05 October 2021, 10:49 WIB

IHSG Diperkirakan Melemah Seiring Tekanan Sentimen Global


 Fetry Wuryasti | Ekonomi

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa (5/10) dibuka pada level 6.337,33. Pergerakannya berpotensi melemah akibat tekanan yang datang dari bursa global dan regional. Pagi ini indeks Kospi dibuka melemah -1,06%, begitu pula Nikkei yang melemah -2,1%.

"Memasuki kuartal IV-2021, investor mulai berspekulasi akan window dressing. Pergerakan masih dibayangi sentimen global di mana Amerika Serikat akan segera menjalankan tapering. Sementara dari dalam negeri masih minim sentimen," Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma, Selasa (5/10).

Semalam, bursa AS ditutup melemah; Dow Jones turun -0,94%, S&P 500 melemah -1,3%, Nasdaq melemah -2,14%, seiring dengan banyaknya investor yang memilih menunggu rilis data ekonomi AS.

Sejumlah data yang akan dirilis malam ini antara lain data neraca dagang, Markit Services PMI, dan Market Composite PMI AS.

"Kekhawatiran terkait gangguan distribusi dan inflasi, perdebatan yang masih berlanjut mengenai plafon utang pemerintah AS, serta pergerakan yield US Treasury juga menjadi sejumlah faktor yang mempengaruhi pasar. Yield UST 10Y terpantau berada di level 1,49%, sementara indeks dolar AS berada di angka 93,8," kata Suria.

Dari dalam negeri, pemulihan ekonomi pada semester II-2021 menjadi harapan pelaku usaha guna memperbaiki kinerja dan kembali melakukan ekspansi bisnis.

Saat ini industri perbankan menjadi garda terdepan dalam pemulihan ekonomi nasional dimana kinerja dari kualitas asset dan pertumbuhan kredit mencuri perhatian para pelaku pasar.

OJK mencatat pertumbuhan kredit per Agustus telah mencapai 1,16% YoY dan 1,91% (ytd). Secara sektoral, kredit sektor rumah tangga mencatatkan kenaikan terbesar secara bulanan yakni sebesar Rp 4,8 triliun.

Perbankan tercatat akomodatif dalam penyaluran kredit untuk mendukung produk dan komoditas berorientasi ekspor yang tumbuh sebesar 4,92% (ytd), sehingga turut mendorong surplus neraca perdagangan Indonesia.

Seiring dengan perbaikan pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan kredit perbankan kembali positif sejak bulan Juni sampai Agustus. Hal tersebut juga tercermin pada pertumbuhan kredit perbankan.

"Saat ini pendapatan berbasis komisi atau fee based income menjadi fokus para pelaku industri perbankan, guna mendukung dalam mencetak laba yang lebih optimal dan mengurangi tekanan pendapatan akibat kondisi-kondisi tertentu," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus.

Penurunan NIM dan naiknya risiko kredit tetap ada namun digitalisasi berpotensi untuk membuat margin bisnis dapat lebih besar dimana fee based income dari berbagai platform dinilai dapat mendukung produk – produk perbankan terdistribusi lebih cepat.

Di sisi lain, pertumbuhan eksponensial transaksi digital karena sentimen pandemi diharapkan mampu mendorong nasabah untuk mengoptimalkan pemanfaatan layanan digital yang dimiliki perbankan.

Melihat kinerja yang masih optimal dan pertumbuhan kredit yang telah menunjukkan adanya korelasi dari pemulihan ekonomi.

"Kami melihat saat ini perbankan akan tetap menjaga pendapatan berbasis komisi dari segmen ritel utamanya banyak datang dari bisnis wealth management seperti bancassurance, reksadana, obligasi, dan transaksi valas," lata Nico. (Try/OL-09)

BERITA TERKAIT