04 October 2021, 13:49 WIB

Didorong Sentimen Global dan Regional, IHSG Diperkirakan Menguat


 Fetry Wuryasti | Ekonomi

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin (4/10), dibuka pada level 6.234,79 dan menguat 1,52% hingga level 6.329,57 di perdagangan sesi I.

"Pagi ini indeks bursa Kospi tutup, sedangkan Nikkei dibuka menguat +0,86%. Kami memperkirakan IHSG akan bergerak menguat, seiring dengan sentimen positif dari pergerakan bursa global dan regional. Kami memperkirakan investor dalam negeri juga akan memperhatikan rilis data ekonomi cadangan devisa Indonesia, serta PMI composite dan tingkat pengangguran di AS," kata Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma, Senin (4/10).

Pada penutupan pekan lalu (1/10), pasar AS bergerak menguat. Index Dow Jones naik +1,43%, S&P 500 menguat +1,15%, Nasdaq menguat +0,82%.

Isu yang kemungkinan akan menjadi perhatian pelaku pasar pekan ini antara lain pembahasan plafon utang AS, arah kebijakan The Fed, serta pergerakan yield obligasi pemerintah AS. Yield UST 10Y turun ke level 1,48%, begitu juga dengan USD index yang turun -0,16% ke level 94,1.

Pasar komoditas terpantau bergerak bervariasi Jumat lalu; minyak WTI naik +0,92% ke level USD 73,9/bbl, sementara Brent justru melemah -0,6% ke level USD 78/bbl. Harga batubara menguat +4,59% ke level USD 228/ton, nikel menguat +0.4% ke level USD 19.215/ton, dan CPO turun -1,7% ke level MYR 4.751/ton. Harga emas terpantau melemah -0,2% ke level USD 1.753/toz.

Rilis data manufaktur bulan September yang berada di atas ekspektasi cukup mengindikasikan adanya pemulihan dari sektor manufaktur di bulan September. Pelonggaran aktivitas memberikan dampak positif pada aktivitas bisnis.

PMI Manufaktur Indonesia untuk bulan September tercatat berada pada 52,2 lebih tinggi dari periode Agustus yang berada pada 43,7.

"Penanganan pandemi menjadi tolok ukur dari pelaku usaha untuk menentukan target produksi dimana naiknya konsumsi menjelang akhir tahun menjadi harapan dari keputusan tersebut," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Indonesia Maximilianus Nico Demus.

Konsumsi barang nonesensial dinilai akan terpacu seiring capaian indeks manufaktur Indonesia pada September 2021 yang kembali ekspansif. Di lain sisi, BPS melaporkan terjadinya deflasi pada bulan September sebesar -0,04% MoM.

Hal ini didorong oleh penurunan harga pada sejumlah komoditas pangan, seperti telur ayam ras sebesar -0,07%, cabai rawit -0,03%, dan bawang merah -0,03% MoM.

Sejalan dengan itu, inflasi inti pada September 2021 lebih rendah dari bulan Agustus. Namun jika mengacu pada inflasi sepanjang tahun 2021 terdapat kenaikan sebesar 1,6% YoY. Inflasi diproyeksikan tetap terjaga rendah hingga kuartal IV 2021 berakhir.

Meskipun ada potensi inflasi dapat naik pada momentum natal dan tahun baru, namun ruang kenaikannya lebih terbatas.

Kenaikan inflasi pada kuartal IV-2021 lebih dikarenakan demand pull inflation dimana pelonggaran dari pembatasan aktivitas juga diiringi oleh pola musiman.

"Perkiraan kami menunjukkan inflasi pada akhir 2021 bisa lebih rendah dari perkiraan kami sebesar 2,5%. Kami melihat masih ada peluang inflasi tahun ini berada di atas realisasi inflasi 2020 sebesar 1,8%," kata Nico.

Beberapa faktor yang dapat menahan tekanan inflasi di sisa 2021 adalah harga emas, insentif pajak, dan pemulihan ekonomi yang lebih bertahap, serta risiko tapering the Fed.

Di samping itu, pemerintah telah memutuskan untuk memperpanjang diskon 100% PPnBM kendaraan bermotor hingga akhir tahun.

"Lainnya, tekanan inflasi dari cost-push inflation di tengah tingkat indeks harga perdagangan besar sudah berada di atas inflasi dan tekanan dari peningkatan jumlah uang beredar dinilai masih dapat dikendalikan," kata Nico. (Try/OL-09)

BERITA TERKAIT