13 October 2021, 17:16 WIB

Kolaborasi Mendorong Ekspansi UMKM di Industri Digital


Mediaindonesia.com | Ekonomi

DALAM situasi pandemi covid-19, perkembangan inovasi di bidang teknologi semakin cepat seiring bergesernya kebutuhan masyarakat ke arah digital. Semakin dinamisnya industri digital harus diimbangi dengan strategi yang adaptif oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar mampu dioptimalisasi untuk mengembangkan bisnis dan bisa memenuhi seluruh kebutuhan masyarakat.

Menurut data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah UMKM yang sudah onboarding ke dalam ekosistem digital mencapai 15,9 juta atau 24,9% dari total pelaku UMKM yang sekitar 65 juta unit. Jumlah ini meningkat signifikan selama pandemi covid-19. Sebelum pandemi pelaku UMKM yang terhubung dalam platform digital baru sebanyak 8 juta. 

Pemerintah menargetkan 30 juta UMKM onboarding digital pada 2024. Perlu dilakukan terobosan dan inovasi untuk mengembangkan UMKM dalam negeri agar bisa bersaing. Salah satunya dengan upaya digitalisasi. Oleh karena itu, pemerintah mengajak para pelaku ekonomi dan start-up berpartisipasi secara aktif mendukung proses digitalisasi.

"Perkembangan digital yang pesat dan masif harus disambut sebagai momentum untuk beradaptasi agar bisnis dapat tumbuh lebih cepat dan mampu bersaing, meski masih dibayangi pandemi. Kami berharap UMKM bisa bangkit dan naik kelas agar bersama-sama mendukung upaya pemulihan ekonomi," ujar SEVP Micro & Consumer Finance Bank Mandiri Josephus K Triprakoso dalam Virtual Workshop bertajuk Transformasi Digital UMKM Merah Putih di Jakarta, Rabu (13/10), dengan mengundang ribuan peserta pelaku UMKM.

Menurutnya, inisiatif pelaksanaan event yang digagas Bank Mandiri dan Yokke dengan menggandeng Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) itu sangat selaras dengan upaya pemerintah dalam mendorong lebih banyak pelaku UMKM untuk bertransformasi ke platform digital. Apalagi, saat ini perkembangan UMKM digital semakin masif.

Sebagai agent of development, dia menambahkan, Bank Mandiri secara bank telah menyalurkan pembiayaan ke sektor UMKM hingga Rp114,58 triliun hingga akhir Agustus lalu. Nilai tersebut tumbuh 18,52% dari periode yang sama tahun lalu. Dari nilai tersebut, penyaluran pembiayaan yang dilakukan secara online telah mencapai Rp22,9 miliar yang telah diberikan kepada seller online mitra e-commerce. 

Lebih lanjut Josephus menambahkan saat ini dunia digital terus bergerak ke arah yang semakin canggih. Untuk itu pelaku usaha secara aktif perlu menambah ilmu dan wawasan agar tak ketinggalan atau kalah saing. Apalagi, potensi ekonomi digital di Indonesia dinilai masih sangat besar.

Hasil survei dari Google dan Temasek mencatat, ekonomi digital Indonesia di 2025 diproyeksikan akan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara dengan nilai transaksi mencapai Rp1.826 triliun. Sedangkan hasil survei Bank Indonesia pada 2020 mencatat nilai transaksi ekonomi digital melalui e-commerce mencapai Rp253 triliun pada 2024.

Yokke memahami bahwa pemberdayaan UMKM tidak cukup hanya dengan memberikan akses pada permodalan. "Pelaku usaha juga perlu dilengkapi dengan platform yang memudahkan mereka untuk mengelola usaha, sehingga mereka tidak lagi direpotkan dengan hal-hal seperti pencatatan manual untuk penjualan dan inventori. YokkeBiz hadir menjawab kebutuhan para pelaku usaha akan platform yang dapat membantu mendigitalisasi usahanya karena memiliki integrasi lengkap ke berbagai aplikasi layanan logistik, pembukuan, online store, sampai dengan integrasi berbagai marketplace," ungkap Niniek S Rahardja, Direktur Utama Yokke.

Modal utama yang dibutuhkan seorang pengusaha, tambah Niniek, sebenarnya keberanian, kejelian menangkap peluang, dan kreativitas. Di era industri 4.0 yang penuh dengan kemajuan teknologi terdapat banyak peluang sekaligus alat yang tersedia untuk dapat mengelola dan mengembangkan usaha.

Sependapat dengan Niniek, Himelda Renuat selaku Chief Marketing Officer Doku mengungkapkan bahwa pandemi covid-19 telah mengakselerasi pola konsumsi barang dan jasa masyarakat dari offline ke online. "Pola konsumsi online yang kemungkinan besar akan menjadi permanen ini perlu didukung ekosistem toko online yang solid dan berkelanjutan. Salah satu aspeknya yaitu cara toko online tersebut menerima pembayaran dari pelanggannya. Dalam hal ini Doku berkomitmen tidak hanya menyediakan akses ke beragam metode pembayaran pilihan pelanggan tetapi juga memastikan kelancaran dan keamanan setiap transaksi yang terjadi dalam platform toko online seperti YokkeBiz," ujar Himelda.

Segendang sepenarian, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA) Bima Laga mengapresiasi dan berkomitmen untuk bersama-sama mendorong UMKM di Indonesia agar semakin digital dan naik kelas. Dalam pelatihan ini, idEA juga akan menggandeng beberapa pakar digital yang tergabung dalam keanggotan idEA agar dapat secara langsung memberikan wawasan baru pada pelaku usaha UMKM.

"Setiap perubahan yang terjadi di platform e-commerce member kami tentu bisa langsung disosialisasikan ke pelaku usaha untuk segera menyesuaikan strategi pemasarannya. Karena dunia e-commerce yang merupakan bagian industri digital juga terus berkembang menemukan bentuk terbaiknya."

Penyelenggaraan virtual workshop itu dibagi menjadi lima fokus wilayah antara lain kawasan Jabodetabek dan Banten, Jawa Tengah dan DIY, Jawa Barat, Jawa Timur dan Bali, serta Sumatra, Kalimantan, Papua, dan Sulawesi. Pembagian wilayah ini ditujukan agar dapat menyesuaikan dengan karakteristik ekonomi dan potensi di tiap kawasan. Pelatihan pertama diselenggarakan di Jabodetabek dan Banten pada Kamis (14/10). Pelatihan berikutnya akan digelar di wilayah berikutnya hingga 28 Oktober 2021. 

Baca juga: Transaksi di Super App Livin’, Bank Mandiri Siap Bagi-bagi BMW X1 dan Motor

"Pelaku UMKM merupakan tulang punggung ekonomi nasional. Kesuksesan mereka menjadi cermin kejayaan ekonomi bangsa ini. Sudah sepatutnya membantu pelaku UMKM menggapai sukses, demi mereka, anda, kita, dan seluruh bangsa," pungkas Josephus. (OL-14)

BERITA TERKAIT