18 October 2021, 16:31 WIB

BI Diminta Tetap Pertahankan Suku Bunga Acuan


M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi

LEMBAGA Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI) menilai Bank Indonesia (BI) harus tetap mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50%. Hal itu bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung pemulihan ekonomi nasional.

"Dengan adanya risiko di sisa 2021 dan inflasi yang terkendali, kami melihat BI harus terus mempertahankan suku bunga kebijakannya di 3,50%," ujar ekonom LPEM UI Teuku Riefky melalui Laporan Seri Analisis Makroekonomi, Senin (18/10).

Percepatan dan perluasan program vaksinasi yang diiringi dengan kebijakan fiskal dan moneter menjadi krusial untuk mendapatkan momentum pemulihan ekonomi. Apalagi, setelah kebijakan PPKM dilonggarkan, geliat perekonomian harus dijaga dan didorong untuk mencapai titik optimum pemulihan.

Baca juga: Chatib Basri: Ini Tiga Sektor yang Harus Diperhatikan Pemerintah Saat Krisis

Selain itu, lanjut Teuku, tingkat vaksinasi covid-19 di Indonesia meningkat tajam. Itu berkat upaya pemerintah yang mengamankan pasokan vaksin dari berbagai negara. Saat ini, vaksinasi di Indonesia mencapai 1,6 juta suntikan per hari. Per 14 Oktober, 104,3 juta orang sudah divaksin dosis pertama, atau sekitar 37,7% dari total populasi.

Dari kebijakan fiskal, pemerintah telah menyalurkan dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) sekitar 55,9% dari total Rp745 triliun per 8 Oktober 2021. Realisasi terbesar pada anggaran untuk insentif usaha (95,5% dari target), di mana korporasi, UMKM dan perorangan, telah memanfaatkan berbagai insentif perpajakan.

Adapun Realisasi program jaring pengaman sosial berada di urutan kedua (65,1% dari target). Diikuti oleh program prioritas (55,7%), bidang kesehatan (49,7%) dan dukungan UMKM dan korporasi (38,2%). "Secara keseluruhan, kami memandang bahwa pemerintah berada di jalur yang tepat untuk menurunkan defisit fiskal menjadi 3% dari PDB 2023," jelas Teuku.

Baca juga: OJK Mulai Benahi Ekosistem Pinjol

LPEM UI melihat situasi penanganan covid-19 dan kondisi perekonomian semakin membaik. Namun, terdapat gangguan dari eksternal akibat krisis energi di Tiongkok, India dan beberapa bagian Eropa, karena pemulihan yang lambat dari sisi penawaran.

"Akibatnya, terjadi arus keluar yang agresif dari US$9,05 miliar di pertengahan September, menjadi US$6,98 miliar di pertengahan Oktober," imbuhnya.

Namun, cadangan devisa melanjutkan tren kenaikan dari bulan lalu dan mengalami peningkatan menjadi US$146,8 miliar. Itu mencapai level tertinggi baru sepanjang masa. Peningkatan cadangan devisa pada September dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa, serta penarikan utang luar negeri pemerintah.(OL-11)


 

BERITA TERKAIT