28 September 2021, 14:17 WIB

Prospek Cerah Bank Digital


Fetry Wuryasti | Ekonomi

SEBAGAI model perbankan masa depan, bank digital perlahan mulai menyalip performa daripada bank-bank konvensional. Hal ini terlihat dari kapitalisasi pasar mereka di pasar modal, yang perlahan menyalip bank-bank besar.

Pada periode sepanjang tahun 2021 (year to date) hingga 24 September 2021, lima emiten bank kapitalisasi pasar terbesar dimiliki oleh Bank BCA (BBCA) Rp 803,7 triliun, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) Rp 571,5 triliun, Bank Mandiri (BMRI) Rp 276 triliun, Bank Jago (ARTO) Rp 218,8 triliun, dan Bank Negara Indonesia (BBNI) Rp 94,2 triliun.

Namun di antara kelima bank tersebut, hanya bank digital ARTO yang menunjukkan kinerja saham sepanjang tahun 270,9%, sementara bank konvensional lain berkinerja antara -2,7% pada BBCA hingga -17,4% pada BBNI.

Padahal secara modal inti, perbankan konvensional memiliki kocek yang matang. Merujuk laporan keuangan kuartal II-2021, yaitu modal inti BBRI sebesar Rp 197 triliun, BMRI sebesar 189 triliun, BBCA sebesar Rp 187 triliun dan BBNI sebesar Rp 116 triliun. Sedangkan modal ARTO Rp 7,88 triliun pada Juni 2021.

SVP Research Kanaka Hita Solvera Janson Nasrial mengatakan yang dilihat di dalam suatu valuasi perusahaan adalah ekspektasi laba bersih dan pendapatan perusahaan 5 tahun yg akan datang.

Jadi investor melihat potensi pertumbuhan laba bersih dan pendapatan 5 tahun yang akan datang. Investor lebih menyukai perusahaan yang pertumbuhannya tinggi dibanding perusahaan yang hanya membagi dividend (alias sudah mature).

Sehingga ARTO atau bank digital lain dalam hal market kapitalisasi, korelasinya ke ekspektasi laba bersih dan pendapatan lima tahun yang akan datang. ARTO lebih condong kepada bank digital, yang merupakan masa depan dari operasional perbankan. Model bank ini lebih sedikit cabang, dengan pelayanan yang lebih otomatis.

Baca juga :Bank Dunia : Ekonomi Indonesia akan Tumbuh 3,7% 

"Bank yang operasional sudah banyak digital, Return on Equity (ROE) dan Return on Asset (ROA) nya sangat tinggi, contoh BTPS (bank tabungan pensiun negara), lewat aplikasi Jenius, yang notabene besutannya Jerry Ng, yang sekarang menjalankan ARTO," kata Janson saat dihubungi, Selasa (28/9).

Sehingga dalam beberapa tahun ke depan, kinerja keuangam ARTO diekspektasikan tidak lagi merah, tetapi sudah membukukan pendapatan dan laba, ROE dan ROA tinggi seiring dengan persero yang banking operasionalnya semakin digital.

"Ini sudah kelihatan, di semester I-2021, rugi bersih ARTO menciut dan pendapatan tumbuh 400% (yoy). Akibatnya investor mereward performa growth tinggi tersebut dengan market kapitalisasi yang sangat besar, hampir 1,5% bobot terhadap IHSG," kata Janson.

Artinya kalau bank-bank konvensional yang modal intinya besar, tapi tidak segera mengejar pergorma digitalisasi seperti bank digital, market cap dan labanya nanti akan tersalip oleh model bank-bank digital masa depan ini.

"Mau tidak mau bank-bank yang modal inti ini harus migrasi bank digital sebagai cost efisiensi. Seperti saya katakan, masa depan bank adalah digitalisasi dan otomatisasi," kata Janson.

Kinerja saham bank digital lainnya, yang duduk di pasar modal juga menunjukkan performa yang melejit, seperti Bank Rakyat Indonesia Agroniaga (AGRO) yang sahamnya tumbuh 148,3% dengan kapitalisasi pasar Rp 55,2 triliun, Allo Bank Indonesia (BBHI) sahamnya tumbuh 845,8% dengan kapitalisasi Rp 46,4 triliun, dan Bank Aladin Syariah (BANK) yang sahamnya tumbuh 2.900% dengan kapitalisasi pasar Rp 40,5 triliun. (OL-2)

 

BERITA TERKAIT