13 October 2021, 16:35 WIB

Niaga Elektronik Diproyeksi Dominasi Peta Ekonomi Digital Pada 2030


Fetry Wuryasti | Ekonomi

PANDEMI covid-19 menjadi momentum akselerasi transformasi ekonomi digital di Indonesia. Saat ini Indonesia memiliki potensi ekonomi digital yang besar dengan lebih dari 197 juta penduduknya memiliki akses internet.

Angka tersebut diperkirakan akan tumbuh menjadi lebih dari 250 juta orang pada 2050. Momentum pertumbuhan ekonomi digital diperkirakan akan terus berlangsung dan pada 2030 niaga elektronik (e-commerce) diprediksi menyumbang 33%, atau Rp1.908 triliun, bagi peta ekonomi digital Indonesia.

Menurut Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi, jika diukur dari gross merchandise value (GMV), potensi ekonomi digital Indonesia jauh melebihi negara-negara lain di kawasan ASEAN. Pada 2020 lalu, ekonomi digital Indonesia baru berkontribusi sebesar 4% terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Pada 2030 mendatang, ekonomi digital Indonesia diyakini akan tumbuh setidaknya delapan kali lipat dan menjadi berkontribusi 18% terhadap PDB.

E-commerce diperkirakan masih akan menguasai peta ekonomi digital Indonesia pada 2030 dengan kontribusi mencapai Rp1.908 triliun atau sekitar 33%. Sementara itu, kontribusi besar lainnya bagi ekonomi digital Indonesia akan bersumber dari business to business, termasuk rantai nilai dan logistik, yang sebesar Rp763 triliun atau 13%, online travel sebesar Rp575 triliun atau 10%, dan corporate services sebesar Rp529 triliun atau 9%,” kata Lutfi, melalui keterangan yang diterima, Rabu (13/10).

Untuk mewujudkan transformasi dan akselerasi ekonomi digital Indonesia, Lutfi menyampaikan bahwa pemerintah sedang mempersiapkan cetak biru yang berfokus pada tiga hal.

Pertama, meningkatkan jumlah talenta digital baik di instansi pemerintah, pelaku usaha, dan kalangan akademisi. Kedua, mengakselerasi investasi infrastruktur hingga pelosok Nusantara agar tidak ada kesenjangan digital.

Ketiga, memastikan regulasi dan kebijakan terkait ekonomi digital Indonesia bersifat adaptif, proaktif, dan kolaboratif, selain itu harus memfasilitasi inovasi dan memastikan adanya lingkungan bisnis yang adil dan inklusif.

Maka, transformasi dan adaptasi teknologi digital adalah hal yang mutlak dan tidak dapat dihindari. Bahkan, transformasi ini harus segera diakselerasi dengan tetap menjunjung tinggi prinsip-prinsip kesetaraan dan inklusivitas bagi seluruh warga negara Indonesia.

"Ekonomi digital telah meningkatkan efisiensi sistem perekonomian global dan menawarkan solusi agar transaksi perekonomian tetap berjalan di tengah pandemi covid-19. Saat ini ekonomi digital merupakan salah satu komponen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Lutfi.

Co-Founder & Managing Partner East Ventures Willson Cuaca menyampaikan, pandemi covid-19 memberi tekanan yang luar biasa pada hampir seluruh aspek perekonomian, namun di saat yang bersamaan membuka peluang luar biasa bagi pelaku usaha yang dapat memanfaatkan fenomena digitalisasi.

"Saat ini terdapat beberapa produk ekonomi digital yang berkembang pesat di masa pandemi covid-19, antara lain perusahaan rintisan yang terdapat pada industri edutech, healthcare, smart retail, e-commerce, fintech, enabler, cloud kitchen, dan B-to-B,” ujar Willson.

President Commisioner A.T. Kearney Alessandro Gazzini menuturkan, saat ini terdapat beberapa hambatan dalam pengembangan ekonomi digital di Indonesia.

Tingkat literasi teknologi yang masih rendah menjadi salah satu hambatan utama selain persepsi masyarakat bahwa belanja secara daring lebih mahal karena ongkos kirim serta masalah ketersediaan produk.

“Berdasarkan survei oleh A.T. Kearney, ‘tingkat kemudahan penggunaan’ merupakan hambatan yang paling sering dialami oleh para pelaku usaha dalam mengadopsi teknologi ke dalam usahanya, sebesar 53%; diikuti ‘harga dan promosi’ sebesar 44%; dan ‘ketersediaan produk’ sebesar 41%,” jelas Alessandro. (E-3)

BERITA TERKAIT