28 September 2021, 21:56 WIB

Percepat Industrialisasi, Petani Bawang Merah Probolinggo Siap Berkorporasi


mediaindonesia.com | Ekonomi

PEMBENTUKAN korporasi petani bawang merah, sangat penting untuk dilakukan. Karena, korporasi dapat melakukan percepatan peningkatan produksi dan ekspor pangan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin. 

Dengan alasan tersebut, para petani bawang merah di Probolinggo menyatakan siap berkorporasi.

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan, pengembangan komoditas pertanian baik tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan seperti bawang merah, kedelai, jagung dan kelapa harus dikelola dengan model korporasi petani. 

“Semua pelaku usaha nantinya mendapat manfaat dari program ini terutama peningkatan kesejahteraan petani, di mana petani memperoleh layanan sarana produksi dan modal, terlindungi asuransi dan ada kepastian pasar dan jaminan harganya,” ujar Mentan.

Ia menambahkan, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan agar petani dikorporasikan. 

"Petani ini kalau sudah clustering-nya dapat, kemudian tahapan berikutnya dikorporasikan. Artinya skala ekonomi itu harus ada. Tanpa itu kalau hanya kecil-kecil, tidak dalam skala ekonomi, tidak ada efisiensi di situ. Mengkorporasikan petani, mengkorporasikan BUMDes-nya dalam sebuah skala yang besar,” tuturnya.

Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Dedi Nursyamsi, mengatakan petani bawang merah harus berkorporasi.

"Tujuannya untuk mempercepat industrialisasi petani, peningkatan skala usaha dan daya saing produk, penguatan kelembagaan ekonomi petani dan kapasitas SDM, peningkatan penyediaan prasarana dan sarana pertanian, peningkatan kerja sama pemasaran, penguatan dukungan inovasi dan teknologi dan digitalisasi pertanian," ujar Dedi dalam keterangan yang diterima, Selasa (28/9).

Demikian halnya dengan komoditas bawang merah, Kabupaten Probolinggo merupakan salah satu sentra pengembangan bawang merah kedua di Jawa Timur setelah Kabupaten Nganjuk. 

Hampir 3,7% dari total produksi bawang merah nasional disumbang oleh Probolinggo dan menjadi salah satu daerah pemasok ekspor khususnya varietas biru lantjor.

Pengembangan usaha tani bawang merah masih mengalami banyak kendala, di antaranya skala usaha petani yang masih kecil, posisi tawar petani yang lemah, masih berkutat pada on farm dan peningkatan kesejahteraan petani yang lambat.

Oleh karena itu, gerakan mengkorporasikan petani melalui peningkatan skala usaha tani, daya saing dan industrialisasi hulu–hilir ini harus segera dilakukan.

Salah satu bentuk upaya untuk melakukan sosialisasi dan mempersiapkan sumberdaya manusia pertanian dalam pengembangan kelembagaan tani berbasis korporasi bawang merah di Kabupaten Probolingo, Jawa Timur, dapat ditempuh melalui pelatihan. 

Berlokasi di Kantor Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Probolinggo pelatihan yang diikuti oleh 30 orang petani tersebut dibuka secara resmi oleh Kadis Mahbub Zunaidi. 

Peserta berasal dari Kecamatan Dringu, Kecamatan Leces, dan Kecamatan Tegal Siwalan. Wilayah tersebut dipilih karena merupakan kawasan pengembangan bawang merah mulai dari hulu sampai hilir. 

Mulai dari petani yang bergerak dibidang perbenihan, budidaya hingga olahan bawang merah dihadirkan untuk membahas rencana pembentukan korporasi ke depan.

Materi yang diberikan disusun sedemikian rupa memperhatikan kebutuhan peserta mulai dari perencanaan usaha, strategi penumbuhan korporasi petani, kemitraan, analisis rantai nilai bawang merah, analisis kelayakan usaha dan pengenalan bisnis ekspor bagi pelaku usaha. 

Hasil pelatihan tersebut diharapkan mampu membentuk persamaan persepsi dan komitmen para pelaku usaha di bidang komoditas bawang merah di Kabupaten Probolinggo.

Sehingga, langkah selanjutnya dapat dilakukan koordinasi dan rembug di lokasi desa atau lingkungan unit usaha dengan unsur peserta  meliputi calon anggota, penyuluh pertanian, aparat desa, tokoh agama/masyarakat dan perwakilan poktan/gapoktan. 

Output kegiatan rembug tersebut adalah sosialisasi dan terbentuknya kelompok usaha bersama (KUB) dan pengurusnya serta model bisnis yang akan dibangun. (RO/OL-09)

BERITA TERKAIT