17 October 2021, 16:40 WIB

Lama tidak Beroperasi, 7 Perusahaan BUMN Mau Ditutup


Despian Nurhidayat | Ekonomi

KEMENTERIAN BUMN menyatakan bahwa pembubaran 7 perusahaan BUMN yang sudah lama tidak beroperasi akan segera dilakukan. Hal itu diungkapkan Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga.

Adapun 2 dari 7 perusahaan yang bakal dihentikan operasionalnya dalam waktu dekat, yakni PT Industri Gelas (Iglas) dan PT Kertas Kraft Aceh.

"Ini sudah dibahas ya kemarin-kemarin. Memang ada beberapa BUMN yang akan segera kita hentikan operasionalnya," jelas Arya kepada Media Indonesia, Minggu (17/10).

Terkait Iglas, lanjut dia, Kementerian BUMN telah melakukan pembayaran kepada karyawan, termasuk uang pesangon. Menurutnya, pembubaran Iglas bisa dilakukan melalui beberapa mekanisme, seperti RUPS dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Baca juga: Presiden Dorong BUMN Gerak Cepat dan Adaptif

Demikian pula dengan pembubaran Kertas Kraft Aceh, yang akan dilakukan dalam waktu dekat. Berhentinya operasional perusahaan dikarenakan bahan baku sudah dimoratorium. Alhasil, perusahaan tersebut tidak memiliki bahan baku untuk memproduksi kertas.

Apabila Kertas Kraft mempunyai utang seperti Iglas, mekanisme pembubarannya juga bisa melalui PKPU. Bahkan, jika aset perseroan masih cukup untuk membayar, bisa dilakukan RUPS. Selain dua perusahaan tersebut, Kementerian BUMN juga akan membubarkan PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) dan PT Istaka Karya (Persero).

Lalu, PT Industri Sandang Nusantara (Persero), PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero) (PAN) dan PT Kertas Leces (Persero). Untuk Merpati, Kementerian BUMN sudah melakukan pembayaran gaji karyawan. Saat ini, Merpati sudah tidak memiliki izin terbang. 

Baca juga: BUMN Sakit Karena Tidak Bisa Bersaing dan Rentan Politisasi

Menyoroti pembubaran PT PAN lantaran perusahaan yang semula fokus pada pembiayaan kapal dan pesawat terbang , sudah mengalami pergeseran. Sama seperti Merpati, PAN juga akan mengalami pailit. Untuk Istaka Karya, keuangan perusahaan disebut sangat kritis. 

Dibandingkan asetnya, utang Istaka lebih tinggi. Pun, setelah dihitung, mustahil untuk kembali mengoperasikan perusahaan tersebut. Adapun Industri Sandang Nusantara, tengah menghadapi masa sulit akibat redupnya bisnis tekstil. Ditambah, perusahaan juga memiliki bisnis yang tidak berhubungan dengan tekstil. 

“Ini akan kita likuidasi dengan cara mungkin RUPS atau lewat kepailitan. Kenapa baru sekarang? Karena kita mau bikin kepastian semua. Selama bertahun-tahun, tidak ada kepastian. Tidak ada langkah konkret, sehingga perusahaan-perusahaan ini harus dibubarkan,” pungkas Arya.(OL-11)
 

 

BERITA TERKAIT