08 October 2021, 18:45 WIB

Industri Bakal Tumbuh 5,5% Tahun Depan Jika Tidak Ada Gelombang Ketiga


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

MENTERI Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis pertumbuhan industri pada tahun depan bisa menembus 5-5,5%, apabila tidak terjadi gelombang ketiga kasus covid-19 di Tanah Air.

Berbagai program dan kebijakan strategis yang mendukung laju kinerja sektor industri tengah diupayakan pemerintah guna menciptakan iklim usaha yang kondusif.

“Untuk tahun ini target (pertumbuhan industri) sebesar 4,5-5%, sedangkan tahun depan 5-5,5%,” ungkapnya dalam keterangannya.

Kemenperin mencatat, pada triwulan II 2021, sektor industri manufaktur berhasil tumbuh positif sebesar 6,91% di tengah tekanan dampak pandemi covid-19.

Menperin menegaskan, pihaknya tetap fokus menjalankan program dan kebijakan unggulan yang dapat menopang performa sektor industri.

Misalnya, pelaksanaan program substitusi impor 35% di 2022. Upaya strategis ini ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor sekaligus mendorong penguatan struktur industri manufaktur di dalam negeri.

Baca juga: Kuasai Pemasaran, Ciri Petani Milenial Cerdas Berwirausaha

“Strategi ini ditempuh guna merangsang pertumbuhan investasi di sektor industri substitusi impor dan peningkatan utilitas industri domestik,” tutur Politikus Golkar ini.

Kebijakan tersebut, lanjutnya, akan didukung dengan optimalisasi program Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN).

Agus mengemukakan, kontribusi sektor industri pengolahan nonmigas terhadap PDB nasional pada triwulan II 2021 sebesar 17,34%.

Ada lima kontributor terbesar sektor industri terhadap PDB nasional, yakni industri makanan dan minuman, industri kimia, farmasi dan obat, industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik dan peralatan listrik, industri alat angkut, serta industri tekstil dan pakaian jadi.

Sementara itu, data Bank Dunia menunjukkan bahwa sepanjang 2020 saat pandemi covid-19 menjangkit di seluruh negara dunia, Indonesia dinilai mampu mempertahankan status sebagai negara industri atau manufactured based dengan kontribusi sektor (migas dan nonmigas) terhadap PDB nasional melampaui 18%.

“Berbagai langkah dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah di sektor industri, antara lain adalah mendorong hilirisasi, substitusi impor, dan mendorong industri dalam negeri sebagai bagian rantai pasok global,” beber Agus. (OL-4)

BERITA TERKAIT