27 September 2021, 23:00 WIB

KSP: Generasi Muda Harus Kenali Baik dan Buruknya Sawit 


Andhika Prasetyo | Ekonomi

DEPUTI II Kepala Staf Kepresidenan, Abetnego Tarigan meminta generasi muda mengenali baik dan buruknya industri sawit. 

Sebagai salah satu komoditas penopang perekonomian, pemahaman terhadap sawit tentu menjadi sangat penting. 

"Kenapa kita harus tahu sisi buruknya? Agar kita bisa melakukan pembenahan dan pengembangan industri sawit yang lebih baik lagi di masa depan," ujar Abetnego melalui keterangan tertulis, Senin (27/9). 

Ia pun mengapresiasi upaya berbagai pihak terutama pelaku usaha yang berinisiatif menyelenggarakan Sawit Fest 2021 sebagai ajang literasi sawit bagi kaum milenial. 

Sawit Fest 2021 merupakan kegiatan pengenalan komoditas melalui berbagai perlombaan mulai dari fotografi, desain poster, esai dan video kreatif. 

“Lomba ini dimaksudkan untuk memberi literasi tentang kelapa sawit. Melalui acara ini, banyak orang yang mulai paham mengenal sektor kelapa sawit dengan baik," tuturnya. 

Baca juga : Tepis Isu Jagung Langka, Mentan Cek Stok Jagung Pabrik Pakan

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2020 sektor minyak sawit dan turunannya menyumbangkan devisa sebesar US$21,04 miliar. 

Kelapa sawit juga mampu menyerap sekitar 16 juta pekerja dengan rincia sebanyak 4,2 juta pekerja lagsung dan sekitar 12 juta pekerja tidak langsung. 

Direktur Kemitraan BPDPKS Edi Wibowo mengungkapkan besarnya manfaat sektor sawit merupakan keberhasilan bagi seluruh pemangku kepentingan. 

Keberadaan minyak sawit memberi efek positif terhadap pertumbuhan ekonomi kerakyatan. 

"Dari berbagai pelosok desa, kota/kabupaten, provinsi, hingga pusat, geliat ekonomi sawit telah banyak memberikan manfaat luar biasa. Industri sawit nasional dari hulu hingga hilir memiliki peranan penting bagi pembangunan nasional," ucap Edi. 

Lebih jauh lagi, sawit juga telah membantu Indonesia mewujudkan kemandirian energi melalui pengembangan bahan bakar nabati atau biodiesel. Kebijakan tersebut mampu menghemat devisa negara karena impor atas solar bisa dipangkas hingga US$8 miliar per tahun. (OL-7)

BERITA TERKAIT