06 October 2021, 12:41 WIB

Gelar Pelatihan Bagi Petani Milenial, Kementan Dorong Pertanian Papua Barat Unggul


mediaindonesia.com | Ekonomi

KEMENTERIAN Pertanian (Kementan) menggelar pelatihan kewirausahaan untuk petani milenial di Kelurahan Klamalu Distrik Mariat Kabupaten Sorong, Papua Bara, pada Senin (4/10/2021).

Pelatihan itu diyakini akan mampu meningkatkan kapasitas produksi komoditas pangan di wilayah  paling ujung timur Indonesia.

Sebelumnya di hari yang sama, Presiden Joko Widodo saat meyampaikan keterangan pers setelah melakukan tanam jagung bersama Ketua DPR RI, Puan Maharani, Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo, Gubernur Papua Barat, Dominggus Mandacan, serta Bupati Sorong, Johny Kamuru mengharapkan kepada petani milenial untuk diberikan kepercayaan.

Menurut Mentan Syahrul Yasin Limpo, jika petani milenial diberikan kepercayaan akan mampu menciptakan ketahanan pangan utamanya di Papua Barat.

Saat menyampaikan arahan sekaligus membuka pelatihan Menttan Syahrul Yasin Limpo menyampaikan bahwa tanah Papua tidak kalah hebatnya dengan Jawa. Bahkan menurutnya justru lebih bagus.Oleh karena itu, pertanian Papua harus lebih unggul. 

"Tuhan sudah berkahi bumi Papua ini dengan sinar matahari, air ada di mana-mana. Itu modal yang luar biasa. Jadi, produktivitasnya jangan mau kalah. Mulai hari ini Papua Barat harus menjadi pemenang," kata Mentan.

Mentan berharap pelatihan ini dapat mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki, memanfaatkan teknologi mutakhir melalui optimalisasi peran petani dan penyuluh dalam pencapaian program swasembada pangan, baik di tingkat provinsi, kabupaten dan kecamatan. 

Menurut Mentan, keberadaan para petani sangat vital dalam mewujudkan pencapaian ketahanan pangan.

Dalam penerapan teknologi pertanian yang direkomendasikan, SYL berharap melalui pelaksanaan kegiatan pelatihan yang dilaksanakan kali ini dapat mendorong petani milenial menjadi unggul, profesional dan berdaya saing dalam mengembangkan usahanya.

Petani milenial, ia melanjutkan, dapat melakukan pengembangan usaha melalui akses KUR (Kredit Usaha Rakyat) dari perbankan seperti Bank BRI, Bank BNI, Bank Mandiri, dan bank daerah di tingkat provinsi untuk optimalisasi kegiatan agribisnisnya.

"Saya berharap hasil dari pelatihan ini akan memberikan peningkatan kapasitas bagi petani, khususnya dalam merencanakan kegiatan pertanian, meng-klaster kawasan pertanian dan kelembagaan petani, melakukan enjiniring pertanian dari hulu sampai hilir yang mencakup input permodalan (KUR), budidaya, pascapanen, pengolahan, pengemasan dan pemasaran hasil pertanian yang terstandarisasi, modern dan marketable," harap dia. 

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan petani milenial yang tergabung dalam Duta Petani Andalan/Duta Petani Milenial (DPM/DPA) terus melakukan resonansi di daerahnya, salah satunya seperti yang dilakukan di Sorong. 

“DPM dan DPA sudah melakukan berbagai kegiatan di daerah. Kita bergerak di 11 provinsi, masing-masing sudah terdaftar lebih dari 200 orang petani milenial. Bersama dengan itu kita bangun jaringan pertanian nasional dan sudah terdaftar 10.470 petani milenial dalam jaringan itu,” kata Dedi dalam keterangannya, Selasa (5/10).

Dukungan dari pemerintah pusat maupun daerah dan semua pihak dalam pemberdayaan petani milenial untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas pertanian, menurut Dedi, sangat diperlukan.

Petani milenial sebagai SDM unggul dengan karakter mampu beradaptasi, responsif, serta kolaboratif, lebih lanjut Dedi menambahkan akan dapat mendorong resonansi penumbuhan petani milenial membangun potensi lokal pertanian.

Terkait materi pelatihan yang diberikan lebih diarahkan agar DPM dan DPA mampu berwirausaha. Tentunya materi akan disampaikan oleh fasilitator yang kompeten di bidangnya, baik dari Widyaiswara, P4S/Gapoktan berprestasi serta dari pihak perbankan terkait sosialisasi pembiayaan berbasis KUR.

"Materi diberikan dengan metode ‘blended learning’ mengenai penumbuhan motivasi peserta pelatihan tentang prospek pengembangan usaha pertanian di masa depan," jelasnya.

"Selain itu juga memberikan pemahaman kepada peserta tentang bagaimana menjalin kemitraan dan negosiasi yang efektif dengan menerapkan supply chain management, bagaimana menerapkan strategi pemasaran berbasis digitalisasi, serta menerapkan berbagai konsep pembiayaan dan pencatatan usaha yang relevan dengan perkembangan zaman," terang Dedi.

Pelatihan diselenggarakan secara online, juga offline dengan peserta yang hadir berjumlah 30 orang terdiri atas wilayah Sorong, Sorong Selatan, Pegunungan Arfak, Tambrauw, dan Manokwari. Sedangkan peserta lainnya seperti petani milenial, penyuluh, dan mahasiswa pertanian mengikuti melalui online/daring. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT