06 October 2021, 16:43 WIB

Presiden Tagih Solusi Tingginya Harga Jagung


Andhika Prasetyo | Ekonomi

PRESIDEN Joko Widodo, Rabu (6/10), memanggil Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo guna mengetahui secara detil strategi yang akan dilakukan dalam menangani persoalan jagung dari hulu hingga hilir.

Pemanggilan tersebut juga masih berkaitan dengan keluhan Suroto, peternak ayam petelur asal Blitar, yang menyebut harga jagung untuk pakan sangat tinggi.

Baca juga: Serap 200 Ribu Pekerja, Industri Batik Hasilkan Rp7,5 Triliun

Syahrul, yang ditemui selepas pertemuan dengan kepala negara, menyampaikan ada tiga program yang disiapkan Kementerian Pertanian bersama seluruh kementerian/lembaga lainnya untuk memperkuat ketahanan komoditas tersebut.

Pertama, di sisi hulu, adalah dengan menyempurnakan sistem budidaya. Dalam hal itu, Kementan akan berupaya meningkatkan produktivitas sehingga panen yang dihasilkan sesuai dengan jumlah kebutuhan di dalam negeri.

Kedua, di sisi pascapanen, Kementan akan memperkuat tata kelola distribusi jagung. Syahrul mengatakan pihaknya telah menyiapkan program yang dapat memastikan alur komoditas mengalir secara merata, mulai dari untuk kebutuhan pakan, pangan hingga industri.

Terakhir, di sisi hilir atau pasar, Kementan akan bekerja sama dengan Kementerian Perdagangan demi menjaga harga tetap stabil.

"Tiga tahap ini yang betul-betul Bapak Presiden minta. Saya, sebagai Menteri Pertanian, akan lebih banyak fokus pada budidaya, peningkatan produktivitas," ujar Syahrul di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu.

Ia memaparkan, saat ini, salah satu penyebab utama tingginya harga jagung di level peternak adalah alur distribusi yang tidak lancar.

Sebagian besar sentra jagung, sambung Syahrul, berada sangat jauh dengan pusat-pusat peternakan. Itu membuat jagung bergerak di jalan terlalu lama yang pada akhirnya berpengaruh pada tingginya harga di level peternak.

"Untuk solusi saat ini, kami membantu dengan mendekatkan jagung kepada peternak. Ada seribu peternak yang sudah kita drop jagung dan ada 30.000 lainnya yang terus kita persiapkan," tutur mantan Gubernur Sulawesi Selatan itu.

Untuk jangka panjang, Kementan akan membangun ekosistem jagung di kawasan sentra peternakan seperti di Blitar, Kendal dan Lampung.

"Kita akan buatkan di sekitarnya itu penanaman jagung besar-besaran, sehingga kebutuhan untuk pakan setiap hari bisa mereka ambil dari daerah sendiri," tandasnya. (OL-6)

BERITA TERKAIT