28 September 2021, 15:54 WIB

Kisruh Bikin Holding BUMN Perkebunan dari Pangkas Direksi hingga Utang


Insi Nantika Jelita | Ekonomi

PEMBENTUKAN PT Perkebunan Nusantara III atau PTPN (persero) sebagai Holding BUMN Perkebunan ternyata membuat para direksi di jajaran tersebut mengalami keributan perihal pemangkasan jabatan. Ini disampaikan langsung Menteri BUMN Erick Thohir.

"Saat konsolidasi PTPN III jadi holding, itu sempat ribut, ketika terjadi efisiensi. Ada PTPN I, II, IV sampai 12. Kalau direksinya tinggal satu, empat direksi dipotong. Ini yang terjadi," ungkap Erick dalam diskusi virtual, Selasa (28/9).

Menurutnya, penting bagi perusahaan BUMN untuk melakukan restrukturisasi dalam memperbaiki bisnis perusahaan pelat merah guna mencetak laba. Pasalnya, PTPN memiliki utang jumbo sebesar US$3,1 miliar atau sekitar Rp47 triliun.

Utang tersebut berasal dari 50 bank yang terdiri dari bank nasional, swasta, dan luar negeri. Tahapan konsolidasi perusahaan PTPN diyakini menjadi salah satu solusi dalam memperkecil utang tersebut.

"Padahal industri kebun kelapa sawit seharusnya untung, malah utang besar. Ini harus kita perbaiki juga. Kami ingin memperbaiki confidence kepada 50 bank ini. Jadi prosesnya ada tahapan-tahapan," sebutnya.

Efisiensi perusahaan perkebunan itu pun dinilai berjalan baik melalui refocusing kelapa sawit. PTPN yang tahun lalu rugi sebesar Rp1,6 triliun hingga Agustus 2020, saat ini untung Rp2,3 triliun sampai dengan Agustus 2021. 

Baca juga: Erick Thohir Cium Indikasi Korupsi di Krakatau Steel

"Ini ada loncatan lebih besar. Hal ini diikuti focusing gula (Sugar.co) yang selama ini gula kita untuk konsumsi terus impor. Bahkan ada permainan di sana sini," tandasnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT