28 September 2021, 10:20 WIB

Saham Asia Terseret Kejatuhan Evergrande


Muhamad Fauzi | Ekonomi

SAHAM-saham Asia sebagian besar melayang lebih rendah pada perdagangan Selasa pagi (28/9). Sebab investor terus khawatir atas krisis utang China Evergrande Group yang belum terpecahkan dan mengamati potensi dampak dari meluasnya kekurangan listrik di China.

Indeks MSCI dari saham Asia Pasifik di luar Jepang turun 0,13 persen, setelah sesi beragam di Wall Street.

Pada awal perdagangan Selasa, indeks acuan S&P/ASX200 Australia turun hampir 1,0 persen, sementara indeks Nikkei Jepang turun 0,6 persen.

Indeks saham unggulan China CSI300 naik tipis 0,1 persen pada pembukaan, dan Indeks Hang Seng Hong Kong menguat 0,44 persen.

Masa depan Evergrande, pengembang properti paling berutang di dunia, sedang diteliti secara forensik oleh investor setelah perusahaan pada Jumat (24/9/2021) lalu tidak memenuhi tenggat waktu untuk melakukan pembayaran bunga kepada pemegang obligasi luar negeri.

Evergrande memiliki waktu 30 hari untuk melakukan pembayaran sebelum jatuh ke gagal bayar. Otoritas Shenzhen sekarang sedang menyelidiki unit manajemen kekayaan perusahaan.

Tanpa mengacu pada Evergrande, Bank Sentral China (PBOC) mengatakan Senin (27/9/2021) dalam sebuah pernyataan yang diposting ke situs webnya bahwa mereka akan "menjaga hak-hak sah konsumen perumahan".

Sementara itu, meluasnya kekurangan listrik di China menghentikan produksi di sejumlah pabrik termasuk pemasok untuk Apple Inc dan Tesla Inc, serta diperkirakan akan memukul sektor manufaktur negara itu dan rantai pasokan terkait.

Analis memperingatkan pemadaman yang sedang berlangsung dapat mempengaruhi saham industri yang tercatat di negara itu.

"Apa yang kita lihat di China dengan para pengembang dan pemadaman listrik akan menjadi beban negatif di pasar Asia," Tai Hui, kepala strategi pasar Asia JPMorgan Asset Management mengatakan kepada Reuters seperti dikutip LKBN Antara.

"Kebanyakan orang mencoba mencari tahu potensi efek penularan dari Evergrande dan seberapa jauh dan luasnya. Kami terus memantau respons kebijakan dan kami mulai melihat beberapa pergeseran ke arah mendukung pembeli rumah yang kami harapkan."

Di perdagangan Asia, dolar naik hampir 0,1 persen sejalan dengan kinerjanya di sesi internasional Senin (27/9/2021) setelah naik bersamaan dengan imbal hasil obligasi. (OL-13)

Baca Juga: Tepis Isu Jagung Langka, Mentan Cek Stok Jagung Pabrik Pakan

BERITA TERKAIT