29 September 2021, 11:16 WIB

Kementerian ESDM Gelar Penghargaan Subroto untuk Keempat Kalinya di 2021


Despian Nurhidayat | Ekonomi

MEMPERINGATI Hari Jadi Pertambangan dan Energi ke-76, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menganugerahkan Penghargaan Subroto 2021 kepada para stakeholder yang turut berperan aktif membangun sektor energi dan mineral dalam satu tahun terakhir. Dalam penyelenggaraan Penghargaan Subroto kali keempat di tahun 2021 ini, Arifin menegaskan bahwa sektor ESDM memiliki peran penting dalam perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Besarnya kontribusi ini, sambung Arifin, ditunjukkan pada penerimaan negara hingga Juli 2021 telah mencapai Rp141 triliun atau lebih tinggi 103% dibanding periode yang sama tahun lalu. Sementara, investasi ESDM sudah mencapai US$ 12,3 miliar.

"Di tengah kondisi pandemi yang mulai terkendali, kinerja sektor ESDM semakin bangkit dan menunjukkan peningkatan," ungkapnya dalam acara Penganugerahan Penghargaan Subroto 2021 secara virtual, kemarin.

Untuk mencapai hal tersebut, Kementerian ESDM telah melakukan beberapa perubahan kebijakan strategis. Misalnya terwujudnya transisi energi menuju energi bersih, ramah lingkungan, dan rendah karbon.

"Apa yang disampaikan Bapak Subroto, hampir seluruh Negara di dunia telah berkomitmen mengatasi perubahan iklim melalui Paris Agreement. Dalam roadmap net zero emission, kami menargetkan 100% pembangkit EBT bisa terwujud lebih cepat dari 2060," tegas Arifin.

Guna mendukung hal tersebut, pemerintah sedang finalisasi regulasi terkait harga EBT agar lebih menarik investor, implementasi Peraturan Menteri ESDM terkait Pembangkit Listrik Tenaga Surya Atap hingga pelaksanaan program government drilling panas bumi menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) demi mengurangi risiko investasi.

Pemerintah juga tak lupa mendorong peran generasi muda untuk mempercepat EBT, antara lain melalui Program Patriot Energi, dan Gerakan Insiatif Listrik Tenaga Surya atau GERILYA.

"Kami berharap para pelaku usaha energi juga semakin aktif mendukung program transisi energi menuju net zero emission dengan berbagai strategi. Transisi energi harus menjadi komitmen kita bersama," tuturnya.

Sementara itu di bidang Migas, kontrak bagi hasil migas dibuat lebih fleksibel, yaitu skema gross split atau skema cost recovery. Selain itu, demi menarik investasi hulu migas, berbagai insentif telah disiapkan, antara lain telah diberikan untuk Blok Mahakam 3 bulan lalu.

"Bulan Agustus 2021 lalu, Blok Migas Rokan, salah satu blok migas terbesar Indonesia juga secara resmi telah dikelola Negara melalui Pertamina," ujar Arifin.

Tak hanya itu, pemerintah terus menjalankan program yang bersentuhan langsung dengan rakyat, antara lain Program BBM Satu Harga yang ditargetkan lebih dari 580 titik hingga tahun 2024.

Di bidang mineral dan batubara, telah dikeluarkan kebijakan yang menjaga kepastian pemanfaatan batubara untuk menjaga ketahanan energi domestik, khususnya pembangkit listrik.

"Kebijakan pemanfaatan mineral diarahkan untuk peningkatan nilai tambah, utamanya nikel sebagai salah satu material pendukung baterai kendaraan listrik," ucaonya.

Adapun terkait rasio elektrifikasi, hingga saat ini telah mencapai 99,4%, dan tahun depan ditargetkan seluruh rumah tangga telah teraliri listrik 100%. Semua pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, migas, maupun pengolahan dan pemurnian mineral dan batubara terus dipercepat untuk mencapai ketahanan dan kedaulatan energi.

Di tempat yang sama, Menteri Pertambangan dan Energi Periode 1978-1988 Subroto menambahkan bahwa saat ini Indonesia harus mulai memikirkan apa yang akan dilakukan setelah melewati kondisi pandemi covid-19.

"Jadi, kita sekarang dalam masuki transisi energi itu berhadapan dengan tiga masalah. Pertama pengurangan emisi, kedua kerusakan lingkungan dan kecepatan untuk bisa menggunakan sumber daya EBT menggantikan fosil fuel. Bukan pekerjaan yang gampang, di dalam hal ini khususnya Kementerian ESDM yang menjadi pelopor dalam mengajak pemerintah pusat, daerah, perusahaan untuk bisa menghadapi tantangan yang ada di depan kita, terutama mengenai lingkungan," ujar Subroto.

"Kita percaya untuk bisa mencapai tahun 2045 sebagai negara maju, kita membutuhkan pertumbuhan ekonomi, tidak hanya cukup 5%, tapi kita harus 7%. Jadi, marilah kita memohon kepada yang maha kuasa agar kita diberi kekuatan dengan peningkatan iman, imunitas dan keamanan. Kita bisa mencapai kemenangan lagi," pungkasnya.

Perlu diketahui, Penghargaan Subroto kali ini adalah gelaran keempat yang dilangsungkan pertama kali sejak tahun 2017 dan merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian ESDM dengan United Nations Development Programme (UNDP). Nama Subroto diambil dari Prof. Subroto selaku Menteri Pertambangan dan Energi periode 1978 - 1988.

Pemenang dari penghargaan di antaranya sebagai berikut:

1. Bidang Keselamatan Minyak dan Gas Bumi
Pertamina, PetroChina, PGN, ExxonMobil, Badak LNG dan lainnya.

2. Bidang PNBP dan Kinerja Keuangan Hulu Minyak dan Gas Bumi
ExxonMobil, PremierOil, MedcoEnergi

3. Bidang Pengusahaan Panas Bumi
EnergyGheothermal, Pertamina, SupremeEnergi dan lainnya

4. Bidang Kinerja Badan Usaha Bahan Bakar Nabati
Wilmar

5. Bidang Efisiensi Energi
Pertamina, Summarecon, Sinarmas Land, Unilever, PLN dan lainnya

6. Bidang Keselamatan Ketenagalistrikan
Pembangkit Jawa Bali dan PLN

7. Bidang PNBP Mineral dan Batubara
Kaltim Primal Coal, Freeport Indonesia, Bukit Asam, Antam dan lainnya

8. Bidang Inovasi Aspek Teknik dan Lingkungan untuk Kaidah Pertambangan
BerauCoal dan SIG

9. Bidang Konservasi Geologi dan Mitigasi Bencana Geologi
Kabupaten Gunungkidul dan Kabupaten Garut

10. Bidang Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia Sektor ESDM
MedcoEnergi, Pertamina dan AdaroService

11  Bidang Wartawan Energi
Harian Pontianak, Media Indonesia dan Liputan6.com  (OL-13)

BERITA TERKAIT