon dan jalan tol Jagorawi. Ini memiliki kelebihan selain dapat mempercepat pertumbuhan di Timur dan Selatan, juga menjadi peluang bagi Kota Bogor meraih PAD dari berbagai fasilitas penunjang yang dibutuhkan warga seperti sektor kesehatan, pendidikan dan perdagangan," tutupnya. (O-2)
 

BERITA TERKAIT