29 September 2021, 19:38 WIB

Dorong Industri Pariwisata, Bobobox ajak Milenial Berinvestasi dengan di Sektor Proptech


Ghani Nurcahyadi | Ekonomi

DATA terbaru dari Badan Pusat Statistik masih menunjukkan lemahnya geliat industri pariwisata dengan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia dari Januari hingga Juli 2021 tercatat turun sebesar 71,42 persen menjadi 937,75 ribu kunjungan dibandingkan 3,28 juta kunjungan pada periode yang sama tahun sebelumnya. 

Di tengah sulitnya menjaring wisatawan mancanegara akibat global pandemi yang masih menerpa, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif kini menggiatkan upaya mendongkrak wisatawan nusantara dengan semangat tetap menjaga protokol kesehatan. 

Direktur Event Daerah pada Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Wisata Kemenparekraf Reza Pahlevi mengatakan momentum membangkitkan destinasi wisata di dalam negeri adalah dengan mengedepankan destinasi yang paling bisa menjaga protokol kesehatan. 

Sebagai salah satu pemangku kepentingan di sektor pariwisata, Bobobox, yang tengah giat mengembangkan hunian pariwisata berbasis modular menawarkan skema investasi menarik untuk mengajak kaum milenial menjadi bagian dari perjalanan bisnis perusahaan property-technology (prop-tech) ini, selain juga berkontribusi membangkitkan sektor pariwisata.  

Berawal dari jasa layanan unik dengan kapsul modularnya yang menawarkan teknologi canggih, kini Bobobox telah mengelola 17 cabang di seluruh nusantara dengan berbagai jenis fasilitas mulai dari Bobohotel (Bobobox pods), Boboliving hingga Bobocabin. 

Selain terus berekspansi membangun jaringan dengan pendanaan sendiri, Bobobox juga membuka opsi kemitraan, baik dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pihak swasta maupun individu.  

Co-founder Bobobox Antonius Bong menjelaskan pihaknya menawarkan skema kerja sama yang memberi kesempatan kepada masyarakat, terutama investor pemula, untuk menikmati hasil dari Bobocabin, yakni fasilitas hunian pariwisata berbasis modular untuk berbagai macam keperluan.  

“Kita ingin mendemokratisasi pasar agar publik dapat menikmati hasil dari sektor ini. Kita telah berhasil membuktikan di berbagai lokasi Bobocabin di mana kita selalu overbooked meskipun di tengah masa pandemi,” ujarnya.  

Awalnya, Bobobox menghitung total kebutuhan investasi untuk Bobocabin adalah sekitar Rp15 Miliar untuk satu lokasi. Angka tersebut memang tidak sebesar kebutuhan ratusan miliar rupiah yang diperlukan, misalnya, untuk mendirikan hotel bintang tiga dan empat.  

Dari angka Rp15 miliar tersebut Bobobox sudah menginvestasikan sebagian besarnya untuk berbagai fasilitas di lokasi, tetapi tetap menyisakan ruang investasi di sekitar Rp6 miliar sampai Rp7 miliar untuk investor pemula. 

“Itu yang kita tawarkan. Namun angka tersebut tentunya bukan nilai kecil untuk investor pemula. Itu sebabnya kita membuat suatu skema di mana investor pemula bisa ikut berkontribusi dan memiliki bagian dari Bobocabin,” kata co-founder startup yang akrab dipanggil Anton ini. 

Mirip dengan skema crowd-funding, kini Bobobox menawarkan skema kerja sama yang sedang digandrungi kalangan millenial. Angka minimum investasi di Bobocabin adalah di kisaran Rp50-60 juta dengan masa kerja sama selama 5 tahun.  

“Jadi kalau investasi Rp50 juta, di akhir tahun ke lima diharapkan dapat expected return Rp100 juta itulah yang kita tawarkan,” kata Anton. 

Hal ini tentunya jauh lebih menguntungkan dibanding berinvestasi di sektor perbankan. Suku bunga deposito, misalnya, hanya menawarkan rata-rata sekitar 2,75 persen per tahun.  

Dibanding investasi di pasar finansial, atau bahkan di aset kripto, investasi di Bobocabin menawarkan aset dan bisnis yang lebih mudah dikalkulasi dan diprediksi resikonya karena lokasi yang ditawarkan memang memiliki bisnis yang sudah berjalan sehingga dapat dihitung potensi penghasilannya. 

Horizon investment yang lebih singkat, dan payback period yang lebih cepat merupakan tipe investasi yang banyak diminati kaum millenial, kata Anton.  

“Investasi di sektor riil yang setara dengan yang kita tawarkan adalah investasi di food and beverages, namun perlu diingat bahwa berbisnis F&B memiliki beberapa kerentanan karena berhubungan dengan tren, konsep dan kompetisi,” kata Anton.  

“Sedang di bisnis pariwisata, sejak dulu memang menawarkan imbal hasil yang cukup konsisten. Ditambah lagi, lokasi yang kita tawarkan adalah lokasi yang sudah berjalan, bukan lokasi tanah kosong yang belum berjalan bisnisnya. Kita sudah melakukan investasi dan mampu menunjukkan return yang baik, lalu kita coba tawarkan,” imbuh Anton.  

Bobocabin menawarkan konsep elevated-camping yang mengusung pengalaman baru berkemah dengan memadukan kenyamanan fasilitas hunian, penggunaan teknologi Internet of Things (IoT) dan keindahan alam sekitar.  

Fasilitas itu tidak hanya menjadi alternatif liburan, tetapi juga bisa untuk self-healing, bahkan tempat berlibur dan bekerja.  

Baca juga : PHRI Klaim Pengusaha Pariwisata Belum Ada yang Bangkrut selama Pandemi 

Ke depan, kata Anton, bahkan Bobocabin sudah dapat di book untuk acara wedding, maupun pre-wedding. “Ini tentunya lebih menarik, lebih dekat dengan alam, private, dan tentunya jauh lebih murah dibanding, misalnya menyewa ballroom hotel berbintang.”

Sebagai pengelola tempat wisata dan beberapa fasilitas akomodasi, Bobobox sudah diakui, tidak hanya oleh investor global, bahkan juga oleh pemerintah.  

Pada Mei 2020, Bobobox berhasil mendapatkan investasi Series A dengan total US$11,5 juta dari berbagai investor global besar seperti Horizons Ventures dan Alpha JWC Ventures dan investor eksisting dan baru seperti Kakao Investments, Sequoia Surge, Investidea dan Mallorca Investments. 

Hal ini membuat Bobobox mampu membidik daerah di luar Pulau Jawa untuk ekspansinya.  

Yang terkini adalah di Sumatera Utara, di mana Bobobox menawarkan kerjasama Bobocabin di kawasan yang dikelola Badan Otorita Danau Toba. Lokasi ini merupakan ekspansi Bobobox untuk produk Bobocabin yang sebelumnya hanya tersedia di Ranca Upas, Kabupaten Bandung dan Cikole, Kabupaten Bandung Barat. 

Bahkan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno, pada bulan Juli lalu sempat meninjau proses pembangunan fasilitas Bobobox di kawasan tersebut. 

Anton mengatakan skema investasi untuk investor pemula harus dirancang untuk menawarkan kesempatan berinvestasi di aset yang memiliki risiko lebih rendah, terukur, yield yang menarik, sambil berkontribusi dalam pemulihan pariwisata di Indonesia.  

“Karena bisnisnya sudah berjalan dan product market fit nya sudah tervalidasi,” ungkapnya.  

Pada sebuah acara virtual yang diadakan bulan Agustus lalu, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti pernah mengatakan angka terkini menunjukkan baru sekitar tiga juta dari 70 juta anak-anak milenial yang berinvestasi di sektor finansial.  

Angka tersebut masih dipandang sangat sedikit jika dibanding misalnya Hongkong yang lebih banyak generasi milenialnya telah berinvestasi.  

Banyak pakar mengatakan kaum milenial di Indonesia, yang lebih melek literasi finansial, memang menunggu produk investasi yang memberi hasil cepat dan menawarkan risiko yang relatif rendah. 

Selain menawarkan investasi di Bobocabin kepada investor pemula, Bobobox juga menawarkan skema kemitraan, baik dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pihak swasta maupun individu pemilik lahan.  

“Syaratnya minimal memiliki 1-1.5 hektar lahan, yang terletak di area yang memiliki pemandangan yang sangat baik atau potensial untuk dijadikan kawasan wisata,” 

“Lahan-lahan yang kami targetkan kebanyakan sebelumnya adalah bisa dibilang idle atau kurang menghasilkan, atau mereka berada di sebuah kawasan wisata alam, yang menurut kami sangat underappreciated,” kata Anton.  

Kerja sama pengelolaan lahan, dicontohkan Anton, telah berhasil meningkatkan pemasukan dari lahan tersebut dengan didirikannya Bobocabin karena harga jual penginapan di fasilitas yang berada di lahan tersebut dapat terdongkrak jauh, jika dibanding mengandalkan tiket menginap di tenda atau perkemahan. 

Hal yang sama juga telah menguntungkan pihak Otorita Danau Toba dengan kerja sama yang sudah terjalin dengan perusahaan startup ini. Untuk pihak swasta, maupun individu pemilik lahan yang tertarik bekerja sama dengan Bobobox, maka tim survei perusahaan akan membuat beberapa check list, diantaranya potensi pariwisata, akses jalan, listrik, akses internet, akses air bersih dan berbagai hal lainnya untuk dinilai apakah layak dikonversi menjadi Bobocabin.  

“Kami sangat welcome bukan hanya dari pemerintahan tapi juga dari individu dan swasta untuk bekerja sama dengan kami. Tentunya di mana kami berada pun kita selalu menggandeng UMKM sekitar,” kata Anton. 

Misalnya, dengan keberadaan Bobocabin, tentunya ekonomi sekitar, mulai dari usaha makanan, usaha aktivitas, usaha tour guide, yang disediakan oleh pemain lokal pun ikut terbantu dengan banyaknya aktivitas wisatawan di lokasi tersebut. 

“Kami ingin memberi solusi yang bisa jadi bagian dari gaya hidup, yang merupakan kebutuhan primer namun belum terfasilitasi maksimal,” ungkap Anton.  

Untuk yang tertarik berinvestasi dan bekerjasama dapat mengirimkan data diri dan kontak ke partnership@bobobox.co.id. (RO/OL-7)

BERITA TERKAIT