05 October 2021, 17:48 WIB

Mendamba Hunian Asri di Tengah Pandemi


Gana Buana |

MEMBAHAS keindahan Bogor, Jawa Barat seakan tidak ada habisnya. Wilayah yang secara geografis teletak 60 km dari Jakarta ini kerap jadi destinasi wisata warga yang tinggal di Ibu Kota, Depok, Tangerang, dan Bekasi saat akhir pekan. 

Jarak yang memisahkan Bogor dan Jakarta terasa dekat lantaran kemudahan transportasi dan juga akses jalan tol. Sebenarnya, dengan menggunakan mobil lewat tol, waktu tempuh bisa sekitar 1 - 1,5 jam tergantung kondisi jalan. Opsi transportasi lainnya adalah menggunakan kereta listrik commuter line yang hanya memerlukan waktu tempuh 1 jam sampai Jakarta. Punya rumah di Bogor, sementara bekerja di Jakarta pun kini bukan masalah.

Bogor sudah lama menjadi tujuan wisata yang populer bagi warga Jawa Barat, Jakarta dan luar daerah lainnya. Dia yang dijuluki 'Kota Hujan' ini terletak di ketinggian 190 sampai 330 meter dari permukaan laut. Sehingga, suhu udara rata-rata setiap bulan di Bogor adalah 26°C serta kelembapan udaranya yang kurang lebih 70%, menjadikan Bogor sebagai kota yang sejuk.

Wilayah Bogor pun dikelilingi oleh pegunungan. Ada tiga gunung yang berada di sekitar kota ini, yaitu Gunung Salak, Gunung Pangrango, dan Gunung Gede. Hal tersebut membuat Bogor populer dengan wisata alamnya.

Tak hanya potensi wisata, namun Bogor juga berpotensi dari sisi pengembangan properti. Pandemi covid-19 yang melanda hampir 2 tahun ini membuat selera pemilihan properti juga ikut bergeser. Konsep-konsep rumah sehat, asri, fasilitas, hingga perilaku  bekerja yang hybrid office masih akan terus berkembang bahkan saat pandemi telah usai.

Veronica, salah satu warga Jakarta Utara mengaku sedang membidik salah satu perumahan di wilayah Kabupaten Bogor. Suasananya yang asri serta pemandangannya yang panoramik membuatnya tertarik untuk bergeser dari Ibu Kota ke wilayah pinggir Jakarta. 

"Kami sudah ada rencana mau pindah, cari suasana yang lebih asri," ungkap Veronica saat ditemui di Kantor Pemasaran Summarecon Bogor, Sabtu (2/10).

Wanita paruh baya ini menuturkan, letak Bogor yang memang lebih jauh dari Jakarta kini dirasa bukan jadi masalah. Pasalnya, akses transportasi menuju dan dari Jarta ke Bogor pun ke depan akan semakin memadai. 

"Di lokasi rumah kami saat ini tuh masih kena banjir tahunan Jakarta, makanya kayaknya udah enggak bisa lagi tinggal di sana," kata dia. 

Berdasarkan survei salah satu laman pencarian properti, Lamudi.co.id, Bogor menjadi wilayah favorit masyarakat untuk mencari properti dalam setahun terakhir. Bahkan, tercatat bahwa Bogor menjadi wilayah yang menempati peringkat pertama sebagai lokasi paling sering dikunjungi oleh pencari properti.

CEO Lamudi.co.id Mart Polman mengatakan, Bogor menempati posisi pertama dalam 10 besar area yang paling diburu oleh pencari properti. Harga properti yang relatif terjangkau dan jarak dari Ibu Kota menjadi daya tarik utama bagi masyarakat untuk memiliki properti di wilayah itu.

Adapun, sembilan wilayah lainnya yang menjadi incaran pencari properti secara berurutan, yakni Jakarta Selatan, Bekasi, Jakarta Barat, Bandung, Depok, Jakarta Pusat, Serang, Tangerang, dan Tangerang Selatan. “Saat ini, selain lokasi, rerata rumah menentukan pencarian lokasi properti,” ujarnya.

Menurut Mart, banyaknya akses dari dan menuju pusat kota Jakarta membuat para pekerja tidak segan-segan bermukim di Bogor meski harus beraktivitas di Jakarta. Ia pun menilai, progres pembangunan yang konstan dan kemudahan akses, menjadikan hunian di Bogor diburu oleh masyarakat yang mencari rumah peristirahatan akhir pekan atau hunian untuk investasi.

“Bogor juga menarik para pengembang. Terbukti dengan menjamurnya proyek perumahan yang menawarkan beragam kelebihan seiring dengan meningkatnya permintaan hunian di kota hujan itu,” tutur Mart.

Baca juga: 

CEO Indonesian Property Watch (IPW) Ali Tranghada menambahkan, memasuki Q2-2021 pasar perumahan Jabodebek-Banten mengalami pertumbuhan nilai penjualan cukup tinggi sebesar 24,4%. Berdasarkan segmen harga rumah, penjualan untuk rumah sampai Rp500 jutaan terjadi penurunan tertinggi sebesar 24,0% (qtq). 

Sebaliknya kenaikan terjadi di segmen harga Rp500 juta sampai dengan Rp1 miliar sebesar 26,2% (qtq). Yang cukup mengejutkan adalah pertumbuhan penjualan rumah di segmen diatas Rp2 miliar yang mengalami kenaikan tertinggi 125,0% (qtq).  

"Pertumbuhan penjualan di segmen harga diatas Rp2 miliar di Bodebek mengalami peningkatan tertinggi sebesar 25,0% dibandingkan segmen harga lainnya. Penurunan hanya terjadi di segmen harga Rp1 – 2 miliar," tambah Ali. 

Hunian panoramik

Survei penjualan perumahan yang dilakukan oleh IPW menunjukkan, saat pandemi hanya Bogor wilayah satu-satunya yang mengalami kenaikan, yakni sebesar 11,8%, khususnya di segmen menengah yang naik mencapai 70,3%. Maraknya perumahan kota mandiri yang dibangun pengembang besar juga karena pertimbangan lahan, PT Sumarecon, Tbk mulai mengambangkan perumahan di Kabupaten Bogor.

Sejak pertama kali dipasarkan pada Oktober 2020, Summarecon Bogor telah mengadaptasi kebiasaan baru di tengah pandemi. Dengan adopsi teknologi seperti koneksi internet berkecepatan tinggi, bekerja nantinya tidak hanya dapat dilakukan di rumah, tapi juga di taman, clubhouse dengan konsep co-working space dan fasilitas lainnya. Sehingga kini, lingkungan rumah tidak lagi sekedar tempat singgah untuk beristirahat dalam beberapa jam, tapi berubah fungsi menjadi 24 hours home.

Direktur PT Summarecon Agung Tbk, Benyamin mengatakan, pengembangan Summarecon Bogor akan sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat saat ini yaitu hidup di lingkungan yang sehat dalam harmoni keseimbangan alam bahkan dalam kondisi panca pandemi mendatang. Penghuni di Summarecon Bogor dapat menikmati manfaat lingkungan dan udara yang sehat juga iklim yang sejuk.

"Kelebihan lainnya adalah pemandangan 4 gunung, yaitu Gunung Salak, Gunung Gede, Gunung Pangrango dan Gunung Pancar serta diapit dua lapangan golf 63 holes dengan luas kurang lebih 210 hektar yang tentunya menambah area terbuka hijau dan pemandangan lapangan golf yang indah," kata dia. 

Summarecon Bogor akan menawarkan dua tipe hunian kepada masyarakat, yaitu The Agathis Golf Residence yang melibatkan arsitek ternama Denny Gondo dan The Mahogany Residence hasil karya arsitek Hadiprana. Seluruh klaster hunian habis terjual dalam waktu kurang dari sepekan.

"Dalam waktu dekat, kami akan launching dua klaster lagi, The Pinewood Residence dengan design Modern Tropical dan The Rosewood Gold Residence yang merupakan hunian dengan panorama indah gunung dan lapangan golf," jelas dia.

Kluster baru ini, diprediksi dipasarkan mulai harga Rp1,3 miliar hingga Rp3,1 miliar. 

Pria yang akrab disapa Ben ini menjelaskan, Summarecon Bogor dikembangkan di atas lahan seluas 500 hektare. Besaran luas ini sangat ideal untuk dikembangkan sebagai kota mandiri. 

Hadir di lokasi yang sangat strategis, bersisian dengan Kota Bogor dapat dijangkau langsung melalui akses langsung pintu tol Bogor Selatan yang terhubung dengan Tol Jagorawi, serta dapat pula diakses dari kota Bogor.

"Summarecon akan mengembangkan kota baru di Bogor karena kawasan ini memiliki potensi yang luar biasa baik dari alam maupun pasarnya," lanjut dia.

Summarecon Bogor memiliki konsep yang berbeda, yaitu membangun kota mandiri yang baru untuk first home family, agar hidup dengan environment yang baru, yaitu pemandangan yang indah, udara yang sehat dan segar, dan juga akses yang sangat baik. Pengembangan Summarecon Bogor diperkirakan menelan investasi mencapai Rp20 Triliun. Dalam hal ini, PT Summarecon Agung Tbk bekerjasama dengan Honda Imora dengan komposisi saham masing-masing 51% : 49%. Diperkirakan, pengembangan Summarecon Bogor mencapai 15 tahun dan akan dihuni 35 ribu jiwa. (R-3)

BERITA TERKAIT