07 October 2021, 19:33 WIB

Pasokan Batu Bara untuk Pembangkit PLN Jangan Sampai Terganggu


mediaindonesia.com | Ekonomi

HARGA batu bara global mengalami lonjakan hingga US$200 per ton. Kondisi itu dikhawatirkan mengganggu pasokan batu bara ke pembangkit listrik di dalam negeri. 

Pengamat energi Universitas Gadjah Mada (UGM) Tumiran menilai lonjakan harga batu bara terjadi akibat peningkatan pasokan komoditas. Terlebih beberapa negara, seperti Tiongkok, kesusahan untuk menyeimbangkan pasokan listrik dengan permintaan, seiring pulihnya perekonomian.

Bukan tidak mungkin bahwa krisis energi dapat terjadi di Tanah Air. Dalam hal ini, ketika pasokan batu bara untuk kebutuhan pembangkit domestik terpangkas.

Baca juga: Proyek Kabel Listrik Bawah Laut Sumatera-Bangka Butuh Investasi Rp1,9 Triliun

Tumiran pun mengingatkan pengusaha batu bara di Tanah Air untuk tetap menaati aturan harga domestic market obligation (DMO) terhadap PT PLN (Persero). "Pengusaha jangan hanya bicara untung, tetapi juga memastikan ketahanan pasokan batu bara Tanah Air," ujar Tumiran dalam keterangannya, Kamis (7/10).
 
Menurutnya, di tengah lonjakan harga batu bara global, pengusaha sudah mendapat banyak keuntungan, terutama dari kinerja ekspor. Oleh karena itu, ketahanan pasokan batu bara sebaiknya jangan sampai terganggu.

Apabila terjadi krisis pasokan batu bara di PLN, akan berimbas pada pasokan listrik nasional. Dampaknya pun akan meluas, tidak hanya dirasakan PLN, namun juga ke pelaku usaha, industri, hingga masyarakat. Defisit batu bara di PLTU bakal mengganggu perekonomian nasional.

Baca juga: ESDM Bentuk Satgas untuk Capai Lifting Minyak 1 Juta Barel per Hari 

Dia berpendapat bahwa disparitas harga batu bara tidak selalu menguntungkan PLN. Menurut Tumiran, saat harga batu bara di bawah US$70 per ton, BUMN itu harus tetap membeli sesuai kebijakan DMO. "Pas lagi untung bisa jual, bersyukur lah mereka (pengusaha). Tapi, jangan lupa untuk tetap memasok ke dalam negeri," pungkas Tumiran. 

Lebih lanjut, dia mengatakan penetapan harga khusus batu bara untuk kebutuhan pembangkit listrik nasional, menjadi bukti pemerintah lebih mementingkan keterjangkauan harga energi di Tanah Air. Dengan harga listrik yang terjangkau, pergerakan ekonomi juga akan meningkat.

Tahun ini, pemerintah menetapkan target DMO sebesar 137,5 juta ton. Berdasarkan data Minerba One Data Indonesia (MODI) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi penjualan batu bara untuk domestik tercatat 63,47 juta ton per Juni 2021.(RO/OL-11)

 

BERITA TERKAIT